"Barangsiapa
tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia akan berbuah banyak,
sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa". Yohanes 15 : 1 - 8
"Tertekan",
mungkin adalah kata yang paling ditakuti oleh setiap orang. Siapa yang
mau tertekan? Pasti tidak ada seorangpun yang mau tertekan. Mungkin
sebagian dari kita pernah merasakan bagaimana rasanya tertekan. Tetapi
bukan seberapa berat tekanan yang menghimpit kita, melainkan maksud apa
yang tersembunyi di balik tekanan itu.
Hal
mamalukan yang sering kita lakukan ketika kita merasa tertekan adalah
tenggelam dalam kesedihan dan menangis mengasihani diri sendiri. Tanpa
sadar kita mengeluarkan kata-kata kasar dari mulut kita, sehingga
kata-kata itu menyebabkan teman/saudara kita menjadi sakit hati. Tekanan
merupakan sebuah ujian bagi hubungan kita dengan Tuhan.
Bagaimana
hubungan pribadi kita dengan Tuhan ketika kita sedang tertekan? Saat
seseorang tertekan, ia cenderung untuk melakukan segala sesuatu menuruti
kehendak dan keinginannya
sendiri.
Karena kekuatiran dan ketakutan menghimpit jiwa dan perasaannya.
Seseorang akan dengan mudah meninggalkan imannya dan tidak percaya lagi
pada janji-janji Allah.
Sebenarnya
ketika kita merasa tertekan, kita mempunyai kesempatan untuk bertumbuh.
Jika saja kita mau melihatnya dengan cara pandang yang positif.
Kehidupan ini tidak akan pernah lepas dari yang namanya tekanan, stress
dan musibah. Tetapi ketika kita membiarkan kerohanian kita dipelihara
oleh Yesus, maka tekanan itu akan menghasilkan sesuatu yang
baru.
Kekuatiran kita akan berubah menjadi ketenangan dan pengharapan,
kata-kata kasar yang biasa keluar dari mulut kita akan menjadi kata-kata
puji- pujian. Roh Kudus akan senantiasa mengajar dan menolong kita
untuk menjadi lebih dekat dengan Tuhan. Dan kehidupan kita akan dipenuhi
oleh buah- buah Roh yang kita hasilkan. Sebab lewat tekanan kita pasti
akan melihat kemuliaan Allah, asal kita tetap berserah dan percaya
padaNya. Tetaplah tinggal di dalam Yesus, sebab di luar Yesus kita tidak
bisa berbuat apa-apa.
YANG PENTING BUKAN SEBERAPA BERAT TEKANAN YANG MENGHIMPIT KITA, TETAPI MAKSUD APA YANG TERSEMBUNYI DI BALIK TEKANAN ITU
Gbu all...
Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Roma 12:11
Senin, 03 Agustus 2015
Minggu, 02 Agustus 2015
Pendaki Gunung
Suatu ketika, ada seorang pendaki gunung yang sedang bersiap-siap melakukan perjalanan. Di
punggungnya, ada ransel carrier dan beragam carabiner (pengait) yang
tampak bergelantungan. Tak lupa tali-temali yang disusun melingkar di
sela-sela bahunya. Pendakian kali ini cukup berat, persiapan yang dilakukan pun lebih lengkap.
Kini, di hadapannya menjulang sebuah gunung yang tinggi. Puncaknya tak terlihat, tertutup salju yang putih. Ada awan berarak-arak disekitarnya, membuat tak seorangpun tahu apa yang tersembunyi didalamnya. Mulailah pendaki muda ini melangkah, menapaki jalan-jalan bersalju yang terbentang di hadapannya. Tongkat berkait yang di sandangnya, tampak menancap setiap kali ia mengayunkan langkah.
