Rabu, 07 Mei 2025

Penaklukan Diri

Kolose 3:5-6

Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah [atas orang-orang durhaka].

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 127; 1 Korintus 16; 1 Samuel 20-21

"Ibu, saya ingin ke luar kota untuk mencari uang dan akan pulang dengan uang yang banyak agar kehidupan kita jauh lebih baik," kata Norman Vincent Peale kepada ibunya. Namun, sang ibu yang bijaksana menjawab, "Norman, aku tidak membesarkanmu untuk itu. Aku tidak ingin engkau menjadikan uang sebagai tujuan utama hidupmu." Norman pun menanggapi jawaban sang ibu dan ingin menjadi gubernur Ohio.

"Norman, ambisi itu memang baik kalau Tuhan mengendalikannya dan kita mau dikendalikan-Nya," jawab sang ibu yang tidak mendukung ambisi anaknya. Wanita itu menginginkan agar Norman menjadi seorang Kristen yang bersih, jujur, terhormat dan lurus dengan cinta di dalam hati, melayani Tuhan dan anak-anak Tuhan. Akhirnya Norman menjadi seorang hamba Tuhan yang taat kepada Tuhan dan melayani Tuhan dengan setia.

Allah menghendaki kita untuk membunuh ambisi hidup kita yang jauh dari kehendak Tuhan. Mempunyai uang itu tidak salah, tetapi menjadi salah ketika kita menjadikan uang sebagai tujuan hidup kita. Bekerja keras tidak berdosa, tetapi kalau karena bekerja keras kita meninggalkan Tuhan, sia-sialah kerja keras kita. Rasul Paulus memberi nasehat "Matikan dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi!"

Uang adalah hamba yang baik tetapi sekaligus bisa menjadi tuan yang jahat. Sikap hati Anda terhadap uanglah yang akan menentukan hasil akhirnya.

Gbu all...

Selasa, 06 Mei 2025

Konfrontasi

Amsal 15:31-32

Orang yang mengarahkan telinga kepada teguran yang membawa kepada kehidupan akan tinggal di tengah-tengah orang bijak. Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan teguran, memperoleh akal budi.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 126; 1 Korintus 15; 1 Samuel 18-19

Dalam berhubungan dengan sesama, kita sering kali tidak dapat luput dari konfrontasi. Konfrontasi atau menegur memang sulit dilakukan, sebab mengandung bahaya "kehilangan" hubungan tersebut. Oleh sebab itu, banyak orang lebih suka menghindari konfrontasi daripada melakukannya.

Bagaimana kita dapat memberikan teguran sehingga membangun dan menumbuhkan orang yang kita tegur? Kita perlu belajar untuk menyatakan perasan hati kita, bukan kemarahan kita. Teguran yang disampaikan dengan memaki-maki, menyerang dan menjatuhkan biasanya tidak akan efektif bagi kedua belah pihak. Orang yang dimaki-maki atau diserang tidak mungkin mau mendengar, apalagi berubah oleh teguran itu. Akibatnya besar kemungkinan hubungan itu menjadi terputus.

Kita perlu mendengar dari pihak orang yang kita tegur - mengapa ia melakukan tindakan yang tidak kita sukai itu. Tunjukkan bahwa kita adalah teman yang bersedia menolong. Bila orang yang kita tegur memiliki kesan bahwa kita adalah "musuh", ia tidak akan bersedia membuka dirinya.

Sebelum kita menegur seseorang, selidikilah apa tujuan kita. Apakah kita menegur untuk sekedar melampiaskan perasaan dan kemarahan kita? Atau, apakah kita menegur karena kita ingin agar orang yang kita tegur itu bertumbuh? Motivasi kita akan menentukan keefektifan teguran kita!

Menegur bukanlah hal yang gampang untuk dikerjakan tapi harus dilakukan untuk membangun orang lain dan juga diri kita sendiri.

Gbu all...

