Selasa, 03 Juni 2014

Nothing last forever

Para ahli memperkirakan bila sebuah kaset diputar 100 kali set,maka kualitas suaranya akan berkurang setelah berumur sepuluh tahun.
Rata-rata sepatu lari bisa tahan dipakai pelari di medan standar sekitar 500-800 km.
Sebatang pensil bisa dipakai menulis sebuah garis sepanjang 48 km.
Kebanyakan pulpen bisa di pakai untuk menggaris garis sepanjang 1200 hingga 2300 m.
Sebuah lampu pijar 100 watt akan bertahan sekitar 750 jam,dan yang 25 watt bisa tahan sekitar 2500 jam.

Pria paling panjang umur yang tercatat di Alkitab adalah Metusalah hingga 969 th.
Sedangkan menurut penelitian modern,umur maksimal manusia hanya mencapai 113 hingga 214 th.
Manusia tertua yang pernah tercatat dalam rekor Guiness World Record berusia 122 th.
Rata-rata umur manusia seperti kita yang hidup di jaman sekarang ini berkisar antara 70-80 th.
Nah sekarang pertanyaan bagi kita: "Berapa usia kita sekarang dan kira2 berapa lama lagi sisa hidup kita di bumi ini?
Meski kita tidak pernah bisa menentukan umur hidup manusia,namun hendaknya fakta di atas memberi kita kesadaran akan betapa fananya kehidupan di bumi ini.

Umur tubuh kita ada batasnya.
Hidup di bumi ini bukanlah untuk selama-lamanya.
Akan tiba waktunya ketika kita harus meninggalkan hidup kita di bumi untuk masuk ke kehidupan yang jauh lebih indah di sorga.
Namun,selagi kita hidup di dunia ini,sudahkah kita memberi arti bagi Tuhan dan sesama?
Seperti sepatu pelari yang aus karena dipakai menempuh jarak semaksimal yang bisa ditempuhnya,sudahkah kita mengijinkan Tuhan memakai kita secara maksimal sebagai perpanjangan tangan-Nya?
Ibarat bola lampu yang akan terus menyala memberi terang sampai putus kawatnya,sudahkah kita memberi dampak positif bagi sesama dan membuat hidup orang lain lebih berarti?
Kalau kita masih di beri nafas hingga hari ini,itu berarti belum terlambat untuk menjadikan hidup ini lebih berarti,minimal buat orang2 di sekitar kita.

Filipi 1:22
Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini,itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih,aku tidak tahu.
Gbu all...

Senin, 02 Juni 2014

Hidup Yang Penuh Harapan

I Petrus 1: 3b

Tiba-tiba pintu ruang bersalin terbuka. Seorang dokter dengan pakaian khusus keluar. "Istri Anda dalam keadaan baik. Namun sayang keadaan bayinya membahayakan jiwa istri Anda. Ada satu hal yang harus Anda putuskan, keselamatan istri Anda atau bayinya. Saya tahu hal ini sulit, namun kami telah berusaha sekuat mungkin. Akhirnya kami harus menemui Anda, sebab keputusan Anda amat menentukan. Jika Anda sudah siap, silahkan kami dihubungi dan menandatangani formulir ini", setelah berkata demikian dokter tersebut memeluk bahu pria yang diajak bicara.

Sorot matanya di balik kaca mata yang tebal memberi semangat pada pria yang tubuhnya gemetar.
Rata Penuh
Pria yang sedari tadi gelisah, sekarang bertambah gemetar setelah menerima berita yang meluncur dari mulut dokter yang memeluknya.

Wajahnya jadi pucat seperti mayat. Butiran keringat dingin sebesar kacang kedelai bermunculan di dahinya. Mulutnya menganga, lidahnya kelu.

Matanya nanar. Setelah berusaha menelan ludahnya, ia berusaha mengeluarkan kata-kata.

"Dokkkkter, .....mmm. bbberi kesempatan saaaya untuk berdoa".
Kepala dokter tersebut menggangguk, tanda setuju.
Ruangan tunggu kelahiran bayi malam itu sepi menggigit, sinar lampunya nampak pudar.