Setelah beberapa berjam-jam berjalan, mulailah ia menghadapi dinding yangterjal. Tak mungkin baginya untuk terus melangkah. Dipersiapkannya tali temali dan pengait di punggungnya. Tebing itu terlalu curam, ia harus mendaki dengan tali temali itu. Setelah beberapa kait ditancapkan,tiba-tiba terdengar gemuruh yang datang dari atas. Astaga, ada badai salju yang datang tanpa disangka. Longsoran salju tampak deras menimpa tubuh sang pendaki. Bongkah-bongkah salju yang mengeras, terus berjatuhan disertai deru angin yang membuat tubuhnya terhempas-hempas ke arah dinding.
Badai itu terus berlangsung selama beberapa menit. Namun, untunglah,tali-temali dan pengait telah menyelamatkan tubuhnya dari dinding yang curam itu. Semua perlengkapannya telah lenyap, hanya ada sebilah pisau yang ada di pinggangnya. Kini ia tampak tergantung terbalik di dinding yang terjal itu. Pandangannya kabur, karena semuanya tampak memutih. ia tak tahu dimana ia berada.
Sang pendaki begitu cemas, lalu ia berkomat-kamit, memohon doa kepada Tuhan agar diselamatkan dari bencana ini. Mulutnya terus bergumam, berharap ada pertolongan Tuhan datang padanya.
Suasana hening setelah badai. Di tengah kepanikan itu, tampak terdengar suara dari hati kecilnya yang menyuruhnya melakukan sesuatu. "Potong tali itu.... potong tali itu.
Terdengar senyap melintasi telinganya. Sang pendaki bingung, apakah ini perintah dari Tuhan? Apakah suara ini adalah pertolongan dari Tuhan? Tapi bagaimana mungkin, memotong tali yang telah menyelamatkannya, sementara dinding ini begitu terjal? Pandanganku terhalang oleh salju ini, bagaimana aku bisa tahu? Banyak sekali pertanyaan dalam dirinya. Lama ia merenungi keputusan ini, dan ia tak mengambil keputusan apa-apa...
Beberapa minggu kemudian, seorang pendaki menemukan ada tubuh yang tergantung terbalik di sebuah dinding terjal. Tubuh itu tampak membeku,dan tampak telah meninggal karena kedinginan. Sementara itu, batas tubuh itu dengan tanah, hanya berjarak 1 meter saja....
Teman, kita mungkin kita akan berkata, betapa bodohnya pendaki itu, yang tak mau menuruti kata hatinya. Kita mungkin akan menyesalkan tindakan pendaki itu yang tak mau memotong saja tali pengaitnya. Pendaki itu tentu akan bisa selamat dengan membiarkannya terjatuh ke tanah yang hanya berjarak 1 meter. Ia tentu tak harus mati kedinginan karena tali itulah yang justru membuatnya terhalang.
Begitulah, kadang kita berpikir, mengapa Sang Pencipta tampak tak melindungi hamba-Nya? Kita mungkin sering merasa, mengapa ada banyak sekali beban,masalah, hambatan yang kita hadapi dalam mendaki jalan kehidupan ini. Kita sering mendapati ada banyak sekali badai-badai salju yang terus menghantam tubuh kita. Mengapa tak disediakan saja, jalan yang lurus, tanpa perlu menanjak, agar kita terbebas dari semua halangan itu?
Namun teman, cobaan yang diberikan Sang Pencipta buat kita, adalah latihan,adalah ujian, adalah layaknya besi-besi yang ditempa, adalah seperti pisau-pisau yang terus diasah. Sesungguhnya, di dalam semua ujian, dan latihan itu,ada tersimpan petunjuk-petunjuk, ada tersembunyi tanda-tanda, asal KITA PERCAYA.
Ya, asal kita percaya.
Seberapa besar rasa percaya kita kepada Sang Pencipta, sehingga mampu membuat kita "memotong tali pengait" saat kita tergantung terbalik? Seberapa besar rasa percaya kita kepada Sang Pencipta, hingga kita mau menyerahkan semua yang ada dalam diri kita kepada-Nya?