Senin, 05 Mei 2025

Kasih Karunia Allah

2 Korintus 8:7-9

Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, -- dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami -- demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini. Aku mengatakan hal itu bukan sebagai perintah, melainkan, dengan menunjukkan usaha orang-orang lain untuk membantu, aku mau menguji keikhlasan kasih kamu. Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 125; 1 Korintus 14; 1 Samuel 16-17

Ada satu cerita tentang seorang pengemis yang bertemu dengan seorang pengacara. Ternyata pengemis itu adalah bekas teman sekolahnya. Pengacara tersebut langsung menulis cek sebesar 100 dolar dan berkata, "Ambillah cek ini, dan pakailah untuk hidupmu."

Pengemis itu terharu menerima cek dari temannya dan ia segera pergi ke bank untuk menguangkan cek itu. Tetapi, ia berhenti di depan pintu bank ketika melihat orang-orang yang bekerja dan keluar masuk bank dengan berpakaian rapi dan bersih. Lalu, ia melihat bajunya yang begitu dekil dan berpikir, "Mereka tidak akan bersedia menguangkan cek ini. Mereka pasti berpikir aku telah mencuri." Lalu, ia pergi tanpa menguangkan cek tersebut.

Pada hari berikutnya, kedua orang tersebut bertemu lagi. Pengacara itu bertanya, "Apa yang kamu lakukan dengan cek yang kuberikan kepadamu? Apakah kau pakai untuk berjudi? Minum minuman keras?" "Tidak.", kata pengemis itu. Pengemis itu lalu menceritakan mengapa ia tidak menguangkan cek itu. Lalu, pengacara itu berkata, "Yang membuat cek itu berlaku bukanlah pakaianmu atau tindakanmu, melainkan tanda tanganku."

Hidup kita sebagai orang Kristen sering kali juga seperti pengemis itu. Tuhan Yesus telah menandatangani cek keselamatan dan memberikannya kepada kita semua, tetapi kita takut dan cemas untuk menggunakan cek tersebut. Akibatnya, kita terus hidup seperti pengemis di atas. Darah Yesuslah yang telah memeteraikan keselamatan kita, bukan tindakan atau penampilan kita. Tugas kita yaitu menerima, menikmati dan hidup dalam kasih karunia yang telah Tuhan berikan.

Hiduplah sebagai anak, bukan sebagai budak karena pada dasarnya kita adalah budak yang telah diangkat menjadi anak.

Gbu all...

Minggu, 04 Mei 2025

Goal Keeper

Wahyu 12:9

Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 124; 1 Korintus 13; 1 Samuel 14-15

Pertandingan sepakbola, apalagi Piala Dunia, selalu mendapatkan sambutan yang meriah dari para penggemarnya. Di dalam permainan sepakbola bukan hanya ada pemain penyerang, melainkan ada juga penjaga gawang yang disebut ‘keeper'. Tugas seorang ‘keeper' sangatlah penting, yaitu mencegah pemain lawan untuk mencetak goal dengan segala daya dan upaya untuk menghalangi bola masuk ke dalam gawang.

Anak-anak Allah memiliki ‘goal' di dalam hidupnya. Jelas-jelas iblis sangat tidak suka kalau anak-anak Allah berhasil mencetak goal dan merayakan kemenangannya. Sebagai ‘goal keeper' iblis berusaha keras untuk menghalangi anak-anak Allah mencetak goal dengan cara-cara yang ‘menyesatkan'. Kata ‘menyesatkan' berasal dari kata Yunani ‘planao' yang berarti keluar dari jalur. Inilah salah satu cara iblis dari dulu sampai sekarang.

Ingat tidak bagaimana seorang keeper berhasil menangkis tendangan lawan dengan cara membuang bola menjauhi gawang. Itulah si iblis, yang selalu berdiri di depan gawang dan berusaha sekuat tenaga supaya anak-anak Tuhan tidak satu kali pun mencetak gol dan merayakan kemenangan. Jadi misi utama si iblis ialah: membuat semua manusia yang hidup di bumi keluar dari jalan atau track-nya Tuhan.

