Rabu, 31 Agustus 2011

Karakter yang Teguh

Berjaga-jagalah! Berdiri dengan teguh dalam Iman! Bersikaplah sebagai laki-laki!  Dan tetaplah kuat! I Korintus 16:13

Mungkin anda bertanya, Seberapa pentingkah karakter itu? Jawabannya sederhana saja, karakter sangat penting karena karakter menentukan citra yang ditampilkan seseorang kepada orang lain.
Karakter seseorang sangat mempengaruhi pekerjaan dan pelayanannya di hadapan Allah. Orang yang bisa dipakai secara luar biasa oleh Allah, haruslah orang yang memiliki karakter yang baik, unggul dan baru. Salah satunya adalah karakter yang “Teguh.” Teguh yang dimaksud bukan berarti keras, perkasa, atau tangguh. Hati yang keras tidak baik, tetapi tekad yang teguh itu baik. Pantang mundur dalam menghadapi situasi apapun, itulah artinya teguh.
1.  Orang yang memiliki karakter yang teguh adalah orang yang bertahan dalam imannya demi kebenaran dan tidak akan berubah. Ia bisa bertahan sampai kepada kesudahannya, sama sekali tidak terpengaruh oleh apapun, itulah teguh. Demi Tuhannya, ia tidak takut kepada penderitaan atau hal lainnya, bahkan nyawanya juga tidak disayangkannya, itulah artinya memiliki karakter yang teguh.
2. Orang yang memiliki karakter yang teguh adalah manusia yang batiniahnya kuat. Orang yang teguh bukan ditentukan oleh kuat di luarnya, melainkan kuat di dalam manusia batiniahnya. Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan. (I Tim 1 : 7). Melalui Roh-Nya, manusia batiniah kita dikuatkan dan diteguhkan senantiasa. (Ef 3 : 16)

Sudahkah anda memiliki karakter ini? Pada keadaan yang bagaimanakah anda sekarang? Ketika karakter ini ada dalam hidup kita, maka ia akan menjadikan kita bertumbuh secara rohani, menjadi  orang yang stabil dan tenang menghadapi segala sesuatu. Tuhan Yesus memberkati saudara. (YMK)

Doa:  Tuhan Yesus, aku rindu memiliki keteguhan dalam menjalani hidup di tengah dunia ini. Roh Kudus berkaryalah dalam hidupku. Amin.

Selasa, 30 Agustus 2011

Dua Musuh yang Dua Anak

Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya! Roma 5:10

Senja kelabu. Di medan pertempuran mereka berbaring berdekatan, dua musuh itu! Tergeletak di sana mendekati ajal. Tiada seorang yang menyejukkan bibir yang terbakar dengan sedikit air, dan mengurangkan sakit yang diderita. Tiada seorang yang memberi kata-kata penghiburan atau meringankan dukacita dengan rasa iba. Mereka tidak saling mengenal, namun toh saling membenci.Kini, mereka berbaring berdekatan menanti maut. Kebencian dan dendam kesumat kepada musuh yang didekatnya membuat kematian itu terasa lebih menyedihkan. Dan dengan diam mereka menantikan maut, sangat diam; sepi ... Tetapi sejurus kemudian, yang seorang yaitu yang Jerman, dalam penderitaannya mulai berdoa dengan suara yang lemah memelas. Yang lain, tidak mengertinya. Baginya kata-kata itu asing, kata-kata tidak bersahabat dari seorang musuh. Tetapi tiba-tiba, dalam doa yang gundah gulana itu, sebuah nama disebutkan. Dan orang Perancis itu mendengarkan. Nama yang terdengar itu membangkitkan perasaan yang aneh, tetapi menggembirakan dalam hatinya. Dengar! Dengar! Itu dia ..! Nama yang indah itu .. “YESUS!”
Si Perancis itu memalingkan wajahnya sedikit ke arah musuhnya, dan dalam keremangan malam, ia melihat mata itu memandang ke atas, bercahaya .. dan di dalam hati orang Perancis yang dekat ajal itu tumbuh sebersit kerinduan. Ia ingin mengatakan dan menanyakan sesuatu .. Untuk Nama yang satu itu, pudarlah kebencian! Tetapi lalu orang Perancis itu juga menyebut dengan lembut Nama itu: “YESUS!” Dan di mata yang repih dari musuhnya timbul pancaran kesukaan, serta sesungging senyuman yang menghiasi bibir yang tertarik karena luka. Lalu semuanya jadi diam lagi .., dan darah mengalir terus mengantarkan nyawa mereka pergi. Tetapi dalam kebisuan malam di padang peperangan yang muram itu, dua hati dipersatukan! Dan yang lain itu, si Jerman, bibirnya masih bergemetaran lagi untuk terakhir kalinya dalam sukacita yang amat dalam: “YESUS … Juruselamat kami! ”  Dan mereka mati berdekatan.
Dua musuh; tetapi sesungguhnya .. dua anak dari Bapa yang di sorga!(NVDK)
Doa: Tuhan Yesus, Engkaulah perdamaianku. Engkau mendamaikan aku yang berdosa dengan Bapa surgawi. Terimakasih Tuhan. Amin.

