Kamis, 01 Maret 2012

"Akhirnya harus bersyukur."

"Akhirnya harus bersyukur."
Yang namanya manusia tidak pernah ada puasnya. Dikasih hujan minta panas, dikasih panas minta hujan. Semua keadaan jadi kambing hitam atau jadi objek yang selalu disalahkan. Tidak Cuma itu, waktu kita mulai membandingkan diri dengan orang lain, ujung-ujungnya yang ada hanya persungutan.

Diam-diam atau terang-terangan kita mulai protes sama Tuhan. Pernahkah kita coba melihat, bahwa ada sebagian manusia dibumi yang sama, yang tidak lebih beruntung dan tidak seberuntung kita?

“Tuhan, Hari yang buruk” batin Lisa, langit yang tampak menggelap karena hampir malam, yang saat itu ada di dalam bis.

tiba-tiba jadi semarak dengan warna-warni lampu di tengah kota yang satu-persatu mulai menyala menyambut datangnya malam. Masih didalam bis kota, dan jaga masih termenung, pandangan Lisa menerawang jauh. Sesekali mulutnya mengeluarkan keluh kesah. “Ahhhhhh…!”

Bis yang Lisa tumpangi terpaksa harus berhenti sesaat, karena ada kereta yang lewat. Mata Lisa tertuju dengan kehidupan di sepanjang rel kereta. Orang-orang yang tinggal di gubuk disepanjang pinggir rel, tampak duduk dan bercengkrama dengan santainya sambil menikmati nasi bungkus ramai-ramai, yang isinya tidak sebanding dengan mulut yang harus makan saat itu. Mereka terus makan, sambil sesekali memebereskan rambutnya yang tertiup angin. Mereka tidak peduli, walau puluhan mungkin juga ratusan mata melihat. Tak jauh dari tempat itu beberapa anak yang tampak tak terurus berkejar-kejaran tanpa alas kaki, sampai anak-anak lainnya berhamburan keluar begitu tahu lampu merah menyala. Lampu merah adalah panggilan bagi mereka untuk bekerja, dan bis kota adalah tempat mereka mengais rejeki. Sempat Lisa memandang tiga orang bocah berpakaian kumal dan agak compang-camping lengkap dengan gitar kecil. Sedang serius menghitung sejumlah uang receh dekat gubuk yang punya cahaya lampu cukup terang.

Bis kembali melaju meninggalkan rel. “pemandangan tadi bukan kebetulan” bisik Lisa. Hari ini Tuhan mengijinkan ia melihat kondisi orang lain, supaya ia mengerti, bahwa masih banyak yang lebih menderita, dan susah payah untuk bisa bahagia di tengah kehidupan dunia yang keras. “selama ini aku berpikir, akulah orang yang paling malang di dunia ini. Aku salah Tuhan Engkau sendiri yang mencelikkan mataku. Ampuni aku yang sudah besungut-sungut, dan ajarlah aku untuk selalu bersyukur” doa Lisa.

Lisa kini mengerti, hidup memang tidak mudah. Untuk itu, ia harus berjuang. Tapi Lisa tau ia tidak berjuang sendiri. Ada Tuhan yang menyertai dia.. “Thanks God” ujar Lisa mantab
Y


Rabu, 29 Februari 2012

Bermegah Dalam Tuhan

  • Bermegah Dalam Tuhan
    Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga."
    Lukas 10:20

    Seseorang bernama Sir James Simpson telah berhasil menemukan chloroform yaitu sebuah zat yang dapat menolong orang untuk tidak merasakan sakit pada waktu dioperasi. Penemuan itu merupakan penemuan besar dalam dunia kedokteran. Pada suatu kali seseorang bertanya kepada Sir James Simpson “apakah yang anda pandang sebagai penemuan terbesar anda? Jawaban yang diharapkan adalah, chloroform. Tetapi Simpson menjawab, “penemuan saya yang terbesar adalah bahwa Yesus ialah Juruselamatku.”

    Saudara saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, kebanggaan pribadi membutakan hati kita sehingga kita jatuh dalam kesombongan. Kebanggaan pribadi yang mungkin kita capai dari prestasi kita itu pada akhirnya memebuat kita seolah-olah ingin selalu dipuji orang, di hormati dan dipermuliakan orang lain. Kita tidak sadar bahwa kita telah mencuri kemuliaan Allah. Dalam nas ini Yesus mengingatkan ketujuh puluh murid yang telah dipilihnya agar jangan bersukacita, membanggakan diri atas prestasi yang telah mereka lakukan yaitu karena mereka dapat manaklukkan roh-roh jahat yang datang kepada mereka. Tuhan Yesus mengatakan bahwa kita harus bersukacita atas setiap perbuatan baik yang telah kita lakukan ,kita telah diberikan kerajaan sorga. Seperti Sir James Simpson seorang ilmuwan yang telah menemukan hal besar dalam dunia kedokteran tetapi dia menyaksikan bahwa hal yang terbesar telah ditemukannya adalah Tuhan Yesus. Pengakuan itulah yang senantiasa kita saksikan dalam hidup kita agar kita tidak jatuh dalam kesombongan diri.

