Jumat, 08 Juli 2022

Sahabat Sejati

Amsal 18:24

"Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib daripada seorang saudara."

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 6; Matius 6; 2 Raja-Raja 3-4

Sahabat! Biasanya semua orang memiliki minimal seorang atau lebih sahabat dalam suatu fase kehidupannya. Tapi bagi beberapa orang, persahabatan ini seringkali menjadi hal yang menyulitkan dalam perkembangan pribadinya.

Persahabatan banyak terjadi karena orang-orang berada dalam suatu lingkungan yang sama. Memang agak sulit jika persahabatan dihubungkan dengan profesionalitas dalam pekerjaan atau pelayanan. Sungkan dan alasan tidak ingin merusak persahabatan tidak jarang membuat kita kompromi terhadap kesalahan rekan yang juga sahabat kita itu. Jika tidak hati-hati, persahabatan bisa menjadi faktor penghambat dalam kehidupan, khususnya ketika kita tidak melakukan hal yang seharusnya dilakukan karena persahabatan itu.

Mari mulailah merenungkan kembali persahabatan macam apa yang kita miliki. Sahabat adalah seorang yang ingin agar kita mencapai hasil-hasil yang maksimal, dan kita juga ingin hal yang sama terjadi atas diri sahabat kita. Jika kita melakukan kesalahan, seorang sahabat seharusnya malah lebih leluasa untuk menegur, karena itu akan membawa kita berubah ke arah yang lebih baik bukan?

Anda punya tugas menggenapi rencana Tuhan dalam kehidupan Anda sendiri. Jangan hanya karena sungkan dengan sahabat, Anda lalai dengan kehendak Tuhan. Dan jika sampai terjadi karena mengikut kehendak Tuhan Anda kehilangan sahabat, Ia yang setia akan mengganti sahabat Anda berlipat kali ganda.

Cara termudah untuk bertumbuh adalah dengan mengelilingi diri dengan orang-orang yang dapat memaksimalkan kita.

Gbu all...

Kamis, 07 Juli 2022

Empati

Roma 12:15

Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 5; Matius 5; 2 Raja-Raja 1-2

"Asalkan Anda dapat mengurangi penderitaan orang lain, kehidupan tidak akan sia-sia," tulis Hellen Keller. Keller yang cacat fisik sedari kecil, pasti mengerti seperti apa itu kepedihan emosi. Di usia 19 bulan, suatu penyakit telah membuatnya buta dan tuli. Guru Keller, Ann Sulivan yang berbelas kasihan mengajarinya membaca, menulis dalam huruf braille, dan kemudian mengajarinya berbicara. Ann mengajar dengan cara mengejakan huruf-huruf pada tangan Hellen.

Apa sih sebenarnya yang menggerakkan Ann? Rupanya Ann sendiri tahu benar frustasinya berjuang hidup dengan cacat fisik, karena ia sendiri nyaris buta. Empatilah yang membuat Ann sanggup menempatkan diri dalam posisi Hellen dan turut merasakan penderitaannya. Tertular oleh empati gurunya, Hellen memutuskan untuk membaktikan hidupnya bagi mereka yang senasib dengannya. Entah seberapa besar efek yang dihasilkan oleh empati awal ini bagi orang-orang yang ditolong Hellen selanjutnya.

Kita tahu panggilan tertinggi kita adalah untuk mengasihi. Kita seringkali ingin mewujudkannya, tapi sayangnya kita tinggal di dunia yang mementingkan diri sendiri. Ada pepatah mengatakan, "Tinggalkanlah duniamu, dan masuklah ke dunia orang lain. Kita perlu belajar "masuk" ke dalam penderitaan orang lain sehingga dapat memahami mereka. Jadi meski niat mengasihi tinggi, jika lupa mengasah empati, mengasihi itu rasanya sulit untuk dilakukan dengan tulus.

Kita dapat menjangkau empati jika kita benar-benar memulai dari hati.

Gbu all...

Rabu, 06 Juli 2022

Dewasa Dalam Memberi

2 Kor 9:6

"Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak akan menuai banyak juga."

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 4; Matius 4; 2 Tawarikh 20-21

Salah satu ciri kedewasaan dalam Kekristenan adalah: pemberian. Pada praktik gereja mula-mula, bahkan sejak masa Israel, hal memberi adalah sebuah tindakan rohani yang sering ditandaskan Alkitab. Motivasi utamanya sederhana, yaitu agar manusia tidak dikuasai oleh harta yang dititipkan Tuhan padanya. Itu sebabnya Tuhan memerintahkan untuk memberi agar kita terbebas dari ketamakan. Kepada jemaat di Korintus, Paulus menguraikan beberapa prinsip dalam memberi.

Pertama, berlakunya hukum tabur tuai (2Kor 9:6). Meski tujuan utama kita memberi bukan "memancing" berkat Tuhan, tapi menurut ayat ini, apa yang kita berikan akan paralel dengan apa yang kita terima. Yang menabur sedikit akan menuai sedikit, demikian pula sebaliknya.