Karena percaya adanya di dalam hati, maka tanamkan terus hal itu dalam kalbumu. Karena rasa percaya tersimpan dalam hati,maka penuhilah nuranimu dengan kekuatan itu.Percayalah, akan ada petunjuk-petunjuk Sang Pencipta dalam setiap langkah kita menapaki jalan kehidupan ini. Carilah, gali, dan temukan rasa percaya itu dalam hatimu. Sebab, saat kita telah percaya, maka petunjuk itu akan datang dengan tanpa disangka.
Gbu all...
Kini, di hadapannya menjulang sebuah gunung yang tinggi. Puncaknya tak terlihat, tertutup salju yang putih. Ada awan berarak-arak disekitarnya, membuat tak seorangpun tahu apa yang tersembunyi didalamnya. Mulailah pendaki muda ini melangkah, menapaki jalan-jalan bersalju yang terbentang di hadapannya. Tongkat berkait yang di sandangnya, tampak menancap setiap kali ia mengayunkan langkah.
Setelah beberapa berjam-jam berjalan, mulailah ia menghadapi dinding yangterjal. Tak mungkin baginya untuk terus melangkah. Dipersiapkannya tali temali dan pengait di punggungnya. Tebing itu terlalu curam, ia harus mendaki dengan tali temali itu. Setelah beberapa kait ditancapkan,tiba-tiba terdengar gemuruh yang datang dari atas. Astaga, ada badai salju yang datang tanpa disangka. Longsoran salju tampak deras menimpa tubuh sang pendaki. Bongkah-bongkah salju yang mengeras, terus berjatuhan disertai deru angin yang membuat tubuhnya terhempas-hempas ke arah dinding.
Badai itu terus berlangsung selama beberapa menit. Namun, untunglah,tali-temali dan pengait telah menyelamatkan tubuhnya dari dinding yang curam itu. Semua perlengkapannya telah lenyap, hanya ada sebilah pisau yang ada di pinggangnya. Kini ia tampak tergantung terbalik di dinding yang terjal itu. Pandangannya kabur, karena semuanya tampak memutih. ia tak tahu dimana ia berada.
Sang pendaki begitu cemas, lalu ia berkomat-kamit, memohon doa kepada Tuhan agar diselamatkan dari bencana ini. Mulutnya terus bergumam, berharap ada pertolongan Tuhan datang padanya.
Suasana hening setelah badai. Di tengah kepanikan itu, tampak terdengar suara dari hati kecilnya yang menyuruhnya melakukan sesuatu. "Potong tali itu.... potong tali itu.
Terdengar senyap melintasi telinganya. Sang pendaki bingung, apakah ini perintah dari Tuhan? Apakah suara ini adalah pertolongan dari Tuhan? Tapi bagaimana mungkin, memotong tali yang telah menyelamatkannya, sementara dinding ini begitu terjal? Pandanganku terhalang oleh salju ini, bagaimana aku bisa tahu? Banyak sekali pertanyaan dalam dirinya. Lama ia merenungi keputusan ini, dan ia tak mengambil keputusan apa-apa...
Beberapa minggu kemudian, seorang pendaki menemukan ada tubuh yang tergantung terbalik di sebuah dinding terjal. Tubuh itu tampak membeku,dan tampak telah meninggal karena kedinginan. Sementara itu, batas tubuh itu dengan tanah, hanya berjarak 1 meter saja....
Teman, kita mungkin kita akan berkata, betapa bodohnya pendaki itu, yang tak mau menuruti kata hatinya. Kita mungkin akan menyesalkan tindakan pendaki itu yang tak mau memotong saja tali pengaitnya. Pendaki itu tentu akan bisa selamat dengan membiarkannya terjatuh ke tanah yang hanya berjarak 1 meter. Ia tentu tak harus mati kedinginan karena tali itulah yang justru membuatnya terhalang.
