Senin, 18 Agustus 2025

Hidup adalah Perjuangan

Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apapun juga penyakitnya. (Yohanes 5:4).


Salah satu tema yang tidak pernah berhenti dibicarakan semasa manusia hidup adalah tentang hidup itu sendiri. Karena itu, setiap orang harus mengerti makna dari kehidupan tersebut agar pemahamannya tentang hidup tidaklah terlalu sekuler. Sebab, dalam dunia ini terlalu banyak filosfi hidup yang dibangun tidak berdasarkan firman Tuhan. Sebut saja, filosofi yang mengatakan masa kecil ditimang-timang, masa muda foya-foya, masa tua kaya raya dan mati masuk surga.

Dalam bacaan firman Tuhan ini, Alkitab memberi perspektif yang berbeda tentang makna dari sebuah kehidupan. Di Yerusalem, dekat pintu gerbang domba ada sebuah kolam yang namanya Betesda. Dan, Betesda itu memiliki lima serambi. Di serambi-serambi itu, berbaring sejumlah besar orang sakit, orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh. Di sana mereka menantikan goncangan air kolam tersebut. Alkitab berkata, Allah membuat aturan main yang luar biasa dan akal manusia yang terbatas sulit memahaminya. Aturan itu adalah barang siapa terdahulu masuk di dalamnya, itulah yang mendapatkan kesembuhan. Aturan ini membuat kita bertanya, kalau hal itu diberlakukan bagi orang sehat tidak masalah. Tapi, hal ini diberlakukan bagi orang-orang sakit suatu hal yang sukar dipahami. Namun itulah aturan mainnya.

Satu prinsip yang sangat menonjol kita lihat di sini bahwa hidup itu sebuah perjuangan. Manusia harus berjuang sedemikian rupa agar memperoleh berkat yang sudah disediakan-Nya, yakni kesembuhan. Jika hanya berdiam diri dan tidak pernah mencoba bertarung, maka seumur hidup tidak pernah menyaksikan dan mengalami pertolongan Tuhan. Sakit, bukanlah alasan untuk berdiam diri. Keterbatasan bukan pula alasan untuk berkata inilah nasib saya. Tuhan mau, kita berjuang dari keterbatasan yang ada, agar kuasa-Nya makin nyata bagi kita. Inilah prinsip firman Tuhan.

“Walau terbatas, tetaplah berjuang agar kuasa-Nya menjadi nyata”.

Gbu all....

Minggu, 17 Agustus 2025

Harapan Memberikan Kekekalan

Hidup di dalam Tuhan pasti penuh pengharapan dan hukum itu berlaku selama-lamanya.

Amsal 23:18
" Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang"

Salah satu pemberian terbesar yang dapat diberikan para pemimpin kepada orang-orang di sekitar mereka adalah harapan. Jangan pernah meremehkan kekuatannya. Winston Churchill pernah ditanya seorang reporter tentang senjata terbesar negaranya melawan rezim Nazi Hitler. Tanpa berhenti sejenak pun ia menjawab: "Senjata Inggris terbesar dari dahulu adalah harapan."

Orang akan terus bekerja, berjuang, dan berusaha jika mereka mempunyai harapan. Harapan mengangkat moral orang. Harapan memperbaiki citra diri mereka. Harapan memberikan kekuatan lagi pada mereka. Harapan membangkitkan keinginan mereka.

Tugas seorang pemimpin adalah menjaga harapan tetap tinggi, menanamkannya dalam diri orang-orang yang dipimpinnya. Para pengikut Anda akan mempunyai harapan hanya Anda memberikannya kepada mereka. Dan Anda akan mempunyai harapan untuk diberikan jika Anda menjaga sikap yang benar.

Menjaga harapan berasal dari melihat potensi dalam setiap keadaan dan tetap berpikir positif walaupun keadaan tidak demikian. Sebagai anak-anak Tuhan, bersyukurlah Anda karena Tuhan memberikan pengharapan dalam hidup Anda dan pengharapan itu membawa Anda kepada kekekalan.

