Saat kau MENYUKAI seseorang, kau ingin memilikinya untuk keegoisanmu sendiri.
Saat kau MENYAYANGI seseorang, kau ingin sekali membuatnya bahagia dan bukan untuk dirimu sendiri.
Saat kau MENCINTAI seseorang, kau akan melakukan apapun untuk kebahagiaannya walaupun kau harus mengorbankan jiwamu.
Saat kau MENYUKAI seseorang dan berada di sisinya maka kau akan bertanya,"Bolehkah aku menciummu?"
Saat kau MENYAYANGI seseorang dan berada di sisinya maka kau akan bertanya,"Bolehkah aku memelukmu?"
Saat kau MENCINTAI seseorang dan berada di sisinya maka kau akan menggenggam erat tangannya...
SUKA adalah saat ia menangis, kau akan berkata "Sudahlah, jangan menangis."
SAYANG adalah saat ia menangis dan kau akan menangis bersamanya.
CINTA adalah saat ia menangis dan kau akan membiarkannya menangis di pundakmu sambil berkata, "Mari kita selesaikan masalah ini bersama-sama."
SUKA adalah saat kau melihatnya kau akan berkata, "Ia sangat cantik dan menawan."
SAYANG adalah saat kau melihatnya kau akan melihatnya dari hatimu dan bukan matamu.
CINTA adalah saat kau melihatnya kau akan berkata, "Buatku dia adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan berikan padaku.."
Pada saat orang yang kau SUKAi menyakitimu, maka kau akan marah dan tak mau lagi bicara padanya.
Pada saat orang yang kau SAYANGi menyakitimu, engkau akan menangis untuknya.
Pada saat orang yang kau CINTAi menyakitimu, kau akan berkata, Tak apa dia hanya tak tau apa yang dia lakukan."
Pada saat kau SUKA padanya, kau akan MEMAKSANYA untuk menyukaimu.
Pada saat kau SAYANG padanya, kau akan MEMBIARKANNYA MEMILIH.
Pada saat kau CINTA padanya, kau akan selalu MENANTINYA dengan setia dan tulus...
SUKA adalah kau akan menemaninya bila itu menguntungkan.
SAYANG adalah kau akan menemaninya di saat dia membutuhkan.
CINTA adalah kau akan menemaninya di saat bagaimana keadaanmu.
SUKA adalah hal yang menuntut.
SAYANG adalah hal memberi dan menerima.
CINTA adalah hal yang memberi dengan rela.
Gbu all....
Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Roma 12:11
Sabtu, 11 Maret 2017
Jumat, 10 Maret 2017
Kedamaian Yang Sejati
Ada seorang raja yang akan memberikan hadiah pada seniman yang dapat membuat suatu lukisan terbaik tentang kedamaian. Banyak seniman yang mencoba. Raja melihat semua lukisan itu. Tetapi hanya ada dua yang ia suka, dan ia harus memilih salah satu di antaranya.
Salah satu lukisan menggambarkan danau yang tenang. Danau itu bagaikan cermin yang sempurna bagi gunung-gunung yang menjulang tinggi di sekelilingnya. Di atasnya langit biru dengan awan di sana-sini. Semua orang yang melihatnya akan berpendapat itulah lukisan yang sempurna tentang kedamaian. Lukisan yang satu lagi menggambarkan gunung-gunung juga, tetapi tampak tegak, angkuh dan kasar. Langit hitam berawan gelap, ada halilintar di situ. Di bawah ada air terjun yang airnya bergejolak. Tampak tak ada kedamaian sama sekali.
Tetapi raja melihat di belakang air terjun ada sarang burung. Di antara riak gejolak air, duduk seekor induk burung yang sedang memberi makan pada anaknya dengan penuh kedamaian. Lukisan yang mana yang Anda kira akan menang? Raja memilih lukisan yang kedua.
Karena,kata raja, damai bukan berarti tempat yang tidak ada kegaduhan, permasalahan dan kerja keras. Kedamaian berarti bila di tengah-tengah semuanya itu tetap ada ketenangan di hati Anda. Itulah makna sejati kedamaian.