Kedua, kerelaan diperlukan pada saat memberi (2Kor 9:7). Kerelaan akan muncul jika tumbuh kesadaran bahwa kita bukanlah pemilik, melainkan sebatas pengelola. Kalau kita merasa memilikinya, seperti yang Paulus tuliskan, kita akan menjadi sedih dan terpaksa. Ada rasa kehilangan yang mengikuti pemberian kita. "Bagaimana dengan kehidupan saya nanti?" biasanya pertanyaan itu akan muncul.

Ketiga, memberi dengan sukacita (2Kor 9:7b-8). Daripada menyesali pemberian kita, lebih baik jika kita memberi dengan sukacita. Mengapa? Di ayat 8, ada janji Tuhan yang dinyatakan di dalamnya. Kelimpahan kasih karunia akan kita terima, kecukupan akan didapatkan, malah akan berkelebihan di dalam kebajikan.

Kini waktunya menunjukkan kedewasaan melalui pemberian yang dilandasi kerelaan dan sukacita.

Salah satu ciri kedewasaan rohani adalah memberi.

Gbu all...

Selasa, 05 Juli 2022

Masa Menuai Sudah Tiba?

Yoh 4:38

Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil usaha mereka."

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 2; Matius 2; 1 Raja-Raja 19-20

Tidak ada yang lebih menggembirakan bagi seorang petani kecuali tiba saat menuai. Segala jerih payah dan waktu penantian kemudian seolah terbayar lunas, bahkan lebih, pada saat menuai.

Seorang penginjil muda dari Eropa berangkat dengan penuh semangat ke tanah Afrika sebagai seorang misionaris. Dia membawa serta istrinya dan anak perempuannya yang masih kecil. Lama dia berusaha, tidak ada hasil. Istrinya mati dengan menyedihkan di tempat misi mereka. Tak ada hasil. Satu-satunya yang dia dapat, hanyalah seorang anak desa yang kumuh dan ingusan yang mendengarkan cerita tentang Yesus.

Pulanglah dia dengan kepahitan dan sakit hati. Dia mengabaikan anaknya dan meninggalkan Tuhan. Hidup mabuk-mabukan dalam kesengsaraan yang merobek jiwa. Tahun demi tahun berlaku, anak perempuannya tumbuh dan menikah dengan pria baik-baik dan kemudian berusaha mencari ayahnya. Menyertai dia, adalah seorang penginjil kulit hitam yang telah berkhotbah di hadapan ribuan orang di berbagai Negara. Penginjil itu adalah anak kecil yang dikhotbahi penginjil yang sakit hati itu, dahulu kala.

Lihatlah lading market place kita. Apa yang kita lihat? Tuaian yang menguning. Kita bisa melihat dengan pahit dan kecewa seperti sang penginjil itu, atau kita melihat dengan mata iman, bahwa sungguh Allah yang menyediakan tuaian.

Kenali ladang tuaian anda dan kerjakan bagian anda.

Gbu all...

Senin, 04 Juli 2022

Penakluk Raksasa

1 Sam 17:50

"Demikianlah Daud mengalahkan orang Filistin itu dengan umban dan batu; ia mengalahkan orang Filistin itu dan membunuhnya, tanpa pedang di tangan."

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 1; Matius 1; 1 Raja-Raja 17-18

Di dalam Alkitab ada sebuah cerita yang sangat menarik dan membawa pelajaran berharga untuk kita. Ini adalah kisah tentang seorang anak gembala melawan seorang prajurit raksasa. Kebanyakan dari kita tentu dapat menghubungkan kisah "raksasa" ini lewat pergumulan kita sehari-hari. Mungkin bukan raksasa dalam bentuk fisik, tetapi pergumulan kita laksana raksasa-raksasa dalam kehidupan kita. Raksasa seperti depresi, kekecewaan , penyesalan, kebimbangan, pencobaan, ketakutan, keputusasaan, kesepian, kekuatiran, kecemburuan, penundaan waktu, kegagalan, kemarahan, dan rasa bersalah adalah contoh-contoh raksasa yang menghantui hidup kita.

Kita dapat belajar kisah penaklukan raksasa ini dari Daud saat dia mengalahkan raksasa di jamannya. Goliath berukuran sembilan kaki, dengan baju besi yang kokoh. Dia mengejek orang Israel dan Allah. Tak ada yang berani bersuara. Tidak ada. Kecuali seorang yang tak terduga, seorang anak gembala kecil.

Raja Saul tergoda untuk melengkapi Daud dengan segala perlengkapan baju perang dan senjatanya. Daud menolaknya, karena tahu dia tidak bergantung pada itu. Daud siap berperang karena kuasa Roh. Dengan hanya sebuah ketapel, Daud menembakkan sebutir batu kepada Goliat. Batu itu melesak ke dalam kepala sang raksasa. Daud menaklukkan raksasa itu bukan dengan kekuatan sendiri, namun oleh kekuatan Allah.

Hari ini, raksasa apakah yang sedang kita hadapi? Apakah kita berperang sendiri atau dengan Allah?

Allah yang sama yang akan membawa kemenangan seorang anak gembala akan menolong kita menaklukkan raksasa-raksasa.

Gbu all.....