Sabtu, 30 Juni 2012

Kompromi

Kompromi

Bacaan Hari Ini:
Lukas 12:31 "Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu."

Mari kita renungkan ayat di bacaan hari ini dalam Lukas 12:31, "Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu."

Ini adalah prinsip sederhana namun bermakna dalam menjalani hidup kita : Kita harus menempatkan Kerajaan Allah pada tempat yang pertama, jika kita ingin mengalami kelimpahan berkat dari Tuhan.

Banyak orang Kristen terjebak dalam dorongan untuk mencapai kemakmuran dan lupa bahwa keinginan Allah yang terbesar ialah agar kita mencari Kerajaan-Nya terlebih dahulu.
Bahkan, saya rasa beberapa anak-anak Allah cenderung merasa frustasi karena terlalu berambisi dalam mencapai kemakmuran.
Mereka dapat melihat janji kemakmuran dalam Firman Tuhan, namun mereka tidak sabar menanti, dan bertanya, "Tuhan, apa kabar?"

Saya pikir ini merupakan masalah hati.
Allah tidak akan memberi berkatnya pada mereka karena mereka mungkin belum cukup dewasa secara rohani dalam mengatasi tingkat kemakmuran yang mereka cari.
Kemakmuran yang mereka cari dapat mencelakakan hidup mereka.
Hal ini mengingatkan saya akan rekan kerja saya yang masih muda, beberapa tahun yang lalu.
Dia adalah orang yang percaya, namun tengah berjuang mengatasi masalah finansial.
Suatu malam ketika kami berada di sebuah restoran setelah pulang bekerja, ia bercerita tentang kesulitan yang sedang dia alami.

Kami berdoa agar Tuhan melakukan sesuatu yang bersifat ilahi dalam membantunya menjalani saat-saat yang sulit itu.
Dua hari kemudian, dia mendapatkan harta warisan yang tak terduga.
Warisan yang sangat besar!
Dan Anda tahu?
Minggu berikutnya ia tidak bekerja.
Ia malah sibuk berpesta.
Tiba-tiba, kehidupan gerejawinya berhenti dan dia berjalan menjauh dari relasinya dengan Tuhan.
Dia sama sekali tidak memiliki kedewasaan dalam menangani kesuksesannya.

Jika dibandingkan dengan kegagalan, saya rasa kesuksesan lebih merusak hidup banyak orang.
Telah dikatakan dalam Alkitab bahwa uang adalah hal yang paling berbahaya yang dapat Tuhan percayakan kepada Anda.
Gbu all..

Jumat, 29 Juni 2012

Rahasia dalam Memperoleh Berkat Tuhan

Rahasia dalam Memperoleh Berkat Tuhan

Bacaan Hari Ini:
Lukas 12:31-32 "Tetapi carilah kerajaan-Nya, maka semua itu akan ditambahkan kepadamu. Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu kerajaan itu."

Rahasia dalam memperoleh berkat Tuhan yaitu dengan menempatkan Kerajaan Allah sebagai prioritas utama, maka kemudian segala sesuatunya akan ditambahkan kepada Anda.
Itu termasuk jawaban dari semua hal yang Anda khawatirkan dan sedang diperjuangkan.
Tuhan berjanji akan menambahkan semuanya itu kepada Anda.

Bagi sebagian orang, Firman Tuhan ini terdengar terlalu simpel.
Ini bagaikan sebuah ide kekanak-kanakan yang cukup dikesampingkan saja.
Tetapi, jika Anda menganggap ini sepele, maka Anda melakukan kesalahan besar.
Jangan pernah meremehkan kekuatan dari sebuah ketaatan.
Ketika kita taat kepada Tuhan dan semua prioritas kita berjalan dalam Tuhan, maka Dia akan membukakan kunci dan memberikan berkat-berkat yang luar biasa dalam hidup kita.

Ketika kita menempatkan sisi rohani di atas sisi materi, dan ketika kita melakukan visi dan misi dari Kerajaan Allah sebelum melakukan keinginan pribadi kita, maka hal ini akan membawa banyak berkat yang akan ditambahkan dalam hidup Anda.