Suasana saat itu bisu dingin menutupi tembok sekeliling ruangan itu. Pria itu kemudian tertunduk. Wajahnya ditenggelamkan atas kedua telapak tangannya yang menopangnya. Suara tangis tertahan bercampur kepedihan dan rasa takut menimbulkan suara yang keluar dari mulutnya seperti suara berguman, tidak jelas. Suasa kembali sunyi . Kemudian ia perlahan bangkit, berjalan menuju perawat yang berdiri menunggunya.

"Suster, katakan kepada dokter, istri saya perlu diselamatkan, sedapat-dapatnya selamatkan juga anak saya. Saya telah melihat harapan."

Suster itu hanya menggangguk, kemudian menyodorkan sehelai lembaran formulir. Setelah ditandatangani. Ia kembali menunggu.

Persalinan berlangsung sulit. Dokter berupaya mengeluarkan bayi dari dalam rahim wanita yang sudah mulai kehabisan tenaga. Dengan alat khusus, dokter tersebut mengupayakan kepala sang bayi dapat keluar terlebih dahulu. Namun tiba-tiba, crot.., darah segar muncrat disertai bola mata yang masih terikat ototnya keluar mengelantung, baru kemudian kepala bayi. Merasa berpacu dengan waktu, dokter makin berusaha keras untuk mengeluarkan seluruh tubuh bayi itu. Bunyi gemeretak tulang rawan bayi yang patah karena proses tersebut. Akhirnya, tubuh bayi yang mirip seonggok daging tersebut utuh keluar dari dalam rahim. Persalinanpun berjalan sampai tuntas.

Dokter segera memerintahkan seorang perawat agar membersihkan tubuh bayi tersebut dan segera dimasukkan kantong mayat. Namun Tuhan yang mendengar doa bertindak lain. Tubuh bayi yang masih berlumuran darah dibersihkan terlebih dahulu oleh perawat. Saat tangan sang perawat membersihkan tubuh bayi di bagian dada sebelah kiri, nampak denyut jantung yang lemah. Tanda kehidupan. Rupanya denyut yang lemah terlihat oleh sang perawat tersebut. Segera bayi tersebut di kirim ke ruang khusus.

Empat tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi seorang anak mirip monster hidup. Ia di beri nama William Cutts. Jika bayi normal, diusia sebelas tahun telah belajar berjalan, tidak demikian dengan William Cutts. Ia baru belajar merangkak seperti anjing. Kepala bagian kanan agak besar, matanya yang kanan rusak berat, tidak mungkin bisa melihat.

Bahunya miring. Menjelang remaja, jalannya miring seperti tiang hampir roboh. Dan kata dokter, otaknya tak akan sanggup berkembang alias tidak mungkin bisa belajar seperti manusia normal.

Sudut pandang dokter rupanya beda dengan kedua orang tuanya, mereka melihat harapan. Orangtuanya terus membesarkannya dengan penuh kasih sayang. "Kelak anakku akan dipakai Tuhan secara luar biasa, sebab aku yakin harapan itu ada", demikian doa kedua orangtuanya, setiap kali melihat William Cutts yang selalu kesulitan dengan menyelaraskan jalannya dengan bahunya. Tuhanpun mewujudkan harapan anak-anakNya.

Tepat pada waktuNya, William Cutts bersimpuh di kaki- Nya, satu ayat yang dipegangnya yang menjadi dasar panggilannya, "Justru di dalam kelemahan kuasa-Ku menjadi sempurna", II Korintus 12: 9. Inilah sumber pengharapan baginya.

Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan orang yang berharap kepada-Nya.

Tuhan pun membuktikan janjiNya. Apa yang tidak dipandang oleh dunia, dipakai Allah secara luar biasa. Dengan segala keterbatasannya, William Cutts maju untuk taat. Harapan demi harapan terkuak setelah ia taat melangkah.

Setelah menyelesaikan sarjananya di sekolah theologia, ia menjadi utusan misi ke Irian Jaya, Indonesia. Tuhan meneguhkan janjiNya, dalam kelemahan kuasa-Nyata nyata. Tiap langkah pelayanan William Cutts, Tuhan meneguhkan dengan mujizat-Nya. Semua ini diawali dengan orang yang melihat harapan dan mempercayai harapan di dalam Yesus itu pasti ada dan tidak pernah sia-sia.