Salah satu lukisan menggambarkan danau yang tenang. Danau itu bagaikan cermin yang sempurna bagi gunung-gunung yang menjulang tinggi di sekelilingnya. Di atasnya langit biru dengan awan di sana-sini. Semua orang yang melihatnya akan berpendapat itulah lukisan yang sempurna tentang kedamaian. Lukisan yang satu lagi menggambarkan gunung-gunung juga, tetapi tampak tegak, angkuh dan kasar. Langit hitam berawan gelap, ada halilintar di situ. Di bawah ada air terjun yang airnya bergejolak. Tampak tak ada kedamaian sama sekali.
Tetapi raja melihat di belakang air terjun ada sarang burung. Di antara riak gejolak air, duduk seekor induk burung yang sedang memberi makan pada anaknya dengan penuh kedamaian. Lukisan yang mana yang Anda kira akan menang? Raja memilih lukisan yang kedua.
Karena,kata raja, damai bukan berarti tempat yang tidak ada kegaduhan, permasalahan dan kerja keras. Kedamaian berarti bila di tengah-tengah semuanya itu tetap ada ketenangan di hati Anda. Itulah makna sejati kedamaian.
Gbu all...
Kamis, 09 Maret 2017
Anda termasuk domba atau kambing?
"Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikuti Aku" Yohanes 10:27
Pada akhir zaman Tuhan Yesus akan memisahkan domba dengan kambing. Kambing adalah gambaran orang-orang fasik yang tidak mendapat bagian dalam kerajaan Allah, sedangkan domba adalah gambaran orang-orang benar (Mat. 25:31-46). Lalu bagaimana kita dapat mengetahui bahwa kita adalah domba dan bukannya kambing? Mari kita lihat ciri-ciri domba:
Pertama, domba mendengar suara Gembala.
Banyak buku ditulis dengan judul: Bagaimana mendengarkan suara Tuhan? Rupanya banyak orang kristen yang sulit mendengarkan suara Tuhan. Mungkin Anda juga mengalami hal yang sama. Benarkah bahwa Tuhan itu sungguh-sungguh berbicara kepada kita? Ya, Tuhan berbicara kepada kita setiap hari. Yang menjadi masalah adalah telinga kita yang tuli! Allah adalah Roh. Jadi untuk mendengar suara Tuhan kita harus mempertajam telinga rohani kita. Salah satu cara Alkitabiah untuk peka terhadap suara-Nya adalah dengn "Beribadah dengan Tuhan dan berpuasa" (kis. 13:2). Sebab setelah mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, Roh kudus berkata-kata kepada mereka. Jadi dengan beribadah -termasuk memuji Tuhan, menyembah Tuhan, dan merenungkan firman Tuhan- dan berpuasa Anda akan mendengar suara Tuhan.
Kedua, Yesus mengenal domba-domba-Nya.
Tidak dapat disangkal bahwa hanya domba yang taat dan melakukan firman Tuhan akan dikenal Tuhan. Mereka adalah para pelaku firman. Mereka adalah orang-orang yang takut kepada Tuhan dan melakukan kehendak Bapa (Mat. 7:21-23)
Ketiga, domba mengikuti sang Gembala.
Mengikuti kristus bukan sekedar pergi ke gereja saja, tetapi menjadi sama seperti Kristus. Dunia dapat saja menjadi pengikut salah satu artis atau penyanyi dunia. mereka begitu fanatik sampai-sampai semua aksesoris yang dikenakan si artis diikutinya pula. Lebih parah lagi, dandanan rambutnya, model baju, sampai gaya bicara dicontoh pula. Sebenarmnya ini pula yang Tuhan kehendaki bagi gereja-Nya. Apa yang Yesus lakukan kita juga harus mencontohnya. Belas kasihan-Nya kepada orang-orang tertindas, semangat-Nya memberitakan Injil, kemurahannya kepada orang-orang lemah, penghiburan-Nya kepada orang-orang sengsara, dan kerinduannya melihat semua orang diselamatkan, itulah yang wajib kita teladani.
