Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya.....
Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.
Lalu bagaimana dengan Papa?
Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,
tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng,
tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?
Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil......
Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.
Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu...
Kemudian Mama bilang : "Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya" ,
Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka....
Tapi sadarkah kamu?
Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.
Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.
Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : "Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang"
Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?
Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :
"Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!".
Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.
Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.
Ketika kamu sudah beranjak remaja....
Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: "Tidak boleh!".
Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu?
Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat - sangat luar biasa berharga..
Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu...
Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama....
Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,
Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?
Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia.... :')
Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..
Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?
Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.
Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir...
Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut - larut...
Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .
Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang?
"Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa"
Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti...
Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa
Ketika kamu menjadi gadis dewasa....
Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain...
Papa harus melepasmu di bandara.
Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu?
Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.
Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata "Jaga dirimu baik-baik ya sayang".
Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT...kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.
Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa.
Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan...
Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : "Tidak.... Tidak bisa!"
Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan "Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu".
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?
Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.
Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat "putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang"
Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya.
Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..
Karena Papa tahu.....
Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.
Dan akhirnya....
Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia....
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?
Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa....
Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: "Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik....
Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik....
Bahagiakanlah ia bersama suaminya..."
Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk...
Dengan rambut yang telah dan semakin memutih....
Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya....
Papa telah menyelesaikan tugasnya....
Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita...
Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat...
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis...
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa "KAMU BISA" dalam segala hal...
"SELAMAT HARI JUMAT AGUNG DAN SELAMAT PASKAH"
GBU ALL..
Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Roma 12:11
Jumat, 06 April 2012
Kamis, 05 April 2012
"Rumah Tua."
Suatu ketika aku datang di sebuah Rumah dan rumah itu terlihat tua. Cat temboknya sudah terkelupas. Warna putihnya sudah berubah menjadi kekuning-kuningan. Bila dilihat lebih dekat lagi maka akan terlihat retakan-retakan kecil di bagian-bagian tertentu. Gaya bangunannya seperti gaya bangunan jaman dulu. Sederhana dan konservatif. Rumah itu berdiri sendiri. Sebelah kanan dan kirinya hanya tanah kosong sementara rumah lainnya baru ada sekitar 1 km lagi dari rumah tua itu.
Pintunya yang terbuat dari kayu juga sudah terlihat rapuh. Dari lubang kecil yang ada di pintu terlihat beberapa rayap kecil sedang berbaris rapi menyelusuri pinggir pintu. Gagang pintunya tidak kuat. Sudah berkarat dan sedikit longgar karena ada mur yang terlepas dari tempatnya. Seharusnya sebuah papan pengumuman yang bertuliskan hati-hati membuka pintu digantungkan pada pintu itu. Supaya jangan sampai pintu itu roboh dan menimpa orang yang membukanya.
Rumah itu kecil. Dari luar yang terlihat hanya tembok, pintu, dan jendela. Rumah itu polos adanya. Tanpa halaman yang penuh dengan bunga, tanpa pagar putih yang terbuat dari kayu, dan tanpa pohon hijau yang menjulang tinggi. Terasnyapun tidak ada.
Aku berdiri di depan pintu masuk. Mulanya aku ragu apakah ini rumah yang kucari-cari. Nomor rumahnya cocok dengan nomor yang telah diberikan oleh ayahku.
"Pergilah ke sana, nomor rumahnya 23, rumahnya kecil dan tua.Sekali melihat kau pasti akan tahu bahwa itu adalah rumah yang kau cari" kata ayah kepadaku.
Aku mengetuk pintu beberapa kali sampai akhirnya pintu itu terbuka. Seorang wanita separuh baya kini berdiri di hadapanku. Wajahnya pucat, lesu, dan lelah. Baju yang dipakainya kusut dan lusuh.
"Ada apa anak muda," tanyanya kepadaku.
Aku terdiam. Aku mencoba mengintip ke dalam rumah. Tidak ada lampu yang menyala. Hanya sinar matahari yang menerangi dalam rumah itu.
Aku melihat ada seorang anak sedang tidur di atas lantai dengan beralaskan tikar. Anak itu sepertinya sedang merintih kesakitan. "Ibu..ibu...," teriak anak itu memanggil ibunya.
Mendengar dirinya dipanggil, wanita yang membukakan pintu itu segera menghampiri anaknya dan meninggalkan aku yang masih berdiri di depan pintu.
Aku ikut masuk ke dalam rumah. Ruangannya panas dan pengap. Aku hampir tak bisa bernafas. Aku melihat si ibu memegang dahi anaknya yang sedang terbaring. Lalu seperti orang ketakutan ia berlari mengambil kain basah dan meletakkannya di atas dahi anaknya. Aku menghampiri anak itu.
Anak itu pasti sedang sakit. Ia terlihat sangat lemah tetapi ia masih saja terus memanggil-manggil ibunya. Aku mencoba membantu si ibu untuk menenangkan anaknya. Aku pegang kepalanya mencoba menenangkan anak itu. Tetapi betapa terkejutnya aku ketika merasakan panas yang mengalir ke tanganku. Anak itu sedang panas tinggi dan harus segera di bawa ke rumah sakit untuk di beri perawatan, kalau tidak, mungkin ia akan segera meninggal.