Senin, 29 Agustus 2011

"Kisah Sebatang Bambu."

Sebatang bambu yang indah tumbuh di halaman rumah seorang petani. Batang bambu ini tumbuh tinggi menjulang di antara batang-batang bambu lainnya. Suatu hari datanglah sang petani yang empunya pohon bambu itu.

Dia berkata kepada batang bambu," Wahai bambu, maukah engkau kupakai untuk menjadi pipa saluran air, yang sangat berguna untuk mengairi sawahku?"

Batang bambu menjawabnya, "Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi engkau, Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi pipa saluran air itu."

Sang petani menjawab, "Pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan engkau dari rumpunmu yang indah itu. Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat melukai orang yang memegangmu. Setelah itu aku akan membelah-belah engkau sesuai dengan keperluanku. Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, supaya air dapat mengalir dengan lancar. Apabila aku sudah selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi pipa yang akan mengalirkan air untuk mengairi sawahku sehingga padi yang kutanam dapat tumbuh dengan subur."

Mendengar hal ini, batang bambu lama terdiam....., kemudian dia berkata kepada petani, "Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit ketika engkau menebangku. Juga pasti akan sakit ketika engkau membuang cabang-cabangku, bahkan lebih sakit lagi ketika engkau membelah-belah batangku yang indah ini, dan pasti tak tertahankan ketika engkau mengorek-ngorek bagian dalam tubuhku untuk membuang sekat-sekat penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu, Tuan?"

Petani menjawab batang bambu itu, " Wahai bambu, engkau pasti kuat melalui semua itu, karena aku memilihmu justru karena engkau yang paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah."

Akhirnya batang bambu itu menyerah, "Baiklah, Tuan. Aku ingin sekali berguna bagimu. Ini aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang kau kehendaki."

Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang bambu indah yang dulu hanya menjadi penghias halaman rumah petani, kini telah berubah menjadi pipa saluran air yang mengairi sawahnya sehingga padi dapat tumbuh dengan subur dan berbuah banyak.

Pernahkah kita berpikir bahwa dengan masalah yang datang silih berganti tak habis-habisnya, mungkin Tuhan sedang memproses kita untuk menjadi indah di hadapan-Nya? Sama seperti batang bambu itu, kita sedang ditempa, Tuhan sedang membuat kita sempurna untuk dipakai menjadi penyalur berkat. Dia sedang membuang kesombongan dan segala sifat kita yang tak berkenan bagi-Nya. Tapi jangan kuatir, kita pasti kuat karena Tuhan tak akan memberikan beban yang tak mampu kita pikul. Jadi maukah kita berserah pada kehendak Tuhan, membiarkan Dia bebas berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna bagi kerajaan-Nya? Seperti batang bambu itu, mari kita berkata, " Ini aku Tuhan, perbuatlah sesuai dengan yang Kau kehendaki."

Minggu, 28 Agustus 2011

Kebaikan Tuhan

Kebaikan Tuhan

Baca: Mazmur 119:97-104

Betapa kucintai Taurat-Mu. —Mazmur 119:97
Bacaan Untuk Setahun:

Mazmur 119:89-176 ■ 1 Korintus 8

Beberapa tahun yang lalu, saya kebetulan membaca suatu tulisan singkat karya Sir James Barrie, seorang bangsawan Inggris. Dalam tulisannya, ia memaparkan kesan pribadinya yang mendalam terhadap sang ibu. Ibunya sangat mengasihi Allah dan firman-Nya hingga ia benar-benar membaca setiap halaman Alkitabnya sampai hancur. “Sekarang Alkitab itu menjadi milikku,” tulis Sir James, “dan bagiku benang-benang hitam yang dijahitkan ibuku di dalam Alkitabnya merupakan bagian dari isinya.”

