Senin, 05 Mei 2025

Kasih Karunia Allah

2 Korintus 8:7-9

Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, -- dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami -- demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini. Aku mengatakan hal itu bukan sebagai perintah, melainkan, dengan menunjukkan usaha orang-orang lain untuk membantu, aku mau menguji keikhlasan kasih kamu. Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 125; 1 Korintus 14; 1 Samuel 16-17

Ada satu cerita tentang seorang pengemis yang bertemu dengan seorang pengacara. Ternyata pengemis itu adalah bekas teman sekolahnya. Pengacara tersebut langsung menulis cek sebesar 100 dolar dan berkata, "Ambillah cek ini, dan pakailah untuk hidupmu."

Pengemis itu terharu menerima cek dari temannya dan ia segera pergi ke bank untuk menguangkan cek itu. Tetapi, ia berhenti di depan pintu bank ketika melihat orang-orang yang bekerja dan keluar masuk bank dengan berpakaian rapi dan bersih. Lalu, ia melihat bajunya yang begitu dekil dan berpikir, "Mereka tidak akan bersedia menguangkan cek ini. Mereka pasti berpikir aku telah mencuri." Lalu, ia pergi tanpa menguangkan cek tersebut.

Pada hari berikutnya, kedua orang tersebut bertemu lagi. Pengacara itu bertanya, "Apa yang kamu lakukan dengan cek yang kuberikan kepadamu? Apakah kau pakai untuk berjudi? Minum minuman keras?" "Tidak.", kata pengemis itu. Pengemis itu lalu menceritakan mengapa ia tidak menguangkan cek itu. Lalu, pengacara itu berkata, "Yang membuat cek itu berlaku bukanlah pakaianmu atau tindakanmu, melainkan tanda tanganku."

Hidup kita sebagai orang Kristen sering kali juga seperti pengemis itu. Tuhan Yesus telah menandatangani cek keselamatan dan memberikannya kepada kita semua, tetapi kita takut dan cemas untuk menggunakan cek tersebut. Akibatnya, kita terus hidup seperti pengemis di atas. Darah Yesuslah yang telah memeteraikan keselamatan kita, bukan tindakan atau penampilan kita. Tugas kita yaitu menerima, menikmati dan hidup dalam kasih karunia yang telah Tuhan berikan.

Hiduplah sebagai anak, bukan sebagai budak karena pada dasarnya kita adalah budak yang telah diangkat menjadi anak.

Gbu all...

Minggu, 04 Mei 2025

Goal Keeper

Wahyu 12:9

Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 124; 1 Korintus 13; 1 Samuel 14-15

Pertandingan sepakbola, apalagi Piala Dunia, selalu mendapatkan sambutan yang meriah dari para penggemarnya. Di dalam permainan sepakbola bukan hanya ada pemain penyerang, melainkan ada juga penjaga gawang yang disebut ‘keeper'. Tugas seorang ‘keeper' sangatlah penting, yaitu mencegah pemain lawan untuk mencetak goal dengan segala daya dan upaya untuk menghalangi bola masuk ke dalam gawang.

Anak-anak Allah memiliki ‘goal' di dalam hidupnya. Jelas-jelas iblis sangat tidak suka kalau anak-anak Allah berhasil mencetak goal dan merayakan kemenangannya. Sebagai ‘goal keeper' iblis berusaha keras untuk menghalangi anak-anak Allah mencetak goal dengan cara-cara yang ‘menyesatkan'. Kata ‘menyesatkan' berasal dari kata Yunani ‘planao' yang berarti keluar dari jalur. Inilah salah satu cara iblis dari dulu sampai sekarang.

Ingat tidak bagaimana seorang keeper berhasil menangkis tendangan lawan dengan cara membuang bola menjauhi gawang. Itulah si iblis, yang selalu berdiri di depan gawang dan berusaha sekuat tenaga supaya anak-anak Tuhan tidak satu kali pun mencetak gol dan merayakan kemenangan. Jadi misi utama si iblis ialah: membuat semua manusia yang hidup di bumi keluar dari jalan atau track-nya Tuhan.