"Ibu",kataku. "Anak ini harus segera dibawa ke rumah sakit kalau tidak ia bisa mati."
Si Ibu menatapku dan dari matanya aku bisa melihat tetesan-tetesan air berjatuhan membasahi wajahnya.
"Ibu tidak punya uang, dan ibu tidak tahu harus berbuat apa" kata ibu itu dengan suara menangis.
Ibu itu terus memegangi tangan anaknya yang terus memanggil-mangil dirinya.
"Ibu", kataku. "Mari kita bawa anak ibu ke rumah sakit, biar saya yang akan membayar semua biayanya." Segera aku membangunkan anak itu dan menggendongnya dengan kedua tanganku.
Ibu itu mengikuti aku dari belakang. "Anak muda, siapakah sebenarnya anda? Apakah saya mengenal anda? Dan ada keperluan apa anda datang ke mari?" tanya ibu itu.
Lalu jawabku "Ayah saya yang menyuruh saya untuk datang ke rumah ibu. Ia berkata kalau ibu sedang memiliki masalah dan butuh pertolongan. Mungkin ibu tidak mengenal saya tapi saya yakin ibu pasti mengenal siapa ayah yang saya maksudkan, kemarin malam ibu berdoa meminta kepada-Nya supaya anak ibu bisa sembuh dari penyakitnya." Saat mendengar itu, terkejutlah si ibu.
Lalu ia mulai berdoa dan mengucap syukur karena Tuhan telah mendengar doanya....
Pintunya yang terbuat dari kayu juga sudah terlihat rapuh. Dari lubang kecil yang ada di pintu terlihat beberapa rayap kecil sedang berbaris rapi menyelusuri pinggir pintu. Gagang pintunya tidak kuat. Sudah berkarat dan sedikit longgar karena ada mur yang terlepas dari tempatnya. Seharusnya sebuah papan pengumuman yang bertuliskan hati-hati membuka pintu digantungkan pada pintu itu. Supaya jangan sampai pintu itu roboh dan menimpa orang yang membukanya.
Rumah itu kecil. Dari luar yang terlihat hanya tembok, pintu, dan jendela. Rumah itu polos adanya. Tanpa halaman yang penuh dengan bunga, tanpa pagar putih yang terbuat dari kayu, dan tanpa pohon hijau yang menjulang tinggi. Terasnyapun tidak ada.
Aku berdiri di depan pintu masuk. Mulanya aku ragu apakah ini rumah yang kucari-cari. Nomor rumahnya cocok dengan nomor yang telah diberikan oleh ayahku.
"Pergilah ke sana, nomor rumahnya 23, rumahnya kecil dan tua.Sekali melihat kau pasti akan tahu bahwa itu adalah rumah yang kau cari" kata ayah kepadaku.
Aku mengetuk pintu beberapa kali sampai akhirnya pintu itu terbuka. Seorang wanita separuh baya kini berdiri di hadapanku. Wajahnya pucat, lesu, dan lelah. Baju yang dipakainya kusut dan lusuh.
"Ada apa anak muda," tanyanya kepadaku.
Aku terdiam. Aku mencoba mengintip ke dalam rumah. Tidak ada lampu yang menyala. Hanya sinar matahari yang menerangi dalam rumah itu.
Aku melihat ada seorang anak sedang tidur di atas lantai dengan beralaskan tikar. Anak itu sepertinya sedang merintih kesakitan. "Ibu..ibu...," teriak anak itu memanggil ibunya.
Mendengar dirinya dipanggil, wanita yang membukakan pintu itu segera menghampiri anaknya dan meninggalkan aku yang masih berdiri di depan pintu.
Aku ikut masuk ke dalam rumah. Ruangannya panas dan pengap. Aku hampir tak bisa bernafas. Aku melihat si ibu memegang dahi anaknya yang sedang terbaring. Lalu seperti orang ketakutan ia berlari mengambil kain basah dan meletakkannya di atas dahi anaknya. Aku menghampiri anak itu.
Anak itu pasti sedang sakit. Ia terlihat sangat lemah tetapi ia masih saja terus memanggil-manggil ibunya. Aku mencoba membantu si ibu untuk menenangkan anaknya. Aku pegang kepalanya mencoba menenangkan anak itu. Tetapi betapa terkejutnya aku ketika merasakan panas yang mengalir ke tanganku. Anak itu sedang panas tinggi dan harus segera di bawa ke rumah sakit untuk di beri perawatan, kalau tidak, mungkin ia akan segera meninggal.
"Ibu",kataku. "Anak ini harus segera dibawa ke rumah sakit kalau tidak ia bisa mati."
Si Ibu menatapku dan dari matanya aku bisa melihat tetesan-tetesan air berjatuhan membasahi wajahnya.
"Ibu tidak punya uang, dan ibu tidak tahu harus berbuat apa" kata ibu itu dengan suara menangis.
Ibu itu terus memegangi tangan anaknya yang terus memanggil-mangil dirinya.
"Ibu", kataku. "Mari kita bawa anak ibu ke rumah sakit, biar saya yang akan membayar semua biayanya." Segera aku membangunkan anak itu dan menggendongnya dengan kedua tanganku.