Gbu all...
Pada akhir zaman Tuhan Yesus akan memisahkan domba dengan kambing. Kambing adalah gambaran orang-orang fasik yang tidak mendapat bagian dalam kerajaan Allah, sedangkan domba adalah gambaran orang-orang benar (Mat. 25:31-46). Lalu bagaimana kita dapat mengetahui bahwa kita adalah domba dan bukannya kambing? Mari kita lihat ciri-ciri domba:
Pertama, domba mendengar suara Gembala.
Banyak buku ditulis dengan judul: Bagaimana mendengarkan suara Tuhan? Rupanya banyak orang kristen yang sulit mendengarkan suara Tuhan. Mungkin Anda juga mengalami hal yang sama. Benarkah bahwa Tuhan itu sungguh-sungguh berbicara kepada kita? Ya, Tuhan berbicara kepada kita setiap hari. Yang menjadi masalah adalah telinga kita yang tuli! Allah adalah Roh. Jadi untuk mendengar suara Tuhan kita harus mempertajam telinga rohani kita. Salah satu cara Alkitabiah untuk peka terhadap suara-Nya adalah dengn "Beribadah dengan Tuhan dan berpuasa" (kis. 13:2). Sebab setelah mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, Roh kudus berkata-kata kepada mereka. Jadi dengan beribadah -termasuk memuji Tuhan, menyembah Tuhan, dan merenungkan firman Tuhan- dan berpuasa Anda akan mendengar suara Tuhan.
Kedua, Yesus mengenal domba-domba-Nya.
Tidak dapat disangkal bahwa hanya domba yang taat dan melakukan firman Tuhan akan dikenal Tuhan. Mereka adalah para pelaku firman. Mereka adalah orang-orang yang takut kepada Tuhan dan melakukan kehendak Bapa (Mat. 7:21-23)
Ketiga, domba mengikuti sang Gembala.
Mengikuti kristus bukan sekedar pergi ke gereja saja, tetapi menjadi sama seperti Kristus. Dunia dapat saja menjadi pengikut salah satu artis atau penyanyi dunia. mereka begitu fanatik sampai-sampai semua aksesoris yang dikenakan si artis diikutinya pula. Lebih parah lagi, dandanan rambutnya, model baju, sampai gaya bicara dicontoh pula. Sebenarmnya ini pula yang Tuhan kehendaki bagi gereja-Nya. Apa yang Yesus lakukan kita juga harus mencontohnya. Belas kasihan-Nya kepada orang-orang tertindas, semangat-Nya memberitakan Injil, kemurahannya kepada orang-orang lemah, penghiburan-Nya kepada orang-orang sengsara, dan kerinduannya melihat semua orang diselamatkan, itulah yang wajib kita teladani.
Gbu all...
Rabu, 08 Maret 2017
Melayani lebih sungguh
Melayani itu bukan sekadar aktif dalam kegiatan gereja, atau mau berkorban untuk melakukan tindakan-tindakan sosial. Melayani juga menyangkut hati.
Kalau kita aktif digereja supaya semua keinginan dan ide kita dipenuhi; itu bukan pelayan, melainkan juragan. Kalau kita mau mengorbankan waktu, tenaga, dan bahkan materi untuk membantu orang-orang miskin supaya kita populer dan mendapat pujian; itu buka pelayan, tetapi politikus. Pendek kata, melayani bukan sekedar soal aksi, tetapi juga motivasi.
Lalu, semangat seorang pelayan seperti apa yang sepatutnya dimiliki?
Pertama, semangat tampah pamrih. Entah dihargai atau tidak, disenangi atau tidak, mendapat apa-apa atau tidak; yang penting kita melakukan tugas itu dengan baik.
Ada sebuah cerita. Suatu ketika disebuah departement store masuklah seorang wanita gelandangan. Pakaiannya kotor, compang-camping. Ia berkeliling melihat-lihat seperti layaknya orang yang hendak membeli sesuatu. Di depan sebuah baju yang dipajang ia berhenti.