William Cutts telah menyaksikan apa makna hidup di dalam pengharapan yang berlimpah di dalam Kristus!

Sesungguhnya harapan di dalam Kristus itu, adalah;

Harapan selalu memperlihatkan pada orang percaya bahwa di ujung jalan yang gelap ada terang.

Harapan selalu dapat menopang kehidupan orang percaya yang telah patah semangat dan tak berdaya.

Harapan selalu memberikan peluang, kemungkinan dan kepastian ada pemulihan kembali saat kehidupan dirasa seperti buluh yang patah atau sumbu hanya tinggal asap.

Jadi harapan itu selalu memberikan kehidupan, semangat, gairah dan kesegaran baru. Dan ..

Orang yang berharap kepada Tuhan tak pernah dibiarkan malu tersipu-sipu!

Harapan yang Tuhan Yesus berikan bukan harapan seperti yang Anda dipikirkan atau dunia tawarkan. Harapan di dalam Kristus bukan harapan yang terbatas, tidak pasti dan bersifat temporer. Harapan di dalam Kristus adalah harapan yang melimpah, pasti, dan berlimpah bak sungai.

Harapan yang demikian selalu ada di dalam diri orang percaya.

Dan harapan itu amat nyata secara khusus bagi orang-orang percaya yang mengalami berbagai-bagai dukacita karena pencobaan (ay. 6).

Jika demikian mengapa Anda berkata , "tidak ada harapan bagiku?"
Ambillah selangkah lagi, lihat tangan-Nya terbuka siap memeluk Anda.

Source : from eliastories


Gbu all...

Minggu, 01 Juni 2014

Dare to Discipline

Setiap prang tua pasti mengharapkan anak-anaknya untuk bertumbuh menjadi seorang yang pintar, berhasil, sukses, bahagia dan seterusnya. Tetapi yang tidak kalah penting adalah harapan orang tua agar anaknya memiliki karakter yang baik. Tanpanya, apalah artinya keberhasilan, kekayaan dan nama besar.

Untuk membentuk karakter yang baik orang tua memerlukan 2 nilai penting yaitu kasih dan disiplin. Keduanya harus diberikan secara seimbang. Selama ini berlangsung orang tua akan berinteraksi dengan anak-anak mereka dimana hal-hal kecil adalah hal-hal yang besar bagi anak-anak.

Semakin muda usia anak-anak kita, maka semakin penting hal-hal yang kecil tersebut kita ajarkan bagi mereka. Memang dibutuhkan banyak pengorbanan, namun jika kita berhasil membangun karakter yang baik dalam hidup mereka, maka mereka akan menghormati kita lalu dengan mudah mereka akan menghormati Tuhan dan sesama.

Parenting Styles
Tiga gaya orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Pertama, gaya yang berpusat pada orang tua. Gaya membesarkan anak-anak dimana orang tua menjadi fokus utamanya. Biasanya terjadi pada orang tua yang menginginkan anak-anaknya menjadi 'sempurna'. Mereka menginginkan anaknya menjadi seperti keinginan mereka, bukan yang Tuhan inginkan. Keinginan orang tua mungkin tercapai, tetapi kemungkinan tidak dengan hati nurani sang anak.

Anak diam-diam kecewa dan kepahitan karena tidak ada kesempatan untuk terbuka menyampaikan keinginannya. Dengan kata lain, tidak ada tawar-menawar di dalam orang tua membesarkan anak menurut keinginan hati orang tua-nya.

Kedua, gaya yang berpusat pada anak. Sebuah gaya membesarkan anak dimana anak adalah segala-galanya.

Sering kali karena kesibukan orang tua diluar rumah, maka orang tua menggantikan kasih sayang yang hilang atau menutupi kesalahannya dengan memberi materi atau kemudahan dalam memberikan ijin bagi anak-anaknya. Anak menjadi terbiasa memimpin dan mengambil keputusan yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang tua. AKhirnya sang anak menjadi sangat manja, sulit untuk mandiri dan sulit untuk mengerti perubahan.