Ibu itu mengikuti aku dari belakang. "Anak muda, siapakah sebenarnya anda? Apakah saya mengenal anda? Dan ada keperluan apa anda datang ke mari?" tanya ibu itu.
Lalu jawabku "Ayah saya yang menyuruh saya untuk datang ke rumah ibu. Ia berkata kalau ibu sedang memiliki masalah dan butuh pertolongan. Mungkin ibu tidak mengenal saya tapi saya yakin ibu pasti mengenal siapa ayah yang saya maksudkan, kemarin malam ibu berdoa meminta kepada-Nya supaya anak ibu bisa sembuh dari penyakitnya." Saat mendengar itu, terkejutlah si ibu.
Lalu ia mulai berdoa dan mengucap syukur karena Tuhan telah mendengar doanya....
Rabu, 04 April 2012
PUJIAN SEBELUM TERLAMBAT
Suatu hari seorang guru meminta muridnya membuat daftar semua nama murid di kelas itu pada dua lembar kertas, dan memberikan tempat kosong di setiap nama. Kemudia ia meminta mereka memikirkan hal terbaik mengenai teman mereka dan menuliskannya. Tugas itu ternyata menyita sisa waktu pelajaran untuk diselesaikan. Ketika para murid meninggalkan kelas, setiap orang menyerahkan hasilnya.
Sabtu itu, sang guru menuliskan nama setiap murid di kertas terpisah, lalu membuat daftar apa yang telah dikatakan oleh murid yang lain mengenai murid itu. Pada Senin, ia memberikan daftar itu pada setiap murid. Tidak lama kemudian, seluruh kelas mulai tersenyum. “Sungguh?” ia mendengar suara bisik-bisik. “Aku tidak tahu bahwa aku berarti untuk orang lain!” dan, “Aku tidak tahu kalau yang lain sangat menyukaiku.” Begitulah komentar yang didengar oleh sang guru. Tidak ada orang yang menyinggung daftar itu dikelas lagi.
Ia tidak tahu apakah para murid membicarakannya diluar kelas atau mengatakannya pada orang tua mereka, tetapi itu tidak masalah. Latihan itu telah santai kepada tujuannya. Para murid sangat bahagia dengan komentar itu dan menyukai satu sama lain.
Beberapa tahun kemudian, salah seorang murid itu tewas terbunuh di Vietnam. Sang guru menghadiri pemakamannya. Ia tidak pernah melihat seorang tentara dalam peti jenazah militer sebelumnya. Muridnya sangat tampan dan dewasa. Seluruh gereja dipenuhi oleh teman-temannya.
Satu persatu orang yang mencintainya menghampiri peti jenazah itu. Sang guru adalah orang yang terakhir yang mengucapkan salam perpisahan. Ketika ia berdiri disana, salah seorang tentara yang bertugas sebagai pengangkut peti jenazah itu menghampirinya. “Apakah kamu guru matematika Mark?” tanyanya.
Sang guru mengangguk, “Iya.” Kemudian tentara itu melanjutkan, “Mark banyak membicarakan dirimu.” Setelah pemakaman, bekas teman sekelas Mark bersama-sama pergi ketempat makan siang. Ayah dan ibu Mark ada disana. Sangat jelas terlihat bahwa mereka tidak sabar untuk berbicara dengan guru Mark.
“Kami ingin memperlihatkan sesuatu padamu,” kata ayah Mark, sambil mengambil domper dari sakunya. “Mereka menemukan benda ini pada Mark ketika ia tewas. Kami kira Anda mungkin akan mengenalinya.” Sambil membuka dompet itu, ayah Mark dengan sangat hati-hati mengeluarkan dua lembar kertas yang sudah diisolasi, dilipat berkali-kali. Sang guru langsung mengenalinya. Kertas itu dibuat olehnya, berisi daftar kebaikan Mark yang ditulis oleh teman-teman sekelasnya. “Terima kasih karena telah melakukan hal itu,” kata ibu Mark. “Seperti yang Anda lihat, Mark menyimpannya sebagai salah satu hartanya.”
Semua mantan teman sekelas Mark mulai berkumpul. Charlie tersenyum dengan malu-malu sambil berkata, “Aku juga masih menyimpan daftarku. Daftarku berada dibagian atas laci meja belajarku di rumah.”
Istri Chuck berkata, “Chuck memintaku meletakkannya di album pernikahan kami.”
“Aku juga memilikinya,” kata Marilyn. “Daftarku ada dalam buku harianku.”
Kemudian Vicky, teman sekelas yang lain, mengambil buku sakunya, kemudian mengeluarkan dompetnya dan memperlihatkan daftarnya yang sudah kusam dan lecek kepada yang lain. “Aku membawanya bersamaku setiap waktu,” ujar Vicky. “Aku rasa kita semua menyimpan daftar kita masing-masing.” Sambungnya.
Saat itu, sang guru terduduk dan menangis. Ia menangis karna Mark dan seluruh temannya tidak akan mungkin melihat Mark kembali. Begitu banyak orang yang datang dan pergi dalam kehidupan kita dan kita tidak mengetahui kapan hari itu akan tiba. Jadi katakanlah kepada orang yang Anda kasihi dan cintai, bahwa mereka sangat penting dan spesial dalam kehidupan Anda. Katakanlah kepada mereka sebelum terlambat.