1 Petrus 1:18 mengatakan bahwa kita telah ditebus dari ‘cara hidup yang sia-sia'. Salah satu bentuk dari ‘cara hidup yang sia-sia' ialah ‘hidup tanpa tujuan'. Orang yang hidup tanpa tujuan sama seperti pemain bola yang merebut, membawa dan menendang bola, tapi tidak berniat untuk mencetak gol di gawang lawan. Ia hanya kecapean tanpa menghasilkan sesuatu.

Tanpa tujuan, hidup hanyalah sebuah eksperimen. Tuhan ciptakan kita bukan untuk hidup coba-coba. Kita bukan ‘produk gagal'-nya Tuhan (barang reject), tetapi kita di desain untuk mencetak gol di gawang lawan.

Apapun akan iblis lakukan untuk menghalangi Anda mencapai tujuan Ilahi. Tapi bersama Tuhan, tak ada satu kuasa pun yang sanggup menghalangi Anda meraihnya.

Sumber : Ps. Ferry Felani, S.Th. Pastor of City Gate Apostolic Community

Gbu all...

Sabtu, 03 Mei 2025

Tanggungjawab Murid Kristus

Matius 28:17-20

Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 122; 1 Korintus 11; 1 Samuel 10-11

Penyembahan mendatangkan suatu tanggungjawab (Worship brings responsibility). Melalui penyembahan, kita mengakui kuasa yang dimiliki Yesus Kristus, lalu bertindak berdasarkan kuasa yang Ia berikan kepada kita. Pada prinsipnya, penyembahan tidak relevan bagi orang yang malas dan hanya memikirkan diri sendiri; karena penyembahan lebih dari sekedar menyanyikan lagu-lagu rohani, memainlan alat musik, menutup mata dan mengangkat tangan.

Ketaatan (obedience) merupakan prinsip dasar dari penyembahan. Waktu kita tidak bersedia untuk taat, pada saat itu juga sebenarnya kita menolak untuk menyembah Tuhan. Menaikkan pujian dan penyembahan tanpa kesediaan untuk taat dan memikul salib, sama saja "ngegombalin Tuhan" (just lip service).

Perjalanan kita dengan Allah dimulai dengan kata "ikutlah" (follow me) dan berakhir dengan kata "pergilah" (go). Hidup Kristen kita harus dimulai melalui hubungan dengan Allah dan dilanjutkan dengan mengasihi jiwa-jiwa. Seorang murid yang baik bukan hanya datang untuk belajar, tetapi juga pergi untuk menerapkan apa yang telah diajarkan dan kemudian mengajarkannya kepada orang lain.

Memuridkan orang lain merupakan tanggungjawab kita kepada Tuhan atas apa yang telah Ia ajarkan kepada kita (secara langsung maupun melalui orang lain). Fokus pemuridan terletak pada "ajarlah mereka melakukan". Tidak ada cara yang lebih ampuh dalam belajar kebenaran selain menerapkannya setiap hari.

Seorang bernama Donald Barnhouse pernah berkata: "Cinta yang dipanjatkan ke atas adalah penyembahan. Cinta yang diturunkan ke bawah adalah kasih karunia." Pemuridan merupakan bentuk nyata dari kasih karunia yang diturunkan ke bawah, yang pada akhirnya melihat banyak kehidupan diubahkan oleh prinsip-prinsip kebenaran Kerajaan Allah yang diterapkan secara konsisten.

Tuhan mempercayakan bumi ini untuk dimenangkan melalui kita. Konsistensi kita melakukan kebenaran akan membawa dampak bagi hidup orang lain.

Sumber : Ps. Ferry Felani, S.Th. Pastor of City Gate Apostolic Community

Gbu all...

Jumat, 02 Mei 2025

Dari Kamar Praktek

Hagai 2:5

Tetapi sekarang, kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman TUHAN; kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar; kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah firman TUHAN; bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN semesta alam.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 121; 1 Korintus 10; 1 Samuel 8-9

Apakah kanker merupakan terminal akhir menuju kematian? Pertanyaan tersebut muncul setiap kali kita mendengar seseorang, keluarga atau kerabat, dinyatakan terserang kanker. Untuk mengatasi serangan kanker tersebut biasanya dilakukan klimoterapi, radioterapi, imunoterapi, kemudian paling akhir pembedahan.