Sumber: John C. Maxwell – Leadership: Janji Tuhan Untuk Setiap Hari

Gbu all...

Sabtu, 16 Agustus 2025

HARUS BISA MENGUASAI DIRI

"Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya." Roma 6:12

Di zaman ini, seseorang dapat dengan mudah menguasai orang lain, apalagi bagi yang punya uang atau juga jabatan, namun untuk dapat menguasai diri sendiri adalah suatu pekerjaan yang tidak mudah, apalagi untuk melakukan kebenaran yang sesuai dengan firman Tuhan, walau dalam hati sebenarnya sangat ingin dapat melakukannya. Oleh karena itu, Tuhan Yesus berkata kepada murid-muridNya, "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah." (Matius 26:41). Melalui ayat ini, sudah sangat jelas dikatakan bahwa untuk memperoleh kemenangan dalam setiap pergumulan dan bagaimana untuk dapat menguasai diri adalah dengan berjaga-jaga dan berdoa mohon pimpinan Roh Kudus, sehingga apabila ada hal-hal yang tidak benar yang diinginkan oleh tubuh/daging kita, maka Roh Kudus akan segera menegur dan memperingatkan kita. Sesungguhnya setiap kita hendak melakukan dosa, hati kecil kita sudah terlebih dahulu merasakan peringatan-peringat an Roh Kudus, hanya saja daging kita tidak mau menurut dan terus mengabaikan suara Roh Kudus yang ada di dalam hati kita.

Penulis Amsal berkata, "…orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota." (Amsal 16:32b). Ini menunjukkan bahwa menguasai diri itu lebih sulit daripada merebut kota ketika berperang. Contoh sederhana adalah berhubungan dengan lidah atau ucapan, seringkali kita tidak mampu mengekang atau menguasai lidah kita, sehingga melalui ucapan kita terjerumus dengan kata-kata yang kotor, menyakitkan orang lain dan tidak berkenan dihadapan Tuhan. Mulut yang tidak terkendali menunjukkan bahwa hati orang itu tidak bijak, karena "Hati orang bijak menjadikan mulutnya berakal budi, dan menjadikan bibirnya lebih dapat meyakinkan." (Amsal 16:23). Melalui renungan hari ini, kita kembali diingatkan betapa penting penguasaan diri itu bagi kita, oleh karena itu kita harus menyerahkan seluruh anggota tubuh kita ke dalam pimpinan Roh Kudus sepenuhnya, bila tidak maka iblis akan dengan mudah masuk dan menyerang kita, karena iblis selalu "…mencari orang yang dapat ditelannya." (1 Petrus 5:8).

Kunci penguasaan diri adalah tunduk kepada pimpinan Tuhan!

Gbu all....

Jumat, 15 Agustus 2025

TUHAN BEKERJA DI ATAS KELEMAHAN KITA

“‘Cukup!ah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna, Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” 2 Korintus 12:9


Kelemahan adalah suatu keterbatasan yang kita warisi atau kita dapatkan karena adanya suatu peristiwa yang terjadi di mana kita tidak punya kuasa menolaknya. Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna, baik itu secara fisik, emosi ataupun intelektual. Karena itulah tidak seharusnya seseorang bermegah atau membanggakan diri sendiri.

Bila kita merasa memiliki banvak kelemahan, tidak seharusnya kita menjadi takut, pesimis dan mengasihani diri sendiri, karena sesungguhnya semua orang pasti punya kelemahan. Mungkin saat ini kita merasa berada dalam kelemahan karena keterbatasan dalam hal keuangan (hidup dalam kekurangan atau tidak mampu secara ekonomi); terbatas secara pendidikan (tidak sekolah tinggi); keterbatasan secara fisik (cacat, punya sakit-penyakit) atau juga keterbatasan emosional (trauma, sakit hati, kepahitan, luka-luka batin) dan lainnya. Dan kesemuanya itu ada satu hal yang harus kita perhatikan yaitu kelemahan bukanlah masalah utama, namun yang terpenting adalah apa yang kita kerjakan ketika menyadari bahwa ada kelemahan dalam diri kita.