Untuk direnungkan : Pujian yang baik akan membuat orang cenderung akan melakukan apa yang dipujikan kepadanya. Sudahkah Anda memuji diri Anda karena Anda ciptaan Tuhan? Sudahkah Anda memuji orang disekitar Anda karena mereka berharga di mata Anda?
Untuk dilakukan : “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam member hormat” (Roma 12:10)
Sabtu itu, sang guru menuliskan nama setiap murid di kertas terpisah, lalu membuat daftar apa yang telah dikatakan oleh murid yang lain mengenai murid itu. Pada Senin, ia memberikan daftar itu pada setiap murid. Tidak lama kemudian, seluruh kelas mulai tersenyum. “Sungguh?” ia mendengar suara bisik-bisik. “Aku tidak tahu bahwa aku berarti untuk orang lain!” dan, “Aku tidak tahu kalau yang lain sangat menyukaiku.” Begitulah komentar yang didengar oleh sang guru. Tidak ada orang yang menyinggung daftar itu dikelas lagi.
Ia tidak tahu apakah para murid membicarakannya diluar kelas atau mengatakannya pada orang tua mereka, tetapi itu tidak masalah. Latihan itu telah santai kepada tujuannya. Para murid sangat bahagia dengan komentar itu dan menyukai satu sama lain.
Beberapa tahun kemudian, salah seorang murid itu tewas terbunuh di Vietnam. Sang guru menghadiri pemakamannya. Ia tidak pernah melihat seorang tentara dalam peti jenazah militer sebelumnya. Muridnya sangat tampan dan dewasa. Seluruh gereja dipenuhi oleh teman-temannya.
Satu persatu orang yang mencintainya menghampiri peti jenazah itu. Sang guru adalah orang yang terakhir yang mengucapkan salam perpisahan. Ketika ia berdiri disana, salah seorang tentara yang bertugas sebagai pengangkut peti jenazah itu menghampirinya. “Apakah kamu guru matematika Mark?” tanyanya.
Sang guru mengangguk, “Iya.” Kemudian tentara itu melanjutkan, “Mark banyak membicarakan dirimu.” Setelah pemakaman, bekas teman sekelas Mark bersama-sama pergi ketempat makan siang. Ayah dan ibu Mark ada disana. Sangat jelas terlihat bahwa mereka tidak sabar untuk berbicara dengan guru Mark.
“Kami ingin memperlihatkan sesuatu padamu,” kata ayah Mark, sambil mengambil domper dari sakunya. “Mereka menemukan benda ini pada Mark ketika ia tewas. Kami kira Anda mungkin akan mengenalinya.” Sambil membuka dompet itu, ayah Mark dengan sangat hati-hati mengeluarkan dua lembar kertas yang sudah diisolasi, dilipat berkali-kali. Sang guru langsung mengenalinya. Kertas itu dibuat olehnya, berisi daftar kebaikan Mark yang ditulis oleh teman-teman sekelasnya. “Terima kasih karena telah melakukan hal itu,” kata ibu Mark. “Seperti yang Anda lihat, Mark menyimpannya sebagai salah satu hartanya.”
Semua mantan teman sekelas Mark mulai berkumpul. Charlie tersenyum dengan malu-malu sambil berkata, “Aku juga masih menyimpan daftarku. Daftarku berada dibagian atas laci meja belajarku di rumah.”
Istri Chuck berkata, “Chuck memintaku meletakkannya di album pernikahan kami.”
“Aku juga memilikinya,” kata Marilyn. “Daftarku ada dalam buku harianku.”
Kemudian Vicky, teman sekelas yang lain, mengambil buku sakunya, kemudian mengeluarkan dompetnya dan memperlihatkan daftarnya yang sudah kusam dan lecek kepada yang lain. “Aku membawanya bersamaku setiap waktu,” ujar Vicky. “Aku rasa kita semua menyimpan daftar kita masing-masing.” Sambungnya.
Saat itu, sang guru terduduk dan menangis. Ia menangis karna Mark dan seluruh temannya tidak akan mungkin melihat Mark kembali. Begitu banyak orang yang datang dan pergi dalam kehidupan kita dan kita tidak mengetahui kapan hari itu akan tiba. Jadi katakanlah kepada orang yang Anda kasihi dan cintai, bahwa mereka sangat penting dan spesial dalam kehidupan Anda. Katakanlah kepada mereka sebelum terlambat.
Untuk direnungkan : Pujian yang baik akan membuat orang cenderung akan melakukan apa yang dipujikan kepadanya. Sudahkah Anda memuji diri Anda karena Anda ciptaan Tuhan? Sudahkah Anda memuji orang disekitar Anda karena mereka berharga di mata Anda?
Untuk dilakukan : “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam member hormat” (Roma 12:10)
Selasa, 03 April 2012
APA ITU CINTA?
Telapak tanganmu berkeringat, hatimu dag dig dug, suaramu bagai tersangkut di tenggorokan, itu bukan cinta, tapi SUKA.
Tanganmu tidak dapat berhenti memegang dan menyentuhnya, itu bukan cinta, tapi NAFSU.