Begitulah, kadang kita berpikir, mengapa Sang Pencipta tampak tak melindungi hamba-Nya? Kita mungkin sering merasa, mengapa ada banyak sekali beban,masalah, hambatan yang kita hadapi dalam mendaki jalan kehidupan ini. Kita sering mendapati ada banyak sekali badai-badai salju yang terus menghantam tubuh kita. Mengapa tak disediakan saja, jalan yang lurus, tanpa perlu menanjak, agar kita terbebas dari semua halangan itu?
Namun teman, cobaan yang diberikan Sang Pencipta buat kita, adalah latihan,adalah ujian, adalah layaknya besi-besi yang ditempa, adalah seperti pisau-pisau yang terus diasah. Sesungguhnya, di dalam semua ujian, dan latihan itu,ada tersimpan petunjuk-petunjuk, ada tersembunyi tanda-tanda, asal KITA PERCAYA.
Ya, asal kita percaya.
Seberapa besar rasa percaya kita kepada Sang Pencipta, sehingga mampu membuat kita "memotong tali pengait" saat kita tergantung terbalik? Seberapa besar rasa percaya kita kepada Sang Pencipta, hingga kita mau menyerahkan semua yang ada dalam diri kita kepada-Nya?
Karena percaya adanya di dalam hati, maka tanamkan terus hal itu dalam kalbumu. Karena rasa percaya tersimpan dalam hati,maka penuhilah nuranimu dengan kekuatan itu.Percayalah, akan ada petunjuk-petunjuk Sang Pencipta dalam setiap langkah kita menapaki jalan kehidupan ini. Carilah, gali, dan temukan rasa percaya itu dalam hatimu. Sebab, saat kita telah percaya, maka petunjuk itu akan datang dengan tanpa disangka.
Gbu all...
Sabtu, 01 Agustus 2015
BELAJAR MELEPASKAN
Tetapi istri Lot, yang berjalan mengikutinya, menoleh ke belakang,lalu menjadi tiang garam (Kejadian 19:26)
Walaupun tidak selalu setuju dengan produknya, saya tertarik pada beberapa ide iklan di televisi. Salah satunya adalah iklan yang menceritakan seorang lelaki yang diberhentikan dari pekerjaannya sebagai pegawai. Dengan sedih ia membereskan semua barangnya yang penuh kenangan, lalu kembali ke rumahnya. Saat membereskan beberapa barang, ia justru menemukan ide untuk membangun bengkel. Dari seorang pegawai yang diberhentikan, ia menjadi seorang pengusaha yang membuka lapangan kerja bagi orang lain.
Sodom dan Gomora terletak di lembah Yordan yang berlimpah air, sehingga Lot memilihnya ketika akan berpisah dengan Abram. Namun, karena kejahatan penduduk kota tersebut, Sodom dan Gomora hendak dimusnahkan. Meski demikian, Tuhan memberi kesempatan kepada Lot untuk menyelamatkan diri dengan berlari ke Zoar. Sayangnya, istri Lot tak menuruti petunjuk malaikat Tuhan. Ia menoleh ke belakang-seakan- akan ia tidak rela meninggalkan kota tempat tinggalnya yang nyaman tersebut. Dan ia pun menjadi tiang garam.