Seorang gadis pelayan mendekatinya, "Bisa saya bantu, Bu?" tanyanya ramah.
"Saya ingin mencoba baju ini," kata si wanita gelandangan.
"Baik, Bu. Ruang gantinya ada disebelah sana. Silahkan Ibu kesana. Saya akan bawakan bajunya."
Wanita gelandangan itu lalu mencoba baju yang dipajang. Tidak hanya satu, ia mencoba baju yang lainnya. Kemudian satu lagi. Sampai lima baju. Si gadis pelayan tetap melayaninya dengan ramah. Senyumnya mengembang. Ia tidak kesal atau jengkel. Begitu juga ketika wanita gelandangan itu ngeloyor pergi tanpa membeli satu pun baju-baju yang telah dicobanya. Si gadis pelayan mengantarnya sampai pintu keluar. Bahkan dengan sopan mengucapkan terima kasih atas kunjungan wanita gelandangan itu.
Rupanya ada seorang pria yang sejak tadi memperhatikan. Ia mendekati gadis pelayan tadi, "Wanita gelandangan itu sudah jelas tidak bermaksud membeli," katanya mencela, "kenapa kamu melayaninya, bahkan mengijinkannya mencoba baju-baju itu? Bukankah badan dan baju yang dikenakannya sangat kotor dan dekil?" tanyanya pula.
"Saya adalah pelayan disini. Tugas saya melayani siapa pun yang datang kesini sebaik-baiknya; entah orang itu datang untuk membeli atau tidak," jawab pelayan itu tenang.
Begitulah seorang pelayan yang baik. Ia tidak akan terpengaruh oleh reaksi orang-orang disekitarnya; entah dipuji atau dicaci. Ia tetap akan berkonsentrasi pada tugasnya; melakukan yang terbaik dari yang bisa ia lakukan semampu dia, bukan semau dia.
Kedua, semangat tidak memilih-milih. Jadi, terlepas sebuah kegiatan pelayanan itu kita sukai atau tidak, kita minati atau tidak; kita tetap bisa mengerjakannya dengan senang hati.
Ketiga, semangat memberi. Artinya, kita melayani bukan untuk mendapatkan sesuatu, tetapi karena kita ingin memberikan sesuatu. Mengapa demikian? Karena kita sadar sesadar-sadarnya betapa dalamnya, besarnya, dan luasnya kasih Tuhan dalam hidup kita.
Dan sebagai ungkapan syuklur, kita ingin berbagi dengan orang lain melalui pelayanan kita. Supaya orang lain pun merasakan sapaan kasih Tuhan, dan memuliakan Tuhan. "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dia-lah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
Disarikan dari buku Bila Cinta Menyapa - Gloria Graffa
Kalau kita aktif digereja supaya semua keinginan dan ide kita dipenuhi; itu bukan pelayan, melainkan juragan. Kalau kita mau mengorbankan waktu, tenaga, dan bahkan materi untuk membantu orang-orang miskin supaya kita populer dan mendapat pujian; itu buka pelayan, tetapi politikus. Pendek kata, melayani bukan sekedar soal aksi, tetapi juga motivasi.
Lalu, semangat seorang pelayan seperti apa yang sepatutnya dimiliki?
Pertama, semangat tampah pamrih. Entah dihargai atau tidak, disenangi atau tidak, mendapat apa-apa atau tidak; yang penting kita melakukan tugas itu dengan baik.
Ada sebuah cerita. Suatu ketika disebuah departement store masuklah seorang wanita gelandangan. Pakaiannya kotor, compang-camping. Ia berkeliling melihat-lihat seperti layaknya orang yang hendak membeli sesuatu. Di depan sebuah baju yang dipajang ia berhenti.
Seorang gadis pelayan mendekatinya, "Bisa saya bantu, Bu?" tanyanya ramah.
"Saya ingin mencoba baju ini," kata si wanita gelandangan.
"Baik, Bu. Ruang gantinya ada disebelah sana. Silahkan Ibu kesana. Saya akan bawakan bajunya."