Saya pernah membaca tentang J.L. Kraft.
Ia memulai usahanya dengan menjual keju di jalan-jalan di Chicago, namun ia gagal total.
Suatu hari seorang teman Kristen berkata kepadanya, "JL, Anda tidak menempatkan Tuhan sebagai prioritas utama dalam hidup atau dalam bisnis Anda. Utamakan Dia dalam segala hal yang Anda lakukan, dan Anda akan melihat hasil yang berbeda."

Semenjak hari itu, dia mengutamakan Kerajaan Allah terlebih dahulu dalam segala hal, dan akhirnya dia pun berhasil membangun kerajaan keju terbesar di dunia.
Gbu all...

Kamis, 28 Juni 2012

MILIKI BELAS KASIHAN

MILIKI BELAS KASIHAN
Ayat Pokok: Matius 9:13a
Oleh: Pdt. Stefanus Hadi Prayitno, Malang


pdt stefanus hadi prayitno.jpgKetika suatu hari Yesus dan murid-murid duduk makan bersama para pemungut cukai dan orang berdosa lainnya, orang-orang Farisi mempersoalkannya.  “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”
Tetapi jawab Yesus, “... Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan...”

Belas Kasihan
Dalam bahasa Yunani, kata “belas kasihan” ialah “elios” atau “kane” dalam bahasa Ibrani, berarti hati yang penuh rasa iba.  
Ketika malaikat Tuhan membawa Lot dan keluarganya keluar dari kota Sodom dan Gomora, ia merasa telah memperoleh belas kasihan Allah – Kejadian 19:19.  Belas kasihan Allah meluputkan Lot sekeluarga dari kebinasaan.
Yesus adalah Sosok yang penuh belas kasih.  Sepanjang pelayananNya di bumi, kitab Injil banyak menulis tentang bagaimana hati Yesus amat mudah tergerak oleh belas kasihan.  Melihat begitu banyak orang yang dengan setia mengikut dan mendengarkan Dia selama tiga hari, hatiNya tergerak oleh belas kasihan dan Ia memberi mereka makan sampai kenyang.  Jumlah mereka 4000 orang laki-laki saja – Matius 15:32-38.
Melihat seorang kusta yang datang, hatiNya pun tergerak oleh belas kasihan, lalu menjamah dan menyembuhkan orang itu – Markus 1:41.

Tiga Gaya Hidup Orang Yang Berbelas Kasih
Di dalam Kristus Yesus ada: “... nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan” – Filipi 2:1.  Demikianlah ‘belas kasihan’ harus menjadi salah satu ciri yang membedakan anak-anak Tuhan dengan dunia!  Mari, saya ingin kita belajar dan memiliki hati yang penuh dengan belas kasihan.
Tiga gaya hidup orang yang memiliki belas kasihan:

1. Memiliki Iman & Beban Untuk Berdoa Bagi Orang Lain
   Kita harus memiliki iman dan beban untuk berdoa bagi orang lain.
    Contoh:
     -> Perwira Kapernaum – Matius 8:5-8,10
     Ia orang kafir, non-Yahudi, tetapi ia memiliki iman yang besar
     serta terbeban untuk kesembuhan hambanya yang lumpuh!
     Ia memohon bukan untuk diri, isteri atau anaknya, melainkan
     untuk hambanya.
 
     Kata “hamba” dalam bahasa Ibrani:
     1. “Fais” = terpaksa menjadi hamba karena keadaan perekonomian;
     2. “Dolos” = meski dalam status ekonomi yang cukup, namun rela
        menyerahkan diri menjadi hamba. Persis seperti yang telah
        dilakukan oleh Yesus.
 
     Ia datang kepada Yesus dengan penuh iman: hambanya akan sembuh
     jika Yesus mengucapkan sepatah kata saja! Luarbiasa! Yesus amat
     heran dan berkata, “... sesungguhnya iman sebesar ini tidak
     pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel...”


     -> Abraham – Kejadian 18:16-33
     Abraham terbeban untuk berdoa bagi Lot dan keluarganya yang
     tinggal di Sodom. Enam kali ia berdoa dan tawar-menawar
     dengan Allah. Berkat doa Abraham, Lot sekeluarga selamat!