Hal-hal pada masa lalu kita mungkin sudah nyaman dan menyenangkan bagi kita. Akan tetapi, sebagaimana kehidupan Lot, ada kalanya Allah melihat sesuatu yang takkan berakibat baik apabila kita terus ada di tempat atau situasi yang sama. Dan, mempertahankan semuanya hanya akan membuat kita terhambat dan tidak akan maju. Karena itu, penting sekali bagi kita untuk memiliki hati pasrah bersandar kepada Tuhan; kemudian menata hati, bersiap menyambut hal-hal baru yang mungkin akan hadir. Dia jauh lebih tahu mana yang paling penting dan berharga dari hidup kita --SL
ALLAH SELALU BEKERJA UNTUK KEBAIKAN BAHKAN KETIKA TAMPAKNYA SAYA HARUS KEHILANGAN
Walaupun tidak selalu setuju dengan produknya, saya tertarik pada beberapa ide iklan di televisi. Salah satunya adalah iklan yang menceritakan seorang lelaki yang diberhentikan dari pekerjaannya sebagai pegawai. Dengan sedih ia membereskan semua barangnya yang penuh kenangan, lalu kembali ke rumahnya. Saat membereskan beberapa barang, ia justru menemukan ide untuk membangun bengkel. Dari seorang pegawai yang diberhentikan, ia menjadi seorang pengusaha yang membuka lapangan kerja bagi orang lain.
Sodom dan Gomora terletak di lembah Yordan yang berlimpah air, sehingga Lot memilihnya ketika akan berpisah dengan Abram. Namun, karena kejahatan penduduk kota tersebut, Sodom dan Gomora hendak dimusnahkan. Meski demikian, Tuhan memberi kesempatan kepada Lot untuk menyelamatkan diri dengan berlari ke Zoar. Sayangnya, istri Lot tak menuruti petunjuk malaikat Tuhan. Ia menoleh ke belakang-seakan- akan ia tidak rela meninggalkan kota tempat tinggalnya yang nyaman tersebut. Dan ia pun menjadi tiang garam.
Hal-hal pada masa lalu kita mungkin sudah nyaman dan menyenangkan bagi kita. Akan tetapi, sebagaimana kehidupan Lot, ada kalanya Allah melihat sesuatu yang takkan berakibat baik apabila kita terus ada di tempat atau situasi yang sama. Dan, mempertahankan semuanya hanya akan membuat kita terhambat dan tidak akan maju. Karena itu, penting sekali bagi kita untuk memiliki hati pasrah bersandar kepada Tuhan; kemudian menata hati, bersiap menyambut hal-hal baru yang mungkin akan hadir. Dia jauh lebih tahu mana yang paling penting dan berharga dari hidup kita --SL
ALLAH SELALU BEKERJA UNTUK KEBAIKAN BAHKAN KETIKA TAMPAKNYA SAYA HARUS KEHILANGAN
Gbu all...
Jumat, 31 Juli 2015
Anda lah Yang Menentukan
Kejadian
27:39-40 - Lalu Ishak, ayahnya, menjawabnya: "Sesungguhnya tempat
kediamanmu akan jauh dari tanah-tanah gemuk di bumi dan jauh dari embun
dari langit di atas. Engkau akan hidup dari pedangmu dan engkau akan
menjadi hamba adikmu. Tetapi akan terjadi kelak, apabila engkau berusaha
sungguh-sungguh, maka engkau akan melemparkan kuk itu dari tengkukmu."
Kejadian 29:20 - Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk
mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti
beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel. Yosua 14:13 - Lalu
Yosua memberkati Kaleb bin Yefune, dan diberikannyalah Hebron kepadanya
menjadi milik pusakanya. Yosua 15:14 - Dan Kaleb menghalau dari sana
ketiga orang Enak, yakni Sesai, Ahiman dan Talmai, anak-anak Enak.
Dalam Ensiklopedi Umum dijelaskan bahwa fatalisme adalah sebuah ajaran atau sebuah paham yang percaya bahwa semua keadaan atau perbuatan seseorang sudah dipastikan lebih dahulu oleh nasib (fatum). Manusia tidak dapat atau tidak akan berhasil mengubah jalannya keadaan atau perbuatannya, walaupun ia atau orang lain berusaha kearah itu. Sisi positif dari paham ini adalah membuat orang tidak ngotot dan tidak serakah dalam memperjuangkan sesuatu dan menjadikannya ”nrimo” dengan apa yang diperolehnya. Tetapi, sisi negatifnya yang sangat fatal adalah tidak ada usaha untuk mengubah keadaan dirinya atau tidak ada usaha untuk lebih maju karena semua dipandang sudah ”ditentukan”.