Kamu menginginkannya karena tahu ia akan selalu berada di sampingmu, itu bukan cinta, tapi KESEPIAN.
Kamu menerima cintanya, karena kamu tidak mau menyakitinya, itu bukan cinta, tapi KASIHAN.
Kamu bersedia memberikan semua yang kamu suka demi dia, itu bukan cinta, KEMURAHAN HATI.
Kamu bangga dan selalu ingin memamerkannya kepada semua orang, itu bukan cinta, tapi KEMUJURAN.
Kamu mengatakan padanya bahwa dia adalah satu-satunya hal yang kamu pikirkan, itu bukan cinta, tapi GOMBAL.
Kamu mencintainya jika:
1.Menerima kesalahannya.
2.Rela memberikan hatimu, hidupmu dan matimu.
3.Hatimu tercabik bila ia sedih dan berbunga bila ia bahagia.
4.Menangis untuk kepedihannya.
Cinta adalah pengorbanan;
Mencintai berarti memberi diri;
Cinta adalah kematian atas EGOISME dan EGOSENTRISME.
Saya mendapatkan email cantik ini dari Ilona, seorang sahabat lama saya. Email yang mencerahkan bukan? Begitu sederhananya kata CINTA sehingga begitu RUMIT untuk dimengerti. Bagi saya, definisi cinta terbaik terdapat di 1 Korintus 13. Namun, jika ayat-ayat itu diringkas menjadi satu ayat, saya paling senang dengan yang satu ini: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16). Bukankah kasih Tuhan yang dinyatakan secara jelas dan gamblang di dalam ayat ini mewakili ketiga hal di atas, yaitu bahwa cinta adalah pengorbanan, pemberian diri dan kematian atas ego?
Seberapa besar kasih Allah? BEGITU besar. Kok bisa? SATU-SATU-NYA ANAK-NYA dikorbankan-Nya untuk kita. Artinya? Tuhan tidak egois, apalagi egosentris. Sebagai anak Tuhan, kita pun dituntut untuk berbuat yang sama: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Filipi 2:5-8).
Itulah sebabnya jika kita ingin mendapatkan dan memberikan cinta sejati, kita harus mendapatkannya terlebih dulu dari Yesus. Kita tidak mungkin bisa memberi cinta jika kita sendiri kekurangan cinta. Saat memimpin winter camp di Melbourne, saya meminta setiap peserta yang ingin mendapatkan pasangan hidup untuk menuliskan kriteria calon pasangannya di selembar kertas. Salah seorang peserta menuliskan kriteria pertamanya sebagai berikut: “Calon suamiku harus lebih mengasihi Yesus ketimbang mengasihi aku!” Bagiku, inilah kriteria terbaik. Dengan menjadikan Kristus kepala rumah tangga kita, kita akan merasakan cinta sejati di dalam rumah tangga kita.
Tanganmu tidak dapat berhenti memegang dan menyentuhnya, itu bukan cinta, tapi NAFSU.
Kamu menginginkannya karena tahu ia akan selalu berada di sampingmu, itu bukan cinta, tapi KESEPIAN.
Kamu menerima cintanya, karena kamu tidak mau menyakitinya, itu bukan cinta, tapi KASIHAN.
Kamu bersedia memberikan semua yang kamu suka demi dia, itu bukan cinta, KEMURAHAN HATI.
Kamu bangga dan selalu ingin memamerkannya kepada semua orang, itu bukan cinta, tapi KEMUJURAN.
Kamu mengatakan padanya bahwa dia adalah satu-satunya hal yang kamu pikirkan, itu bukan cinta, tapi GOMBAL.
Kamu mencintainya jika:
1.Menerima kesalahannya.
2.Rela memberikan hatimu, hidupmu dan matimu.
3.Hatimu tercabik bila ia sedih dan berbunga bila ia bahagia.
4.Menangis untuk kepedihannya.
Cinta adalah pengorbanan;
Mencintai berarti memberi diri;
Cinta adalah kematian atas EGOISME dan EGOSENTRISME.
Saya mendapatkan email cantik ini dari Ilona, seorang sahabat lama saya. Email yang mencerahkan bukan? Begitu sederhananya kata CINTA sehingga begitu RUMIT untuk dimengerti. Bagi saya, definisi cinta terbaik terdapat di 1 Korintus 13. Namun, jika ayat-ayat itu diringkas menjadi satu ayat, saya paling senang dengan yang satu ini: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16). Bukankah kasih Tuhan yang dinyatakan secara jelas dan gamblang di dalam ayat ini mewakili ketiga hal di atas, yaitu bahwa cinta adalah pengorbanan, pemberian diri dan kematian atas ego?
Seberapa besar kasih Allah? BEGITU besar. Kok bisa? SATU-SATU-NYA ANAK-NYA dikorbankan-Nya untuk kita. Artinya? Tuhan tidak egois, apalagi egosentris. Sebagai anak Tuhan, kita pun dituntut untuk berbuat yang sama: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Filipi 2:5-8).