2. Miliki Beban Untuk Bersaksi Bagi Keselamatan Orang lain
   Amanat Agung ditinggalkan Yesus agar saudara dan saya pergi,
   “jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam
   nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus...”
– Matius 28:19-20.
   Jangan malu bersaksi, atau, Ia pun akan malu mengakui kita
   – Lukas 9:26.
   Contoh:
    -> Perempuan Samaria – Yohanes 4:39
     Setelah pertemuannya dengan Yesus di pinggir sumur Yakub dan
     menjadi percaya, perempuan Samaria tidak tinggal diam. Ia pergi
     dan langsung bersaksi kepada orang-orang sekampungnya. Alkitab
     mencatat, “Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi
     percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi:
     "Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.”


3. Rela Tinggalkan Zona Nyaman
   Yesus rela meninggalkan segalanya: mengosongkan diri, mengambil rupa
   seorang hamba, menjadi sama dengan manusia, merendahkan diri, bahkan
   taat sampai mati disalib – Filipi 2:6-8. Mengapa? Untuk menyelamatkan
   saudara dan saya!
   Contoh:
   -> Musa – Ibrani 11:24-25
     Setelah dewasa, karena iman, Musa menolak disebut sebagai anak
     puteri Firaun.  Ia lebih memilih hidup menderita bersama bangsanya. 

“Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu” – Amsal 19:17.  Upah bagi yang menaruh belas kasihan pada yang menderita: kebahagiaan – Amsal 14:21b.  Itulah kebahagiaan yang sesungguhnya.
Allah menghendaki belas kasihan!  Bukan persembahan!  Tanpa kasih, semua perbuatan baik saudara dan saya menjadi sia-sia dan samasekali tak berarti.  Sudahkah saudara memiliki belas kasihan?  Apakah saudara memiliki ketiga gaya hidup di atas?  Sebagaimana Allah mengasihi dan menaruh belas kasihan kepada kita, kiranya Roh Allah melimpahi setiap saudara untuk berbelas kasihan kepada orang lain. Tuhan Yesus memberkati saudara.

 

Rabu, 27 Juni 2012

Oxi

Oxi PDF Print E-mail
… di dalam Dia hanya ada “ya”...! 2 Korintus 1:19
oxi.jpgHidup sesungguhnya terdiri atas rentetan pilihan dan putusan. Kita dipaksakan memilih serta memutuskan sesuatu setiap hari.  Itulah hidup!  Ketika pada suatu momen kita harus mengambil keputusan amat penting dan menentukan, kita pun wajib menjaga perasaan hati kita. Beranikah kita memilih melakukan ‘ini’ atau ‘itu’, memutuskan ‘begini’ atau ‘begitu’; karena ‘aku begini’ dan ‘kamu begitu’!  Sama saja ..?  Pastinya .., tidak!
Kendati terkesan tak bermakna, “oxi” yang terukir pada pohon-pohon di dataran tinggi Peloponnesus, adalah simbol perlawanan para partisan Yunani tatkala negara itu diduduki Nazi Jerman pada Perang Dunia II.  Oxi, ialah simbol yang multi sektoral serta melintas zaman yang dipunyai orang-orang Yunani; sehingga negeri tua itu bisa terus survive hingga kini selepas dari cengkeraman Nazi.  Kata “oxi”, memiliki makna “tidak”!  Oxi, ialah materialisasi militansi semangat khas ala Yunani yang dipicu hasrat menggebu-gebu untuk mengatakan tidak kepada segala bentuk penjajahan.
So what, gitu loh ..?!  “Jika ya, hendaklah kamu katakan “ya”, jika tidak hendaklah kamu katakan “tidak”, supaya kamu jangan kena hukuman.” (Yakobus 5:12).  Ingatlah baik-baik; “Yesus Kristus, Anak Allah, yang telah kami beritakan di tengah-tengah kamu, … bukanlah “ya” dan “tidak”, tetapi sebaliknya di dalam Dia hanya ada “ya” …!”
Dari file mata pelajaran Surat Galatia dua angkatan yang lalu, saya mencermati militansi Paulus yang terlihat jelas mengejawantah dalam sikap tegasnya untuk tidak terikat oleh dosa-dosa yang dirangsang hukum Taurat  -dan dengan demikian harus hidup di luar Allah-  namun mampu senantiasa berkata “ya” dalam mengandalkan Roh Kudus untuk mematikan segenap perbuatan daging (sarx  –Yun.) yang menguatkan hawa nafsu.  Lihat Galatia 3:3, banding dengan Roma 8:4,5; Yohanes 8:30-36.
Sekarang, apakah yang anda kuatirkan lagi? Jangan bimbang!  Katakanlah “ya” kepada kehendak otoritas (kedaulatan) Firman-Nya,  dan “tidak” kepada  keinginan diri sendiri!(NVDK)
      