Wanita gelandangan itu lalu mencoba baju yang dipajang. Tidak hanya satu, ia mencoba baju yang lainnya. Kemudian satu lagi. Sampai lima baju. Si gadis pelayan tetap melayaninya dengan ramah. Senyumnya mengembang. Ia tidak kesal atau jengkel. Begitu juga ketika wanita gelandangan itu ngeloyor pergi tanpa membeli satu pun baju-baju yang telah dicobanya. Si gadis pelayan mengantarnya sampai pintu keluar. Bahkan dengan sopan mengucapkan terima kasih atas kunjungan wanita gelandangan itu.
Rupanya ada seorang pria yang sejak tadi memperhatikan. Ia mendekati gadis pelayan tadi, "Wanita gelandangan itu sudah jelas tidak bermaksud membeli," katanya mencela, "kenapa kamu melayaninya, bahkan mengijinkannya mencoba baju-baju itu? Bukankah badan dan baju yang dikenakannya sangat kotor dan dekil?" tanyanya pula.
"Saya adalah pelayan disini. Tugas saya melayani siapa pun yang datang kesini sebaik-baiknya; entah orang itu datang untuk membeli atau tidak," jawab pelayan itu tenang.
Begitulah seorang pelayan yang baik. Ia tidak akan terpengaruh oleh reaksi orang-orang disekitarnya; entah dipuji atau dicaci. Ia tetap akan berkonsentrasi pada tugasnya; melakukan yang terbaik dari yang bisa ia lakukan semampu dia, bukan semau dia.
Kedua, semangat tidak memilih-milih. Jadi, terlepas sebuah kegiatan pelayanan itu kita sukai atau tidak, kita minati atau tidak; kita tetap bisa mengerjakannya dengan senang hati.
Ketiga, semangat memberi. Artinya, kita melayani bukan untuk mendapatkan sesuatu, tetapi karena kita ingin memberikan sesuatu. Mengapa demikian? Karena kita sadar sesadar-sadarnya betapa dalamnya, besarnya, dan luasnya kasih Tuhan dalam hidup kita.
Dan sebagai ungkapan syuklur, kita ingin berbagi dengan orang lain melalui pelayanan kita. Supaya orang lain pun merasakan sapaan kasih Tuhan, dan memuliakan Tuhan. "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dia-lah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
Disarikan dari buku Bila Cinta Menyapa - Gloria Graffa
Gbu all...
Selasa, 07 Maret 2017
First things first
Dalam menjalani hari-hari, kita selalu diperhadapkan pada banyak janji dan komitmen yang harus dipenuhi. Padahal, waktu dan daya kita terbatas. Dan, kerap kali kita sulit memilih, sebab semua aktivitas tampak penting. Namun ini harus dilakukan, karena jika gagal,kita akan menjadi stress dan merasa bersalah.
Berikut beberapa hal yang mesti kita perhatikan dalam menata prioritas:
God Is our number one priority!
Mari kita mengingat poin ini lewat ilustrasi 2 toples. Ada 2 toples yang persis sama. Satu berisi pasir lembut, satu lagiberisi batu-batu sebesar kepalan tangan. Pasir memnyimbolkan banyaknya akltivitas kita setiap hari. Ya, kegiatan kita sering tampak begitu banyak hingga sepertyi pasir. Adapun batu mewakili apa yang Allah ingin kita lakukan bersama-Nya; saat teduh, baca firman, dan berdoa. Apabila kita mengisi pasir itu kedalam toples yang berisi batu-batu besar, secara natural pasir itu akan mengisi ruang yang ada sedemikian rupa, hingga batu dan pasir bisa mengisi penuh toples tersebut. Namun coba lakukan hal sebaliknya. Pindahkan bebatuan ke toples berisi pasir. Bahkan mesti kita sudah menekannya, tak semua batu itu dapat masuk ke toples pasir. Berikan tempat yang terutama kepada Allah, maka kita akan memiliki kekuatan untuk melakukan semua aktivitas yang telah terencana.