    Kebenarannya adalah bahwa kemuliaan seseorang yang terbesar bukanlah apa yang telah ia perbuat kepada Allah tetapi sebaliknya, apa yang Allah telah perbuat baginya.Oleh karena itu kerendahan hati dapat menolong kita untuk dapat menunjukkan kemuliaan Allah di dalam diri kita melalui hidup kita. Hidup kita ada hanya karena kasih karunia Allah saja, oleh sebab itu tidak ada alasan bagi kita untuk membanggakan diri dan menyombongkan diri. Berbahagialah jika kita dapat melakukan sesuatu yang baik bagi orang lain karena kita telah tercatat dalam kerajaan sorga. Amin

    "Tetapi barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan."
    (2 Korintus 10:17)

Selasa, 28 Februari 2012

"Selalu ada jalan keluar."

"Selalu ada jalan keluar."
Suatu masalah itu jika menyempit, maka biasanyanya ia menjadi meluas. Jika tali ditarik keras-keras, ia akan terputus. Jika malam semakin gelap, pertanda akan muncul fajar. Itulah tanda kehidupan yang sudah dan terus berlaku. Itulah hikmah yang pasti terjadi. Maka, relakanlah jiwamu untuk merelakan kondisinya. Karena, setelah kehausan pasti akan ada air. Setelah musim semi akan datang musim penghujan.

Mungkin saja betapa banyak kesedihan yang engkau keluhkan. Tapi permudahlah urusanmu. Lapangkanlah pikiranmu. Tidakkah engkau membaca firman Tuhan Tidakkah engkau berbahagia karena di dunia ini masih terhampar banyak harapan. Di dunia ini masih banyak kemudahan.

Wahai yang berkeluh-kesah tentang banyak urusan. Lalu menjalani hidup serasa dalam kurungan. Sementara air matanya terus mengalir karena sedih.

Sesungguhnya untuk rasa sakit, ada kesembuhan.
Untuk penyakit, ada obat.
Untuk haus, ada air.
Untuk kesulitan, ada kelapangan.
Dalam kesempitan, ada kebahagiaan.
Dalam gelap, pasti akan ada cahaya terang.
Sesungguhnya Tuhan bersama kita. Dia mendengarkan kita. Dia melindungi kita.
Sebagaimana Dia telah menghimpun kita.

Katakanlah kepada orang yang tenggelam dalam putus asa dan telah terjatuh.
Kepada orang yang telah patah arang dan terpuruk.
Kepada orang yang bimbang pemahamannya dalam masalah iman.
Bekerjalah dan beramallah, sesungguhnya Tuhan justru menurunkan hujan setelah manusia putus ada terhadap hujan.

Tuhan pasti akan menciptakan kemudahan setelah kesulitan. Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya pasti ada keadaan lain yang Tuhan berikan setelah kesulitan?

Siapapun yang mengingat nama-NYA, maka Tuhan akan menjadikan jalan keluar dari setiap kesulitannya. Tuhan yang akan memberinya jalan penyesalan terhadap setiap kegundahannya. Tidak ada daya dan upaya kecuali dari Tuhan Dengan pengharapan itu, segala beban mampu terpikul, semua kengerian bisa terlewati, seluruh keadaan bisa lebih baik, lebih melapangkan pikiran dan menambahkan rasa pasrah kepada Tuhan.

Beritakanlah kegembiraan kepada malam, dengan datangnya pagi yang menyapu gelap dari puncak gunung-gunung.

Beritakanlah kegembiraan kepada musim semi dengan turunnya limpahan air hujan hingga air itu masuk ke sela-sela pasir.

Beritakanlah kegembiraan kepada orang sesat dengan harta yang bisa mengusir kematian.

Ketahuilah, di setiap kesulitan itu ada jeda.
Di setiap kebutuhan itu ada pertolongan.

Sesungguhnya Tuhan menghilangkan bencana dengan ketulusan doa dan kebersihan harapan.
Ketahuilah, himpitan dan kesulitan itu menghilangkan kesombongan dan terus menerus mendorong kepada ampunan, syukur dan kewaspadaan berpikir. Maka tenangkanlah hatimu jika kegalauan menerpamu. Lapangkanlah dadamu jika kesulitan menyerangmu. Jangan putus asa terhadap apa yang telah terjadi dan telah hancur. Ketahuilah, karena tidak ada sesuatu yang abadi selama alam semesta ini berputar.