Makhluk yang paling menakjubkan adalah manusia,  karena dia bisa memilih untuk menjadi “setan” atau “malaikat”.  –Joh.Scheffer

Doa: Tuhan Yesus, mulai hari ini aku mau belajar tidak berbantah dengan kehendakMu, melainkan senantiasa berkata ya kepadaMu. Amin.

Selasa, 26 Juni 2012

PERALATAN, BUKAN BARANG PERTUNJUKAN





tools.jpgSalah satu masalah yang seringkali timbul dalam pertumbuhan kerohanian jemaat adalah ketidakmengertian dan kesalahpahaman dalam penggunaan karunia-karunia Roh yang diberikan kepada jemaat. Rasul Paulus menjelaskan baik dalam I Korintus 12: 7 maupun I Korintus 14: 12 bahwa karunia-karunia Roh memang diberikan secara khusus kepada masing-masing orang, tetapi hal itu diberikan untuk kepentingan bersama, yaitu untuk membangun kerohanian jemaat. Dengan demikian maka karunia-karunia Roh itu seharusnya menjadi peralatan yang digunakan untuk kepentingan membangun tubuh Kristus dimana kita masing-masing adalah anggotanya. Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. (I Korintus 12: 7)

tools.jpgSalah satu masalah yang seringkali timbul dalam pertumbuhan kerohanian jemaat adalah ketidakmengertian dan kesalahpahaman dalam penggunaan karunia-karunia Roh yang diberikan kepada jemaat. Rasul Paulus menjelaskan baik dalam I Korintus 12: 7 maupun I Korintus 14: 12 bahwa karunia-karunia Roh memang diberikan secara khusus kepada masing-masing orang, tetapi hal itu diberikan untuk kepentingan bersama, yaitu untuk membangun kerohanian jemaat. Dengan demikian maka karunia-karunia Roh itu seharusnya menjadi peralatan yang digunakan untuk kepentingan membangun tubuh Kristus dimana kita masing-masing adalah anggotanya.
Kalau saudara sedang membangun rumah, tetapi tidak memiliki peralatan atau memiliki peralatan yang tidak berfungsi dengan baik, maka rumah yang saudara dirikan tidak kunjung selesai, bukan? Demikian juga dalam usaha membangun rumah rohani saudara.
Karunia-karunia Roh bukanlah seperti barang pertunjukan yang dipertontonkan dengan rasa bangga seperti seorang anak kecil yang baru diberi sebuah boneka oleh orang tuanya. Karunia Roh tidak untuk diperlakukan seperti itu, meskipun dalam perhimpunan jemaat Tuhan sekalipun. Ada orang yang memperlakukan karunia Roh itu sebagai kebanggaan atau kesombongan secara rohani.
Sebagai contoh, coba lihat apa yang Rasul Paulus tuliskan dalam I Koritus 14: 18-19 tentang karunia berbahasa roh sbb: “Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih daripada kamu semua.Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh.”
Oleh karena itu, perlakukanlah karunia-karunia Roh yang saudara miliki sebagaimana yang Tuhan kehendaki dalam hidup saudara. Ingatlah maksud Tuhan yang sesungguhnya dengan pemberian karunia Roh itu bagi saudara dan tubuh Kristus secara keseluruhan. Berhati-hatilah dalam mempergunakan karunia rohani saudara. (PHM)

Doa: Tolongku Tuhan untuk memperlakukan karunia-karunia Roh-Mu sesuai dengan kehendak-Mu, yaitu menjadi alat yang berguna untuk membangun jemaatMu. Amin.