1 Petrus 1:18 mengatakan bahwa kita telah ditebus dari ‘cara hidup yang sia-sia'. Salah satu bentuk dari ‘cara hidup yang sia-sia' ialah ‘hidup tanpa tujuan'. Orang yang hidup tanpa tujuan sama seperti pemain bola yang merebut, membawa dan menendang bola, tapi tidak berniat untuk mencetak gol di gawang lawan. Ia hanya kecapean tanpa menghasilkan sesuatu.

Tanpa tujuan, hidup hanyalah sebuah eksperimen. Tuhan ciptakan kita bukan untuk hidup coba-coba. Kita bukan ‘produk gagal'-nya Tuhan (barang reject), tetapi kita di desain untuk mencetak gol di gawang lawan.

Apapun akan iblis lakukan untuk menghalangi Anda mencapai tujuan Ilahi. Tapi bersama Tuhan, tak ada satu kuasa pun yang sanggup menghalangi Anda meraihnya.

Sumber : Ps. Ferry Felani, S.Th. Pastor of City Gate Apostolic Community

Gbu all...

Sabtu, 03 Mei 2025

Tanggungjawab Murid Kristus

Matius 28:17-20

Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 122; 1 Korintus 11; 1 Samuel 10-11

Penyembahan mendatangkan suatu tanggungjawab (Worship brings responsibility). Melalui penyembahan, kita mengakui kuasa yang dimiliki Yesus Kristus, lalu bertindak berdasarkan kuasa yang Ia berikan kepada kita. Pada prinsipnya, penyembahan tidak relevan bagi orang yang malas dan hanya memikirkan diri sendiri; karena penyembahan lebih dari sekedar menyanyikan lagu-lagu rohani, memainlan alat musik, menutup mata dan mengangkat tangan.

Ketaatan (obedience) merupakan prinsip dasar dari penyembahan. Waktu kita tidak bersedia untuk taat, pada saat itu juga sebenarnya kita menolak untuk menyembah Tuhan. Menaikkan pujian dan penyembahan tanpa kesediaan untuk taat dan memikul salib, sama saja "ngegombalin Tuhan" (just lip service).

Perjalanan kita dengan Allah dimulai dengan kata "ikutlah" (follow me) dan berakhir dengan kata "pergilah" (go). Hidup Kristen kita harus dimulai melalui hubungan dengan Allah dan dilanjutkan dengan mengasihi jiwa-jiwa. Seorang murid yang baik bukan hanya datang untuk belajar, tetapi juga pergi untuk menerapkan apa yang telah diajarkan dan kemudian mengajarkannya kepada orang lain.

Memuridkan orang lain merupakan tanggungjawab kita kepada Tuhan atas apa yang telah Ia ajarkan kepada kita (secara langsung maupun melalui orang lain). Fokus pemuridan terletak pada "ajarlah mereka melakukan". Tidak ada cara yang lebih ampuh dalam belajar kebenaran selain menerapkannya setiap hari.

Seorang bernama Donald Barnhouse pernah berkata: "Cinta yang dipanjatkan ke atas adalah penyembahan. Cinta yang diturunkan ke bawah adalah kasih karunia." Pemuridan merupakan bentuk nyata dari kasih karunia yang diturunkan ke bawah, yang pada akhirnya melihat banyak kehidupan diubahkan oleh prinsip-prinsip kebenaran Kerajaan Allah yang diterapkan secara konsisten.

Tuhan mempercayakan bumi ini untuk dimenangkan melalui kita. Konsistensi kita melakukan kebenaran akan membawa dampak bagi hidup orang lain.

Sumber : Ps. Ferry Felani, S.Th. Pastor of City Gate Apostolic Community

Gbu all...