Kamis, 12 Januari 2023

Kuberikan Semuanya

Roma 12:1

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 14; Matius 14; Kejadian 27-28

Suatu ketika ada seorang pengusaha susu hendak membeli seekor sapi dari peternak. Lalu pengusaha ini setelah melihat-lihat bentuk dan perawakan sapi yang ada tertarik dengan salah seekor sapi betina yang dirasanya cukup baik. Lalu ia menanyakan mengenai tingkat kesuburan sapi betina ini. Peternak tua itu menjawab tidak tahu karena ia tidak pernah mengetahui cara mengukur kesuburan sapi itu. Lalu pengusaha ini melanjutkan pertanyaannya mengenai kandungan lemak dalam susu yang dihasilkan. Lagi-lagi peternak ini tidak bisa menjawabnya.

Akhirnya pengusaha ini menanyakan jumlah susu yang dihasilkan sapi ini dalam satu tahun, dan lagi-lagi peternak tua ini tidak dapat menjawabnya. "Saya tidak penah menghitung jumlah susu yang dihasilkan sapi betina ini, yang saya tahu sapi betina ini sangat jujur, ia memberikan semua susu yang dihasilkannya dan tidak pernah ia mencurangiku dan menyimpannya sendiri." Terkesan oleh jawaban peternak, sapi betina itu pun jadi dibeli oleh pengusaha ini.

Kita mungkin tertawa oleh jawaban si peternak di atas, tapi seringkali kehidupan kita dinilai oleh Tuhan seperti yang peternak itu lakukan. Sudahkah kita memberikan maksimal dari apa yang kita miliki (potensi)? Seringkali dalam pekerjaan kita, sikap bekerja sekenanya dan asal-asalan kita lakukan. Kita masih menyimpan untuk keuntungan diri sendiri. Tidak seperti sapi betina tadi, ia memberikan semuanya dan tidak mencurangi pemiliknya.

Tuhan memberikan Anda potensi untuk dimaksimalkan dan dipakai dalam pelayanan yang sejati.

Gbu all...

Rabu, 11 Januari 2023

Waiting For Second Chance

Ibrani 12:17

Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 9; Matius 9; Kejadian 17-18

Sebuah pepatah China kuno berbunyi, "You cannot jump into the same water". Ini berbicara mengenai waktu yang terus berjalan sebagaimana aliran sungai, jadi ketika kita meloncat ke dalamnya tidak mungkin diulangi lagi dengan air sungai yang sama, meskipun tampaknya sama tetapi air yang melaluinya telah berbeda, air yang sebelumnya telah mengalir jauh ketika kita melakukan lompatan kedua. Demikian juga dengan waktu dan kesempatan dalam kehidupan kita. Ketika kita melewatkan satu kesempatan, yang satu itu tidak akan pernah kembali. Waktu atau kesempatan yang telah lewat tidak mungkin kembali, yang ada adalah waktu dan kesempatan yang baru dan berbeda. Tetapi apakah ada suatu jaminan jika kesempatan yang baru itu (beberapa orang senang menyebutnya sebagai Second Chance) pasti akan ada lagi?

Sebagai orang yang bergerak di market place tentulah mengerti prinsip ini, tidak semua hal ada babak duanya, apa yang sudah terjadi tidak mungkin diulang. Pilihan yang sudah diambil menyisakan dampak atau implikasinya, tanpa kepastian adanya kesempatan lain untuk memperbaiki kesalahan atau kecerobohan dari apa yang telah dibuat, ataupun untuk melakukan sesuatu yang terlewatkan sebelumnya.

Jadi bagaimana dengan kinerja kita sekarang setelah menyadari prinsip ini? Masihkah kita membuang-buang waktu dan menggunakannya secara asal-asalan? Ataukah ingin berkarya maksimal? Tapi ingatlah, apapun yang kita lakukan dengan waktu ini akan kita pertanggungjawabkan pada Tuhan.

Lebih baik lakukan yang benar pada kali pertama daripada berharap memperbaikinya di lain hari.

Gbu all...

Selasa, 10 Januari 2023

Peace Maker

Matius 5:9

Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 7; Matius 7; Kejadian 13-14

Konflik tentu sudah tidak asing lagi dalam dunia kerja. Keberadaan konflik ini memang akan sangat mengganggu terutama dalam bagian yang membutuhkan kerjasama di antara para karyawannya. Seringkali konflik timbul karena di tempat kita bekerja terdapat orang yang cenderung sebagai pembawa masalah. "Trouble Maker" ini tidak berarti orang tersebut yang membuat masalah dengan orang lain ataupun mencari gara-gara, tetapi lebih menjurus pada pribadi yang mendorong terjadinya kondisi konflik.

"Pengadu" inilah istilah yang lazim digunakan bagi mereka. Selain memiliki kecenderungan untuk menceritakan semua masalah pada setiap orang, dan apa yang dikatakannya itu seringkali mendatangkan konflik di antara orang-orang di sekitarnya. Mungkin apa yang diceritakan bukanlah dusta dan benar adanya, tetapi "Pengadu" ini memanfaatkan hal ini untuk menunjukkan keburukan atau kesalahan orang lain dan menempatkan dirinya di posisi yang lebih baik dan atau meninggalkan kesan baik tentang dirinya.