Adakalanya pilihan mengijinkan ada kelemahan dalam hidup kita, dengan tujuan agar kita belajar rendah hati dan juga menunjukkan kuasa-Nya atas kita. Tuhan tidak pernah terkesan dengan orang-orang yang merasa dirinya pintar, kuat dan mampu dengan kekuatan sendiri, tetapi sangat tertarik kepada orang-orang yang menyadari dan mengakui keterbatasan, ketidakberdayaan atau kelemahannya. Banyak kisah dalam Alkitab tentang orang-orang biasa yang memiliki banyak kelemahan, namun hidupnya dipakai Tuhan secara luar biasa. Contohnya Musa, sebelum menjadi pemimpin besar Israel, ia adalah orang yang tidak percaya diri dan merasa tidak layak (Keluaran 4:10) Ingat! Walaupun kita memiliki kelemahan, Tuhan tidak bisa dibatasi oleh keterbatasan kita. Kita adalah bejana-bejana tanah liat, Dia penjunannya, Saat kita ijinkan Tuhan bekerja melalui kelemahan kita. Dia akan membentuk kita jadi bejana yang luar biasa.

Segala perkara dapat kita tanggung di dalam Tuhan karena Dia yang memberi kekuatan (baca Filipi 4:13).

Gbu all....

Kamis, 14 Agustus 2025

BAGAIMANA IBADAH KITA?

Beribadahlah kepada Tuhan dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar, Mazmur 2:11

Beribadah kepada Tuhan berarti berada dalam keadaan takjub sepenuhnya akan Tuhan. Bicara tentang ibadah, yang terbersit adalah kegiatan-kegiatan lahiriah yang kita lakukan di gereja atau persekutuan- persekutuan doa, di mana kita bernyanyi, berdoa dan mendengarkan kotbah. Tetapi dari penilaian Tuhan, aktivitas-aktivitas tersebut tidak sepenuhnya dianggap sebagai ibadah sejati bila kita mengerjakannya hanya sebagai rutinitas belaka. Janganlah hanya fokus kepada ibadah lahiriah dan melupakan arti ibadah sesungguhnya. Tuhan berkata, Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. (Matius 15:8-9).

Bagaimana agar ibadah berkenan di hati Tuhan? Ibadah dan penyembahan adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Beribadah kepada Tuhan berarti sujud dalam penghormatan kepadaNya, digambarkan sebagai tindakan membungkuk di hadapan Pribadi yang agung sebagai tanda kerendahan hati dan pengabdian. Bukan membungkuk secara lahiriah, melainkan tunduknya manusia batiniah kita. Ibadah sejati adalah tanggapan sepenuhnya hati kita atas kebesaran Tuhan yang kita wujudkan melalui pujian dan penyembahan yang kita naikkan sepenuh hati. Banyak orang Kristen memuji Tuhan tanpa semangat, asal-asalan dan ogah-ogahan. Siapakah kita ini? Bukankah kita sedang berhadapan dengan Pribadi yang agung, mulia dan berkuasa, yang menciptakan kita dan juga alam semesta ini? Itulah sebabnya Pemazmur dengan tegas menghimbau kita: Beribadahlah kepada Tuhan dengan takut dan ciumlah kaki-Mya dengan gemetar, supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di jalan, (ayat 11-12a dari Mazmur 2).

Ketika kita sungguh-sungguh memikirkan dan merasakan siapa Tuhan itu dan apa yang telah Dia perbuat bagi kita, kita tidak akan menganggap remeh setiap peribadatan dan bersikap seenaknya lagi. Pujian syukur dan seruan haleluya akan terus mengalir dari dasar hati dan keluar melalui mulut kita karena kita berada dalam ketakjuban akan keagungan Tuhan Allah kita.

Beribadahlah kepada Tuhan dengan segenap hati dan jiwa!

Gbu all....