Dengan sikap suka memanjakan, anak tumbuh dengan sikap tidak menghargai barang, bahkan lama-kelamaan sang anak kehilangan rasa hormat terhadap orang tua. Dengan kata lain, anak suka mengatur atau menguasai orang tuanya.

Ketiga, gaya yang berpusat pada pembentukan karakter. Sebuah gaya membesarkan anak, dimana membangun karakter menjadi hal yang sangat penting.

Orang tua berfokus pada hasil akhir dari si anak. Orang tua menyadari pentingnya peran kasih dalam mebesarkan anak karena mereka bersandar kepada kasih Allah dan firmanNya.

Tetapi orang tua juga sadar bahwa dalam kasih ada kedisiplinan. Kasih dan disiplin tidak dapat dipisahkan. Orang tua berani untuk mendisiplinkan anak bukan untuk menghukum atau menakuti tetapi untuk membangun karakter yang baik dalam hidup anak-anaknya.

Discipline
Disiplin menjadi hal penting yang tidak terlepas dari kasih karena ketika anak-anak taat mendengarkan perkataan dan peraturan sejak kecil, maka ia akan mudah taat dan disiplin kepada perintah-perintah Allah. Apakah disiplin itu?

Pertama, disiplin adalah pencegahan dini akan problem di masa mendatang, bukan sekedar saat ini. Anak yang diajar hidup mandiri sejak kecil, akan lebih siap menghadapi permasalahan diwaktu ia besar. Kedua, disiplin berarti mengajar, memberi petunjuk dan melatih. Disiplin berbeda dengan menghukum. Melatih berarti menunjukan kesalahan, memberi pengertian dan mengajar anak untuk memperbaiki kesalahan. Ketiga, displin berarti mengubah kelakukan yang tidak diinginkan kepada kelakukan yang baik. Keempat, disiplin adalah mengajarkan anak untuk melakukan yang baik bukan yang nyaman.

Lewat pendisiplinan, maka anak diajarkan untuk berpikir dahulu sebelum bertindak sehingga akan menolong mereka bertumbuh menjadi orang yang luar biasa.

Pada akhirnya, banyak cara, pendapat dan pengetahuan dalam mendisiplinkan anak. Namun tidak ada satu pun yang melebihi kehebatan dari hikmat surgawi. Orang tua sendirilah yang dapat mengenal anak-anaknya dan menentukan cara terbaik untuk mendidik mereka. Ada anak yang membutuhkan belaian untuk maju, tetapi ada juga yang butuh cambukan untuk berhasil.

Yang terpenting bagi orang tua adalah menyadari bahwa setiap anak adalah titipan Tuhan yang harus dipelihara dengan penuh tanggung jawab, bukan malah di telantarkan atau di eksploitasi berlebihan.

Selalu libatkan Tuhan dalam mendisiplinkan anak Anda. Satu hal lain yang tidak kalah penting adalah orang tua harus menjadi contoh yang baik bagi sang anak, dimulai dari menghormati dan menghargai terlebih dahulu pasangan hidup kita sehingga anak juga menghjormati dan mengasihi kita.

Diambil dari warta jemaat Mawar sharon dari materi seminar orang tua yang dibawahkan oleh Ps. Levi Supit


Gbu all...

Sabtu, 31 Mei 2014

SAHABAT SEJATI

Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. (Yes 40:29)

Yesaya 40 : 25 - 31
Mazmur 58 – 60

Ada gula, ada semut. Peribahasa ini tampak begitu nyata dalam kehidupan orang-orang yang ditinggalkan teman-temannya pada saat mengalami kegagalan. Kenyataan membuktikan bahwa lebih mudah mendapatkan teman pada saat segala sesuatunya berjalan dengan baik, sukses, dan gemilang. Tetapi di saat-saat yang sulit; dalam kebangkrutan, kegagalan dan penderitaan, mereka berpaling pergi. Teman sejati adalah mereka yang tidak meninggalkan temannya sekalipun dalam duka dan keadaan sulit.

Melebihi seorang teman sejati di dunia, Tuhan adalah Sahabat sejati bagi kita. Dia tak pernah meninggalkan kita dalam situasi seburuk apa pun. Firman-Nya, “Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau” (Yosua 1:5). Saat dunia mencampakkan orang yang gagal, Dia justru datang untuk menolong orang-orang yang sakit, menghibur yang berduka, memberikan kelegaan kepada mereka yang letih lesu dan berbeban berat, memberikan kekuatan kepada yang lelah, dan menambah semangat kepada yang tak berdaya. Dia sangat peduli kepada kita!