Semoga kesulitan menjadi lebih ringan bagimu, dan musibah bisa memberikan kebaikan untukmu. Jika hidupmu telah terhimpit dan tak ada lagi alasan yang bisa engkau angkat. Kembalilah kepada Tuhan. Ketahuilah bahwa kesulitan tak pernah berlangsung terus menerus. Tuhan pasti memandangmu dengan pandangan kasih dan sayang. Karena dunia ini tidak berada dalam satu keadaan. Karena dunia ini berwarna-warni dan beragam bentuknya. Tidak ada kengerian yang tak pernah selesai. Belenggu akan terbuka dan ikatan akan terlepas. Bersabarlah, berdoalah dan nantikanlah jalan keluar dari Tuhan.

Ketahuilah, sesungguhnya kesulitan itu akan mampu membuka kejernihan telinga dan mata, serta menajamkan pikiran.
Kesulitan bisa memberi hikmah dan pelajaran.
Kesulitan mengajarkan kemampuan untuk memikul beban dan bertahan.
Kesulitan menghapuskan dosa.
Kesulitan memperbanyak pahala.

Maka, mintalah perlindungan dan pertolongan Tuhan. Setiap musibah itu mempunyai tujuan.

Berapa kali kita merasa takut, lalu kita berdoa dan meminta kepada Tuhan. Kemudian Tuhan menyelamatkan dan melindungi kita.

Berapa kali kita di lilit lapar, lalu Tuhan memberi makan dan minum untuk kita.

Berapa kali kita diterpa kebimbangan dan keresahan, lalu tuhan memberikan kebahagiaan dan kesenangan.

Berapa kali kita terjerat dan kita hampir terjatuh dalam kehancuran.
Kemudian tuhan memberikan jalan untuk bangkit dan berjalan.

Ketahuilah, engkau berhubungan dengan Yang Maha Lembut terhadap hamba-Nya.
Yang Terkenal dengan Pemberiannya.
Yang Maha Meberi untuk kebahagiaan hamba-Nya.
Yang Maha Kuasa atas segala keinginan-Nya.

Senin, 27 Februari 2012

"Siapakah Sesamaku???"

"Siapakah Sesamaku???"
“Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” (Markus 12:31)

Sebuah kebenaran menyentakkan saya pada suatu hari, ketika Tuhan bertanya, “Siapakah sesamamu?” segera saya menjawab “Manusia”. “Itu benar, tapi siapakah sesamamu,

manusia? Sudahkah engkau memperlakukan sesamamu manusia, sebagaimana layaknya manusia?” tanya Tuhan.

Saya terdiam. Tuhan memperlihatkan pada saya, sebuah flash back di masa lalu, mengenai perlakukan saya terhadap sesama. Slide yang pertama adalah sebuah gambaran di mana saya sedang memandang orang dengan pandangan sinis dan menilai rendah seseorang hanya karena orang itu tidak mampu mengerti apa yang saya inginkan dan berbeda suku.

Slide ke-2 adalah ketika saya dengan sengaja memperalat tenaga orang lain dengan alasan pelayanan padahal untuk kepentingan diri sendiri. Slide yang ke-3 adalah ketika saya dengan sadar membicarakan kelemahan orang lain dan dengan sengaja mempermalukannya di depan publik.

Di tengah-tengah slide yang Tuhan tampilkan, Tuhan berkata dengan lembut, “Menurutmu, apakah ini yang dinamakan mengasihi sesama?” Saya tertunduk seraya berkata dalam hati, “Tidak, Tuhan.”

Tuhan membawa saya pada sebuah kebenaran “Sesamamu manusia adalah orang-orang yang ada di sekitar dirimu, orang-orang yang berbeda pendapat denganmu, orang-orang yang tidak kamu sukai

karena mereka telah menyakiti hatimu, orang-orang yang telah mempermalukan dan menjatuhkan harga dirimu, termasuk orang-orang yang membenci dirimu karena engkau menjadi pengikut-Ku.”

Saudaraku, bagaimana dengan anda? Masihkah anda merasa bahwa diri anda lebih berharga dan lebih hebat dari orang lain karena anda memiliki kemampuan melebihi kebanyakan orang? Masihkah anda memandang orang-orang yang berbeda dengan anda seperti sebuah penyakit menular yang harus dihindari dan dibuang jauh-jauh?

Masihkah ada belas kasihan di dalam hatimu bagi jiwa-jiwa yang terhilang dan belum mengenal kasih Bapa? Atau jangan-jangan kita bahkan sudah lupa bagaimana mengasihi karena waktu kita tersita habis oleh pekerjaan dan masalah?