Berbeda dengan para penganut fatalisme, Martha Tilaar, seorang pendiri sekaligus CEO Martha Tilaar Group berpendapat bahwa nasib atau perjalanan hidup seseorang ditentukan oleh dirinya sendiri. Seandainya, Martha Tilaar menyerah pada nasib, maka ia akan tetap menjadi guru, walaupun guru juga profesi yang mulia. Tetapi Martha Tilaar ingin lebih dari itu. Sekarang, siapa yang tidak kenal Sariayu Martha Tilaar. Sejalan dengan Martha Tilaar, bertahun-tahun sebelumnya, Miguel de Unamuno, seorang penulis dari Spanyol yang hidup tahun 1864-1936, berkata, ”Roda kehidupan tidak mudah ditebak. Jika kita percaya padanya tanpa sedikit pun keraguan, sama saja dengan bunuh diri.” Tentu yang dimaksud oleh Miguel de Unamuno adalah supaya kita menjadi semakin siap dalam mengarungi kehidupan ini, tidak hanya menyerah pada ”perputaran roda” tersebut.
Pendapat Martha Tilaar dan Miguel de Unamuno sebenarnya sudah lebih dahulu dikatakan oleh seorang tokoh dalam Alkitab, yaitu Ishak. Dikatakan, Engkau akan hidup dari pedangmu dan engkau akan menjadi hamba adikmu. Tetapi akan terjadi kelak, apabila engkau berusaha sungguh-sungguh, maka engkau akan melemparkan kuk itu dari tengkukmu." (Kej. 27:40). Sejarah tokoh-tokoh dalam Alkitab yang lainpun dipenuhi dengan usaha keras, sebut saja Yakub, yang untuk mendapatkan Rahel ia harus bekerja keras selama 14 tahun kepada Laban. Lalu Kaleb, ”orang tua” yang tetap berjuang untuk mendapatkan tanah pusaka (Yos 14:13; 15:14). Dan akan sangat banyak jika disebutkan satu persatu dari mereka yang mau berusaha untuk mendapat yang terbaik dalam hidupnya dan tidak begitu saja menyerah pada nasib.
Mungkin saat ini Anda mengalami nasib yang kurang menguntungkan, Anda orang yang tidak berharta banyak, Anda tergolong pas-pasan dalam kepandaian atau termasuk ”rakyat jelata” yang tersingkirkan dalam persaingan kehidupan ini. Yakinilah, jika Anda berusaha sungguh-sungguh, maka Anda akan melemparkan kuk itu dari tengkuk Anda. Tetapi, jangan lupa bahwa Tuhanlah yang memberikan kekuatan bagi Anda untuk berusaha, oleh sebab itu tetaplah mengandalkan Tuhan dalam setiap usaha Anda.
DOA:
Bapa, mampukan aku untuk terus berusaha mengubah kehidupanku menjadi lebih baik lagi. Dalam nama Tuhan Yesus aku memohon. Amin.
Dalam Ensiklopedi Umum dijelaskan bahwa fatalisme adalah sebuah ajaran atau sebuah paham yang percaya bahwa semua keadaan atau perbuatan seseorang sudah dipastikan lebih dahulu oleh nasib (fatum). Manusia tidak dapat atau tidak akan berhasil mengubah jalannya keadaan atau perbuatannya, walaupun ia atau orang lain berusaha kearah itu. Sisi positif dari paham ini adalah membuat orang tidak ngotot dan tidak serakah dalam memperjuangkan sesuatu dan menjadikannya ”nrimo” dengan apa yang diperolehnya. Tetapi, sisi negatifnya yang sangat fatal adalah tidak ada usaha untuk mengubah keadaan dirinya atau tidak ada usaha untuk lebih maju karena semua dipandang sudah ”ditentukan”.