Itulah sebabnya jika kita ingin mendapatkan dan memberikan cinta sejati, kita harus mendapatkannya terlebih dulu dari Yesus. Kita tidak mungkin bisa memberi cinta jika kita sendiri kekurangan cinta. Saat memimpin winter camp di Melbourne, saya meminta setiap peserta yang ingin mendapatkan pasangan hidup untuk menuliskan kriteria calon pasangannya di selembar kertas. Salah seorang peserta menuliskan kriteria pertamanya sebagai berikut: “Calon suamiku harus lebih mengasihi Yesus ketimbang mengasihi aku!” Bagiku, inilah kriteria terbaik. Dengan menjadikan Kristus kepala rumah tangga kita, kita akan merasakan cinta sejati di dalam rumah tangga kita.
Senin, 02 April 2012
CERITAKAN PADA DUNIA UNTUKKU
“Mengapa kita sering kali kesulitan mencari Tuhan? Karena Dia ada di hati kita yang paling dalam.” X.Q.P
Sekitar 14 tahun yang lalu, aku berdiri menyaksikan para mahasiswaku berbaris memasuki kelas untuk mengikuti kuliah pertama Teologi Iman. Pada hari itu untuk pertama kalinya aku melihat Tommy. Ia sedang menyisir rambutnya yang terurai sampai sekitar 20cm dibawah bahunya. Penilaian singkatku, ia seorang yang aneh, sangat aneh. Tommy ternyata menjadi tantanganku yang terberat. Ia terus-menerus mengajukan keberatan. Ia juga melecehkan kemungkinan Tuhan mencintai manusia tanpa pamrih. Ketika muncul untuk mengikuti ujian di akhir kuliah, ia bertanya dengan agak sinis,”Menurut Pastor apakah saya akan menemukan Tuhan?”
“Tidak,” jawabku dengan sungguh-sungguh.
“Oh,” sahutnya.
“Rasanya Anda memang tidak pernah mengajarkan bagaimana menemukan Tuhan.”
Kubiarkan ia berjalan sampai lima langkah lagi dari pintu, lalu kupanggil. “Saya rasa kamu tak akan pernah menemukan-Nya. Tapi, Dialah yang akan menemukanmu.”
Tommy mengangkat bahu, lalu pergi. Aku merasa agak kecewa karena ia tidak bisa menangkap maksud kata-kataku. Kemudian kudengar Tommy sudah lulus, dan aku bersyukur. Namun kemudian tiba berita yang menyedihkan, “Tommy mengidap kanker yang sudah parah.” Sebelum aku sempat mengunjunginya, ia lebih dulu menemuiku. Saat ia melangkah masuk kekantorku, tubuhnya sudah menyusut, dan rambutnya yang panjang sudah rontok karena pengobatan dengan kemoterapi. Namun, matanya tetap bercahaya dan suaranya, untuk pertama kalinya, terdengar tegas.
“Tommy! Aku sering memikirkanmu. Katanya kamu sakit keras?” tanyaku langsung.
“Oh ya, saya memang sakit keras. Saya menderita kanker. Waktu saya hanya tinggal beberapa minggu.”
“Kamu mau membicarakan itu?”
“Boleh saja. Apa yang ingin Pastor ketahui?”
“Bagaimana rasanya baru berumur 24 tahun, tapi kematian sudah menjelang?”
Jawabnya, “Ini lebih baik ketimbang jadi lelaki berumur 50 tahun, tetapi mengira bahwa minum minuman keras, bermain perempuan, dan memburu hara adalah hal ‘utama’ dalam hidup ini.”
Lalu ia mengatakan alasan utamanya menemuiku. “Sesuatu yang pernah Pastor katakana pada saya pada hari terakhir kuliah Pastor. Waktu itu saya bertanya apakah saya akan pernah menemukan Tuhan, dan Pastor mengatakan tidak. Jawaban yang sungguh mengejutkan saya. Lalu, Pastor mengatakan, bahwa Tuhanlah yang akan menemukan saya. Saya sering memikirkan kata-kata Pastor itu, meskipun pencarian akan Tuhan yang saya lakukan pada masa itu tidaklah sungguh-sungguh.”
“Tetapi ketika dokter mengeluarkan segumpal daging dari pangkal paha saya,” Tommy melanjutkan, “dan mengatakan bahwa gumpalan itu ganas, saya pun mulai serius melacak Tuhan. Ketika tumor ganas itu menyebar sampai ke organ-organ vital, saya benar-benar menggedor-gedor pintu surge. Tapi, tidak terjadi apapun… lalu, saya terbangun suatu hari dan tidak lagi mencari pesan itu. Saya menghentikan segala usaha itu. Saya memutuskan untuk tidak peduli sama sekali pada Tuhan, kehidupan setelah kematian, atau hal-hal sejenis itu. Saya memutuskan untuk melewatkan waktu yang tersisa untuk melakukan hal-hal penting,” lanjut Tommy.
“Saya teringat Pastor dan kata-kata Pastor yang lain. Kesedihan paling utama adalah menjalani hidup tanpa mencintai. Tapi hamper sama sedihnya, meninggalkan dunia tanpa mengatakan pada orang yang saya cintai bahwa kau mencintai mereka. Jadi, saya memulai dengan orang-orang yang tersulit, ayah saya.”
Ayah Tommy waktu itu sedang membaca surat kabar saat anaknya menghampirinya.
“Pa, aku ingin bicara.”