Persoalan utama justru terpulang kepada bagaimana seorang dokter memilih obat berikut system pengobatannya. Agar daya tumpasnya jitu, tidak menghamburkan dana, membuang waktu serta membahayakan penderita. Ang Peng Tiam, peneliti penyakit kanker dari Rumah Sakit Mt. Elizabeth, Singapura, berkata, "Di kamar praktek saya terdapat kertas kecil, judulnya Doctor Prayer. Setiap hari, meski sudah sangat hafal, syair tersebut akan selalu saya baca ulang. Sebab saya merasa talenta, sikap profesional berikut apa yang telah dan akan saya lakukan, semuanya berhasil berkat campur tangan Tuhan". Pengalaman dari kamar praktek tersebut menegaskan tentang masih tetap terbukanya kesempatan untuk sembuh bagi para penderita kanker. Masih ada harapan.

Pekerjaan kita bukan hanya menghasilkan uang yang setiap bulan kita terima. Kiranya pekerjaan kita menerbitkan pengharapan bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain!

Pekerjaan dengan melibatkan Tuhan di dalamnya mampu menyelesaikan banyak hal yang tak mampu diselesaikan secara manusia.

Gbu all....

Kamis, 01 Mei 2025

Menciptakan Peluang

Kejadian 45:5

“Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku kesini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu.”

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 120; 1 Korintus 9; 1 Samuel 5-7

Menurut Diana Kirschner, Ph.D., psikolog dan ahli komunikasi, rasa cemburu adalah suatu bentuk pemikiran negatif yang datang dari dalam sendiri. Melalui penelitian, terbukti bahwa rasa cemburu bisa menimbulkan ketegangan dan depresi. Sebagaimana diketahui, rasa cemburu bisa berujung pada sakit hati, curiga, ledakan amarah, bahkan kemunduran kualitas dalam berhubungan. Tapi, mungkinkah rasa cemburu diubah menjadi sesuatu yang positif? Inilah salah satu caranya.

Ketika rasa cemburu mulai merayapi pikiran, sadari bahwa hal itu merupakan tanda betapa Anda sangat menyayangi pasangan. Daripada melelahkan diri dengan pikiran-pikiran negatif, cobalah untuk mendekati pasangan Anda dan katakan betapa sayangnya Anda kepadanya.

Di kehidupan ini kadang kita tidak tidak bisa memilih. Suka atau tidak, kita harus belajar untuk menerima segala sesuatu apa adanya. Kenyataan di depan kita adalah fakta tak terbantahkan dan kita tidak memiliki alternatif lain. Jika hal seperti ini terjadi, bagaimana tindakan selanjutnya? Apakah kita harus marah dengan situasi yang ada? Marilah kita belajar dari kehidupan tokoh Alkitab Perjanjian Lama bernama Yusuf.

Yusuf adalah pemuda yang harus kehilangan kemerdekaan dan harkat sebagai orang merdeka karena dijual para saudaranya yang iri kepadanya. Berbagai pengalaman berat setelah itu pun harus ia alami. Namun, Yusuf tidak sudi menyerah. Dengan pertolongan Allah, ia berhasil mengubah semua rintangan di jalan kehidupannya sebagai kesempatan. Dalam beberapa tahun, ia akhirnya diangkat oleh Firaun sebagai penguasa kedua di Mesir.

Belajar dari kehidupan Yusuf diatas, marilah kita menjawab tantangan sepanjang hari ini. Ubahlah paradigma tentang ketakutan terhadap tantangan menjadi kesempatan untuk meraih keberhasilan. Allah yang ada di dalam diri kita sanggup melakukan segala perkara untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.

Pengenalan diri yang diselaraskan dengan Firman Tuhan akan membuahkan keberhasilan sejati.

Gbu all...