Saudaraku ketahuilah, Tidak ada seorang pun yang hebat di muka bumi ini, tidak ada seorangpun yang lebih ahli di muka bumi ini. Semua sama di mata Allah, yang mengaruniakan keahlian kepadamu dengan maksud, untuk engkau mengajarkannya kepada orang-orang yang tidak memiliki pengertian dan membuat mereka menjadi maju dan keluar dari kebodohannya.

Allah adalah Allah yang kreatif, tidak ada satupun manusia yang diciptakan sama. Setiap orang berbeda dan unik dan Alalh menyukai perbedaan itu. Allah tidak memandang perbedaan sebagai sebuah jurang, tapi Allah memandang perbedaan sebagai suatu simfoni yang manis bagi alam semesta.

Darah Yesus adalah darah yang dipenuhi oleh belas kasihan akan jiwa-jiwa dan Yesus memberikan darah itu secara cuma-cuma kepada semua orang. Darah Yesus itu sekarang telah ada di dalammu dan darah Yesus yang memampukan anda untuk mengasihi jiwa-jiwa tanpa batas.

Ketika kita sudah mulai kehilangan belas kasihan akan jiwa-jiwa, itu artinya sumber mata air hidup anda sudah kering, terkuras habis oleh kesenangan pribadi dan pergumulan hidup yang tak habis-habisnya. Jalan satu-satunya hanya satu yaitu datang, berdiam diri di hadapan Allah dan minta Roh Kudus untuk memenuhkan kembali hidup anda dengan kasih-Nya. Setelah itu, tebarkanlah belas kasihan yang telah engkau miliki itu, kepada orang-orang di sekelilingmu terlepas dari apakah dia layak untuk menerimanya atau tidak. Berilah dengan tulus dan tanpa pamrih.

Sesamaku, adalah orang-orang yang bersamanya kita tidak merasa nyaman tapi kita memilih untuk menciptakan suasana nyaman. Adalah orang-orang yang telah menyakiti hati kita dan kita memilih untuk melepaskan pengampunan kepadanya. Adalah orang-orang yang menderita dan kita memilih untuk merangkul dan membantu mereka untuk pulih. Adalah orang-orang yang belum mengenal Allah dan kita memilih untuk memberitakan kabar keselamatan itu kepadanya.

Kasih yang sejati, adalah kasih yang memberi dan tidak menuntut.
Adalah kasih yang “MESKIPUN” dan bukan “WALAUPUN”.
Adalah kasih yang tidak menunggu waktu tapi mencari waktu.
Adalah kasih yang selalu tersedia 24 jam di toko swalayan hatimu.

Minggu, 26 Februari 2012

BELAJARLAH UNTUK MENGERTI KEHENDAK ALLAH

BELAJARLAH UNTUK MENGERTI KEHENDAK ALLAH
Hidup tentram, nyaman dan damai serta di berkati Allah adalah dambaan setiap insan. Berbagai cara ditempuh oleh setiap insan untuk meraihnya. Tetapi tidak jarang kita gagal menemukan kebahagiaan, bila diperhadapkan dengan kebahagiaan menurut pandangan Tuhan. Tidak heran kita sering membohongi diri, pura-pura bahagia, tetapi sesungguhnya ketakutan dan kekecewaan lebih banyak kita jumpai.

Secara logis perbuatan kita tidak mampu membalas seluruh Anugerah dan Kasih Karunia Allah. Sehingga sangat tidak benar ketika orang muda itu berkata "apa yang harus aku perbuat?". Dalam benaknya bahwa dengan perbuatan ia akan mendapat hidup kekal. Karena apa yang Yesus perintahkan untuk dilakukan menurut kebiasaan keagamaannya telah ia lakukan. Ia pun menantang Yesus dengan mengatakan "Semua telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang" (ay.20).


Akhirnya satu hal yang Yesus ajukan diluar perkiraannya, yaitu juallah segala milikmu dan berikanlah kepada orang-orang miskin, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku (ay.21). Tantangan ini sungguh berat bagi dirinya, sehingga ia pergi dengan kecewa dan meninggalkan Yesus (ay.22).

Kita selalu takut memberikan yang paling berharga dalam hidup ini untuk sesama. Padahal yang Tuhan minta bukanlah nyawa kita, tetapi sesuatu yang masih dapat kita raih kembali, karena kita seringkali gagal menangkap maksud dan berkat-berkat Tuhan pada masa yang akan datang. Sehingga kita terjebak menjadi manusia munafik. Berbuat sedikit tapi menuntut hak lebih besar kepada Allah. Tanpa kita bisa menyerahkan apa yang akan menjadi milik kita kelak ke dalam keputusan Allah. Kita sadar Allah tidak buta dan tuli; Allah tidak bodoh dan lelah untuk melihat anak-anakNya yang menyerahkan hidupnya secara total kepada Dia. Karena hanya Dia yang akan menambahkan apa yang menjadi harapan kita.