“Bicara saja.”
“Pa, ini penting sekali.”
Surat kabarnya perlahan turun 8 cm.
“Ada apa?”
“Pa, aku cinta Papa. Aku hanya ingin Papa tahu itu.”
Tommy tersenyum padaku saat mengenang saat itu.
Surat kabar ayahnya jatuh ke lantai.
“Lalu ayah saya melakukan dua hal yang seingat saya belum pernah dilakukannya.
Ia menangis dan memeluk saya. Kami mengobrol semalaman, meskipun ia harus bekerja besok paginya.”
“Dengan Ibu dan adik saya lebih mudah,” sambung Tommy. “Mereka menangis bersama saya dan kami berpelukan. Kami berbagi hal yang kami rahasiakan bertahun-tahun. Saya hanya menyesalkan mengapa harus menunggu sekian lama. Saya berada dalam baying-bayang kematian, dan saya baru mulai terbuka pada semua orang yang sebenarnya dekat dengan saya. Lalu suatu hari saya berbalik dan Tuhan ada disitu. Dia tidak datang saat saya memohon pada-Nya. Rupanya Dia bertindak menurut kehendak-Nya dan pada waktu-Nya. Yang penting adalah Pastor benar. Dia menemukan saya bahkan setelah saya berhenti mencari-Nya.”
“Tommy,” aku tersedak, “Menurut saya, kata-katamu lebih universal daripada yang kamu sadari. Kamu menunjukkan bahwa cara terpasti untuk menemukan Tuhan adalah bukan dengan menjadikan Dia menjadi milik pribadi atau penghiburan instan saat membutuhkan, melainkan dengan membuka diri pada cinta kasih, Tommy,” saya menambahkan, “boleh saya minta tolong? Maukah kamu datang ke kuliah Teologi Iman dan mengatakan kepada para mahasiswa saya apa yang barusan kamu ceritakan?”
Meskipun kami menjadwalkannya, ia tidak berhasil hadir hari itu. Tentu saja, karena ia harus berpulang. Ia melangkah jauh dari iman ke visi. Ia menemukan kehidupan yang jauh lebih indah daripada yang pernah dilihat mata manusia atau yang pernah dibayangkan.
Sebelum ia meninggal, kami mengobrol terakhir kali.
“Saya tak akan mampu hadir di kuliah Bapak,” katanya.
“Saya tahu, Tommy.”
“Maukah Bapak menceritakannya untuk saya? Maukah Bapak menceritakannya pada dunia untuk saya?”
“Ya, Tommy. Saya akan melakukannya.”
Untuk direnungkan : Banyak orang yang merasa Tuhan itu sangat jauh dari mereka, padahal, kita tahu bahwa Tuhan hanyalah sejauh doa. Kita sadari atau tidak, Tuhan selalu didekat kita dan siap mendengarkan kita serta mencurahkan kasih-Nya. Sudahkah kita siap menerima Dia?
Untuk dilakukan : “Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut” (Wahyu 12:11).
Sekitar 14 tahun yang lalu, aku berdiri menyaksikan para mahasiswaku berbaris memasuki kelas untuk mengikuti kuliah pertama Teologi Iman. Pada hari itu untuk pertama kalinya aku melihat Tommy. Ia sedang menyisir rambutnya yang terurai sampai sekitar 20cm dibawah bahunya. Penilaian singkatku, ia seorang yang aneh, sangat aneh. Tommy ternyata menjadi tantanganku yang terberat. Ia terus-menerus mengajukan keberatan. Ia juga melecehkan kemungkinan Tuhan mencintai manusia tanpa pamrih. Ketika muncul untuk mengikuti ujian di akhir kuliah, ia bertanya dengan agak sinis,”Menurut Pastor apakah saya akan menemukan Tuhan?”
“Tidak,” jawabku dengan sungguh-sungguh.
“Oh,” sahutnya.
“Rasanya Anda memang tidak pernah mengajarkan bagaimana menemukan Tuhan.”
Kubiarkan ia berjalan sampai lima langkah lagi dari pintu, lalu kupanggil. “Saya rasa kamu tak akan pernah menemukan-Nya. Tapi, Dialah yang akan menemukanmu.”
Tommy mengangkat bahu, lalu pergi. Aku merasa agak kecewa karena ia tidak bisa menangkap maksud kata-kataku. Kemudian kudengar Tommy sudah lulus, dan aku bersyukur. Namun kemudian tiba berita yang menyedihkan, “Tommy mengidap kanker yang sudah parah.” Sebelum aku sempat mengunjunginya, ia lebih dulu menemuiku. Saat ia melangkah masuk kekantorku, tubuhnya sudah menyusut, dan rambutnya yang panjang sudah rontok karena pengobatan dengan kemoterapi. Namun, matanya tetap bercahaya dan suaranya, untuk pertama kalinya, terdengar tegas.
“Tommy! Aku sering memikirkanmu. Katanya kamu sakit keras?” tanyaku langsung.
“Oh ya, saya memang sakit keras. Saya menderita kanker. Waktu saya hanya tinggal beberapa minggu.”
“Kamu mau membicarakan itu?”
“Boleh saja. Apa yang ingin Pastor ketahui?”