Berbeda dengan para penganut fatalisme, Martha Tilaar, seorang pendiri sekaligus CEO Martha Tilaar Group berpendapat bahwa nasib atau perjalanan hidup seseorang ditentukan oleh dirinya sendiri. Seandainya, Martha Tilaar menyerah pada nasib, maka ia akan tetap menjadi guru, walaupun guru juga profesi yang mulia. Tetapi Martha Tilaar ingin lebih dari itu. Sekarang, siapa yang tidak kenal Sariayu Martha Tilaar. Sejalan dengan Martha Tilaar, bertahun-tahun sebelumnya, Miguel de Unamuno, seorang penulis dari Spanyol yang hidup tahun 1864-1936, berkata, ”Roda kehidupan tidak mudah ditebak. Jika kita percaya padanya tanpa sedikit pun keraguan, sama saja dengan bunuh diri.” Tentu yang dimaksud oleh Miguel de Unamuno adalah supaya kita menjadi semakin siap dalam mengarungi kehidupan ini, tidak hanya menyerah pada ”perputaran roda” tersebut.
Pendapat Martha Tilaar dan Miguel de Unamuno sebenarnya sudah lebih dahulu dikatakan oleh seorang tokoh dalam Alkitab, yaitu Ishak. Dikatakan, Engkau akan hidup dari pedangmu dan engkau akan menjadi hamba adikmu. Tetapi akan terjadi kelak, apabila engkau berusaha sungguh-sungguh, maka engkau akan melemparkan kuk itu dari tengkukmu." (Kej. 27:40). Sejarah tokoh-tokoh dalam Alkitab yang lainpun dipenuhi dengan usaha keras, sebut saja Yakub, yang untuk mendapatkan Rahel ia harus bekerja keras selama 14 tahun kepada Laban. Lalu Kaleb, ”orang tua” yang tetap berjuang untuk mendapatkan tanah pusaka (Yos 14:13; 15:14). Dan akan sangat banyak jika disebutkan satu persatu dari mereka yang mau berusaha untuk mendapat yang terbaik dalam hidupnya dan tidak begitu saja menyerah pada nasib.
Mungkin saat ini Anda mengalami nasib yang kurang menguntungkan, Anda orang yang tidak berharta banyak, Anda tergolong pas-pasan dalam kepandaian atau termasuk ”rakyat jelata” yang tersingkirkan dalam persaingan kehidupan ini. Yakinilah, jika Anda berusaha sungguh-sungguh, maka Anda akan melemparkan kuk itu dari tengkuk Anda. Tetapi, jangan lupa bahwa Tuhanlah yang memberikan kekuatan bagi Anda untuk berusaha, oleh sebab itu tetaplah mengandalkan Tuhan dalam setiap usaha Anda.
DOA:
Bapa, mampukan aku untuk terus berusaha mengubah kehidupanku menjadi lebih baik lagi. Dalam nama Tuhan Yesus aku memohon. Amin.
Gbu all....
Kamis, 30 Juli 2015
MEMPERKATAKAN FIRMAN DENGAN IMAN
“Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan.” Ulangan 30:14.
Kita mengungkapkan pikiran, perasaan dan gagasan melalui perkataan atau bahasa. Perkataan kita akan membentuk hidup kita, karena hal itu mempengaruhi jalan pikiran, pola hidup dan tindak-tanduk kita. Firman Tuhan merupakan dasar bahasa iman yang dapat membangun kehidupan rohani kita. Bila rohani kita kuat berakar dalam Kristus, kita dapat dengan yakin merasakan kuasa Tuhan bekerja dalam hidup kita; dan dimana kuasa Tuhan bekerja, di situ pasti ada berkat dan mujizat.