Saat ini, apakah Anda sedang membutuhkan dukungan semangat dari seorang teman? Sekalipun Anda tidak dapat melihat-Nya secara fisik, Anda dapat merasakan kehadiran-Nya dengan nyata. Dia memberikan dukungan semangat setiap saat kepada kita untuk terus berjuang melakukan yang terbaik. Dia tak pernah mengabaikan kita. Dia selalu ada bagi kita, Dia sangat mengasihi kita. Hidup kita begitu berharga bagi-Nya, sehingga Dia memberikan nyawa-Nya untuk menebus kita. Maka, bersandarlah teguh kepada-Nya. Andalkanlah Dia, Sahabat kita, Sang Sumber kekuatan kita.- HA

MELANGKAHLAH BERSAMA-NYA, SAHABAT SEJATI KITA MAKA TIDAK ADA ALASAN BAGI KITA UNTUK MENYERAH DALAM HIDUP!


Gbu all...

Jumat, 30 Mei 2014

Berhenti Mencoba

Suatu saat, seorang peneliti melakukan percobaan dengan ikan untuk mengetahui apakah hewan berdarah dingin tersebut bisa kehilangan kepercayaan.

Sebuah kotak yang tidak terlalu besar diisi air. Kemudian, ditengah kotak tersebut diberi pembatas sebuah kaca bening. Di salah satu sisi dimasukan ikan yang relatif besar dan sangat kelaparan. Sedangkan di sisi lainnya, dimasukan beberapa ekor ikan kecil yang cukup untuk dimakan oleh si ikan besar.

Melihat hadirnya ikan-ikan kecil yang biasa menjadi mangsanya itu, ikan besar langsung menjadi beringas. Dengan penuh semangat ia berenang ke arah ikan-ikan kecil berada. Apa yang terjadi? kita semua sudah dapat menduganya. Setiap kali Ikan besar berenang menghampiri mangsanya, setiap kali itu pula dia menabrak dinding kaca pembatas.

Rasa lapar yang amat sangat memaksanya untuk terus mencoba, sampai akhirnya dia menghentikan usahanya yang sia-sia tersebut. Dan... menyerahlah si Ikan besar.

Percobaan dilanjutkan, kali ini kaca pembatas yang ada di tengah-tengah kotak air tersebut diambil. Sekarang apa yang yang terjadi?

Ajaib! Dengan leluasa ikan-ikan kecil dapat berenang, bahkan sampai mendekati dan menyentuh sirip atau insang ikan besar yang tetap diam dan tak bergerak sedikitpun. Bisa saja sebenarnya si Ikan besar melahap Ikan-ikan kecil, tapi ia diam saja.

Ikan besar telah menyerah, pasrah dengan asumsi bahwa sekarang bukan saatnya untuk menyantap mangsa walaupun sebenarnya dia mempunyai kesempatan.
Kisah ini ada persamaannya dengan kita saat menjalankan pekerjaan sehari-hari. Banyak orang yang mempunyai kesempatan, namun selalu berpikir bahwa rintangannya terlalu banyak dan tidak mungkin dapat teratasi.

Di sisi lain dia juga tidak berbuat apapun untuk mengatasinya sehingga menghasilkan sikap peduli amat (I don't care), sama seperti Ikan besar dalam cerita di atas yang akhirnya akhirnya menyerah, pasrah.

Manusia pesimistis, seperti si ikan besar, sering membiarkan kesempatan berlalu begitu saja. Banyak hal sebenarnya yang dapat anda lakukan agar pekerjaan menjadi lebih menarik, menantang dan memuaskan. Anda juga dapat menganalisa metode-metode atau teknik-teknik apa yang cocok untuk
meningkatkan hasil kerja anda. Sejuta cara dapat kita coba dan lakukan terus untuk mencapai target kita. Jauh lebih memuaskan daripada sekedar mengkritik tanpa sedikitpun melakukan tindakan positif.
 
Gbu all...