Tuliskan semua aktivitas yang akan kita lakukan
Kita perlu menuliskan semua aktivitas dan memilih mana yang bisa dibuang, mana yang tidak. Salah satu metodenya adalah dengan menuliskan apa saja yang akan kita lakukan dalam satu bulan mendatang. Lalu diperinci setiap minggu, dan lebih detail lagi diperinci dalam aktivitas setiap hari. Dengan melihat daftar aktivitas ini, kita dapat memisahkan antara hal-hal yang HARUS kita lakukan dengan hal-hal yang INGIN kita kerjakan. Selain itu, kita juga dapat menilai apakah kegiatan kita sudha seimbang; antara studi atau pekerjaan, dengan kehidupan sosial kita (kegiatan bermasyarakat, istirahat, rekreasi).
Berani berkata tidak tanpa rasa bersalah
Tanpa disadari, kita kerap terjebak pada keinginan untuk melakukan lebih. Baik itu berupa kegiatan sosial, maupun pelayanan. Namun terkadang kita lupa bahwa untuk setiap komitmen, kita harus sedia memberikan diri, hati, tenaga, dan pikiran, yang mesti dibagi dengan komitmen-komitmen yang telah ada sebelumnya. Jadi, sebelum membuat komitmen baru atau janji, berpikirlah sekali lagi agar tak membuat orang lain kecewa, atau membuat diri sendiri kepayahan.
Gbu all...
Berikut beberapa hal yang mesti kita perhatikan dalam menata prioritas:
God Is our number one priority!
Mari kita mengingat poin ini lewat ilustrasi 2 toples. Ada 2 toples yang persis sama. Satu berisi pasir lembut, satu lagiberisi batu-batu sebesar kepalan tangan. Pasir memnyimbolkan banyaknya akltivitas kita setiap hari. Ya, kegiatan kita sering tampak begitu banyak hingga sepertyi pasir. Adapun batu mewakili apa yang Allah ingin kita lakukan bersama-Nya; saat teduh, baca firman, dan berdoa. Apabila kita mengisi pasir itu kedalam toples yang berisi batu-batu besar, secara natural pasir itu akan mengisi ruang yang ada sedemikian rupa, hingga batu dan pasir bisa mengisi penuh toples tersebut. Namun coba lakukan hal sebaliknya. Pindahkan bebatuan ke toples berisi pasir. Bahkan mesti kita sudah menekannya, tak semua batu itu dapat masuk ke toples pasir. Berikan tempat yang terutama kepada Allah, maka kita akan memiliki kekuatan untuk melakukan semua aktivitas yang telah terencana.
Tuliskan semua aktivitas yang akan kita lakukan
Kita perlu menuliskan semua aktivitas dan memilih mana yang bisa dibuang, mana yang tidak. Salah satu metodenya adalah dengan menuliskan apa saja yang akan kita lakukan dalam satu bulan mendatang. Lalu diperinci setiap minggu, dan lebih detail lagi diperinci dalam aktivitas setiap hari. Dengan melihat daftar aktivitas ini, kita dapat memisahkan antara hal-hal yang HARUS kita lakukan dengan hal-hal yang INGIN kita kerjakan. Selain itu, kita juga dapat menilai apakah kegiatan kita sudha seimbang; antara studi atau pekerjaan, dengan kehidupan sosial kita (kegiatan bermasyarakat, istirahat, rekreasi).
Berani berkata tidak tanpa rasa bersalah
Tanpa disadari, kita kerap terjebak pada keinginan untuk melakukan lebih. Baik itu berupa kegiatan sosial, maupun pelayanan. Namun terkadang kita lupa bahwa untuk setiap komitmen, kita harus sedia memberikan diri, hati, tenaga, dan pikiran, yang mesti dibagi dengan komitmen-komitmen yang telah ada sebelumnya. Jadi, sebelum membuat komitmen baru atau janji, berpikirlah sekali lagi agar tak membuat orang lain kecewa, atau membuat diri sendiri kepayahan.
Gbu all...
Langganan:
Postingan (Atom)