Tanpa sadar seringkali orang percaya yang katanya memiliki nilai-nilai yang lebih baik, terjerumus dalam perkara seperti ini. Kita sering menceritakan mengenai keburukan-keburukan orang lain, bahkan membocorkan rahasia dan kesalahan rekan kerja kita. Bukan berarti kita harus selalu tutup mulut, tetapi kita harus menguji alasan kita melakukan "pengaduan" ini. Untuk meninggikan diri? Untuk menjelekkan posisi orang lain? Atau memang untuk alasan yang benar dan sangat perlu untuk dilakukan. Profesional, bukankah kita dipanggil menjadi pembawa damai?

Kasih menutupi banyak pelanggaran.

Gbu all....

Senin, 09 Januari 2023

Karunia Berpikir

Filipi 4:8

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 6; Matius 6; Kejadian 11-12

Dalam beberapa hal manusia tidak lebih unggul daripada binatang. Saya telah menyaksikan pria-pria yang luar biasa kuatnya, tapi belum pernah ada manusia yang "sekuat lembu jantan". Manusia mampu berlari 100 meter dalam waktu kurang dari 10 detik, tapi itu tidak ada artinya dibandingkan kecepatan lari seekor cheetah. Ada orang-orang yang sangat pandai untuk menentukan arah, meskipun begitu mereka tidak mampu menjelaskan bagaimana burung layang-layang yang bermigrasi selalu dapat kembali ke tempat yang sama setiap tahunnya.

Memang beberapa jenis binatang benar-benar pandai. Namun, tak satu pun dari mereka dapat berpikir seperti kita. Tak satu binatang pun dapat mengembangkan masyarakat yang menakjubkan, dengan segenap kemajuan di bidang medis dan teknologi.

Kemampuan unik manusia untuk berpikir memungkinkan mereka untuk berpikir tentang Allah dan kekekalan. Seorang penyair Amerika terkenal, Walt Whitman, merasa terganggu dengan hal itu. Ia mengaku sering kali merasa iri pada ternak yang merumput sepuasnya di padang rumput, sebab mereka tak pernah khawatir dan memikirkan hal-hal yang menyusahkan.

Sebagai orang kristiani, kita tahu bahwa kemampuan berpikir merupakan karunia Allah. Namun sayang, kita dapat menyalahgunakannya dengan cara mengisi pikiran kita dengan hal-hal yang cabul, kotor, dan buruk. Itu sebabnya Paulus meminta kita untuk merenungkan semua yang benar, mulia, adil, suci, manis, bijak, patut dipuji, dan sedap didengar (Filipi 4:8).

Tuhan, bantulah kami untuk mendisiplin pikiran - Herb Vander Lugt

Karakter yang saleh dibentuk oleh pikiran yang kudus.

Gbu all...

Minggu, 08 Januari 2023

Polusi Suara

Kolose 3:8

Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 5; Matius 5; Kejadian 9-10

Kata-kata tak senonoh dan ungkapan yang kasar kini semakin biasa diucapkan dalam acara-acara utama televisi. Banyak penulis dan produser tampaknya semakin sering melanggar batas ketentuan yang diizinkan masyarakat tentang penggunaan kata-kata yang tidak bermoral dan bersifat menyerang.

Perkataan yang tak senonoh dan kasar adalah jenis polusi suara yang paling buruk. Selain menghujat Allah, kata-kata kotor juga merendahkan manusia. Percakapan yang diakhiri dengan kutukan, sumpah serapah, dan ungkapan-ungkapan kotor serta kasar, mengaburkan keindahan ide-ide yang luhur. Kata-kata yang bersifat mengutuk dapat membangkitkan amarah dan merusak hubungan kita dengan sesama. Kata- kata tersebut dapat menimbulkan sakit hati yang berkepanjangan dalam diri orang-orang yang peka terhadap perlakuan kasar secara lisan.

Perkataan yang tidak baik membuat keadaan di sekitar menjadi tak bermoral dan tidak rohani, sehingga merusak pikiran dan cara hidup yang kudus. Suara yang memekakkan telinga dapat meredam suara Roh Allah. Itulah sebabnya firman Allah menyatakan dengan jelas jenis perkataan yang tidak boleh keluar dari bibir para pengikut Yesus (Kolose 3:8), dan sekaligus jenis perkataan yang seharusnya menjadi ciri khas kita (Kolose 4:6).

Berabad-abad yang lalu pemazmur mempersembahkan sebuah doa yang akan membuat kita lebih bijaksana: "Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku" (Mazmur 141:3). Doa semacam itu sangat kita butuhkan pada masa-masa sekarang ini - Dennis De Haan.

Perkataan yang tidak senonoh memalukan si pengucap serta merendahkan si pendengar.

Gbu all...