Ibu saya juga mencintai firman Allah. Kebiasaannya membaca dan merenungkan firman-Nya berjalan lebih dari 60 tahun. Saya menyimpan Alkitab miliknya di bagian yang mudah terlihat pada rak buku saya. Alkitabnya juga sudah usang dan robek, setiap halamannya dipenuhi dengan tulisan berupa komentar dan hasil perenungannya. Ketika saya masih kecil, saya sering masuk ke kamarnya di pagi hari dan melihatnya sedang membuka Alkitab di pangkuannya, merenungkan setiap kata yang dibacanya. Ia melakukan hal ini sampai saat ia tidak dapat lagi membaca kata-kata dalam Alkitab itu Pada masa-masa itupun, Alkitabnya adalah buku miliknya yang paling berharga.

Ketika ibu dari Sir James semakin lanjut usia, ia tak dapat lagi membaca kata-kata dalam Alkitabnya. Namun setiap hari, suaminya tetap meletakkan Alkitab itu di tangan sang istri, dan ia akan memegangnya dengan hormat.

Pemazmur menulis, “Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku” (119:103). Sudahkah Anda mengecap kebaikan Tuhan? Bacalah Alkitab Anda hari ini.

Alkitab, Alkitab! Lebih berharga dari emas;
Harapan sukacita dan terang kemuliaan dari setiap halamannya;
Yang berbicara tentang Bapa dan menceritakan kasih-Nya,
Dan menunjukkan jalan menuju rumah kekal di surga.

Alkitab yang sering dibaca merupakan tanda dari suatu jiwa yang telah terpuaskan.

TUHAN YESUS memberkati!

Sabtu, 27 Agustus 2011

Berbuat Baik

Berbuat Baik
Baca: Lukas 6:27-36

Yesus dari Nazaret: . . . berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang dikuasi iblis, sebab Allah menyertai Dia. —Kisah Para Rasul 10:38
Bacaan Untuk Setahun:

Mazmur 57–59 ■ Roma 4

Seseorang pernah berkata, “Kebaikan yang kau lakukan hari ini akan dilupakan keesokan harinya. Namun, tetaplah berbuat baik.” Saya suka pernyataan tersebut karena ini menjadi suatu pengingat yang baik. Dalam kitab Kisah Para Rasul, Lukas menyimpulkan pelayanan Yesus selama hidup-Nya dengan menuliskan bahwa Dia “berjalan berkeliling sambil berbuat baik” (10:38).

Apakah maksud Alkitab ketika meminta kita untuk “berbuat baik”? Yesus berbuat baik dengan cara mengajar, menyembuhkan, memberi makan, dan menghibur banyak orang. Dengan menjadikan Yesus sebagai teladan yang sempurna, para pengikut-Nya dipanggil untuk memenuhi kebutuhan sesamanya, termasuk kebutuhan orang-orang yang membenci mereka: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat. 5:44; lih. Luk. 6:27-35). Mereka harus melayani musuh mereka tanpa pamrih.

Selain itu, ketika kesempatan datang, para pengikut-Nya harus berbuat baik, terutama kepada sesama orang beriman (Gal. 6:10). Mereka tidak boleh membiarkan penganiayaan, keegoisan, dan kesibukan membuat mereka lupa untuk berbuat baik dan mengulurkan tangan berbagi dengan sesamanya (Ibr. 13:16).

Untuk menjadi serupa dengan Juruselamat kita dan para pengikut-Nya yang mula-mula, kita harus bertanya kepada diri kita setiap hari: “Perbuatan baik apakah yang dapat kulakukan hari ini dalam nama Yesus?” Dengan berbuat baik, kita memberikan persembahan yang berkenan kepada Allah (Ibr. 13:16) dan yang menarik orang untuk datang kepada-Nya (Mat. 5:16). —MLW

Belajar dari teladan Yesus,
Yang senantiasa berbuat baik,
Mari muliakan Juruselamat kita
Rela mengulurkan tangan di mana pun. —Hess
Teladanilah Yesus—berbuat baik di mana pun.

TUHAN YESUS memberkati!