Alkitab menasihati, “Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu,…” (Kolose 2:7). Dikatakan bahwa firman Tuhan tidak jauh dari jangkauan kita, melainkan sangat dekat yaitu di dalam mulut dan di dalam hati kita. Jadi kita harus menggunakan perkataan Tuhan atau memperkatakan firmanNya setiap kali sesuai dengan apa yang kita butuhkan agar berkat, kasih serta mujizatNya dilimpahkan atas kita. Dikatakan pula bahwa firman itu sangat dekat di dalam hati, artinya harus ada iman di dalam hati sewaktu kita memperkatakan firman itu.
Adalah sia-sia sekalipun kita memperkatakan firmanNya seribu kali sehari jika hati kita tidak yakin dan tidak ada iman; semuanya hanya merupakan rentetan kalimat yang kosong, tidak ada kuasa Tuhan bekerja. Firman Tuhan jangan hanya digunakan waktu kita dalam masalah saja, tetapi di segala keadaan. Adalah Daud, yang selalu menggunakan bahasa iman meski keadaan normal: “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” (Mazmur 23:1). Daud mengakui Tuhan adalah gembalanya yang sanggup mencukupkan segala yang ia perlukan. Daud bersyukur dan memuji Tuhan atas berkat-berkatNya yang melimpah. Daud memakai bahasa iman: mengijinkan kemuliaan dan berkat Tuhan mengalir terus dalam hidupnya. Perkataan firmanNya dengan iman setiap saat dan jangan beri kesempatan kuasa jahat membisikkan hal-hal negatif di telinga kita.
“Awasi mulutku, ya Tuhan, berjagalah pada pintu bibirku!” (Mazmur 141:3) supaya firmanMu saja yang kuucapkan!
Gbu all...
Kita mengungkapkan pikiran, perasaan dan gagasan melalui perkataan atau bahasa. Perkataan kita akan membentuk hidup kita, karena hal itu mempengaruhi jalan pikiran, pola hidup dan tindak-tanduk kita. Firman Tuhan merupakan dasar bahasa iman yang dapat membangun kehidupan rohani kita. Bila rohani kita kuat berakar dalam Kristus, kita dapat dengan yakin merasakan kuasa Tuhan bekerja dalam hidup kita; dan dimana kuasa Tuhan bekerja, di situ pasti ada berkat dan mujizat.
Alkitab menasihati, “Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu,…” (Kolose 2:7). Dikatakan bahwa firman Tuhan tidak jauh dari jangkauan kita, melainkan sangat dekat yaitu di dalam mulut dan di dalam hati kita. Jadi kita harus menggunakan perkataan Tuhan atau memperkatakan firmanNya setiap kali sesuai dengan apa yang kita butuhkan agar berkat, kasih serta mujizatNya dilimpahkan atas kita. Dikatakan pula bahwa firman itu sangat dekat di dalam hati, artinya harus ada iman di dalam hati sewaktu kita memperkatakan firman itu.
Adalah sia-sia sekalipun kita memperkatakan firmanNya seribu kali sehari jika hati kita tidak yakin dan tidak ada iman; semuanya hanya merupakan rentetan kalimat yang kosong, tidak ada kuasa Tuhan bekerja. Firman Tuhan jangan hanya digunakan waktu kita dalam masalah saja, tetapi di segala keadaan. Adalah Daud, yang selalu menggunakan bahasa iman meski keadaan normal: “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” (Mazmur 23:1). Daud mengakui Tuhan adalah gembalanya yang sanggup mencukupkan segala yang ia perlukan. Daud bersyukur dan memuji Tuhan atas berkat-berkatNya yang melimpah. Daud memakai bahasa iman: mengijinkan kemuliaan dan berkat Tuhan mengalir terus dalam hidupnya. Perkataan firmanNya dengan iman setiap saat dan jangan beri kesempatan kuasa jahat membisikkan hal-hal negatif di telinga kita.
“Awasi mulutku, ya Tuhan, berjagalah pada pintu bibirku!” (Mazmur 141:3) supaya firmanMu saja yang kuucapkan!
Gbu all...
Langganan:
Postingan (Atom)