“Bagaimana rasanya baru berumur 24 tahun, tapi kematian sudah menjelang?”
Jawabnya, “Ini lebih baik ketimbang jadi lelaki berumur 50 tahun, tetapi mengira bahwa minum minuman keras, bermain perempuan, dan memburu hara adalah hal ‘utama’ dalam hidup ini.”
Lalu ia mengatakan alasan utamanya menemuiku. “Sesuatu yang pernah Pastor katakana pada saya pada hari terakhir kuliah Pastor. Waktu itu saya bertanya apakah saya akan pernah menemukan Tuhan, dan Pastor mengatakan tidak. Jawaban yang sungguh mengejutkan saya. Lalu, Pastor mengatakan, bahwa Tuhanlah yang akan menemukan saya. Saya sering memikirkan kata-kata Pastor itu, meskipun pencarian akan Tuhan yang saya lakukan pada masa itu tidaklah sungguh-sungguh.”
“Tetapi ketika dokter mengeluarkan segumpal daging dari pangkal paha saya,” Tommy melanjutkan, “dan mengatakan bahwa gumpalan itu ganas, saya pun mulai serius melacak Tuhan. Ketika tumor ganas itu menyebar sampai ke organ-organ vital, saya benar-benar menggedor-gedor pintu surge. Tapi, tidak terjadi apapun… lalu, saya terbangun suatu hari dan tidak lagi mencari pesan itu. Saya menghentikan segala usaha itu. Saya memutuskan untuk tidak peduli sama sekali pada Tuhan, kehidupan setelah kematian, atau hal-hal sejenis itu. Saya memutuskan untuk melewatkan waktu yang tersisa untuk melakukan hal-hal penting,” lanjut Tommy.
“Saya teringat Pastor dan kata-kata Pastor yang lain. Kesedihan paling utama adalah menjalani hidup tanpa mencintai. Tapi hamper sama sedihnya, meninggalkan dunia tanpa mengatakan pada orang yang saya cintai bahwa kau mencintai mereka. Jadi, saya memulai dengan orang-orang yang tersulit, ayah saya.”
Ayah Tommy waktu itu sedang membaca surat kabar saat anaknya menghampirinya.
“Pa, aku ingin bicara.”
“Bicara saja.”
“Pa, ini penting sekali.”
Surat kabarnya perlahan turun 8 cm.
“Ada apa?”
“Pa, aku cinta Papa. Aku hanya ingin Papa tahu itu.”
Tommy tersenyum padaku saat mengenang saat itu.
Surat kabar ayahnya jatuh ke lantai.
“Lalu ayah saya melakukan dua hal yang seingat saya belum pernah dilakukannya.
Ia menangis dan memeluk saya. Kami mengobrol semalaman, meskipun ia harus bekerja besok paginya.”
“Dengan Ibu dan adik saya lebih mudah,” sambung Tommy. “Mereka menangis bersama saya dan kami berpelukan. Kami berbagi hal yang kami rahasiakan bertahun-tahun. Saya hanya menyesalkan mengapa harus menunggu sekian lama. Saya berada dalam baying-bayang kematian, dan saya baru mulai terbuka pada semua orang yang sebenarnya dekat dengan saya. Lalu suatu hari saya berbalik dan Tuhan ada disitu. Dia tidak datang saat saya memohon pada-Nya. Rupanya Dia bertindak menurut kehendak-Nya dan pada waktu-Nya. Yang penting adalah Pastor benar. Dia menemukan saya bahkan setelah saya berhenti mencari-Nya.”
“Tommy,” aku tersedak, “Menurut saya, kata-katamu lebih universal daripada yang kamu sadari. Kamu menunjukkan bahwa cara terpasti untuk menemukan Tuhan adalah bukan dengan menjadikan Dia menjadi milik pribadi atau penghiburan instan saat membutuhkan, melainkan dengan membuka diri pada cinta kasih, Tommy,” saya menambahkan, “boleh saya minta tolong? Maukah kamu datang ke kuliah Teologi Iman dan mengatakan kepada para mahasiswa saya apa yang barusan kamu ceritakan?”
Meskipun kami menjadwalkannya, ia tidak berhasil hadir hari itu. Tentu saja, karena ia harus berpulang. Ia melangkah jauh dari iman ke visi. Ia menemukan kehidupan yang jauh lebih indah daripada yang pernah dilihat mata manusia atau yang pernah dibayangkan.
Sebelum ia meninggal, kami mengobrol terakhir kali.
“Saya tak akan mampu hadir di kuliah Bapak,” katanya.
“Saya tahu, Tommy.”
“Maukah Bapak menceritakannya untuk saya? Maukah Bapak menceritakannya pada dunia untuk saya?”
“Ya, Tommy. Saya akan melakukannya.”
Untuk direnungkan : Banyak orang yang merasa Tuhan itu sangat jauh dari mereka, padahal, kita tahu bahwa Tuhan hanyalah sejauh doa. Kita sadari atau tidak, Tuhan selalu didekat kita dan siap mendengarkan kita serta mencurahkan kasih-Nya. Sudahkah kita siap menerima Dia?
Untuk dilakukan : “Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut” (Wahyu 12:11).
Langganan:
Postingan (Atom)