Rabu, 08 Februari 2023

Pilih Kasih

Yohanes 21:21-22

"Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus: "Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?" Jawab Yesus: "Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 40; Kisah Para Rasul 12; Keluaran 29-30

Menjadi orang yang dijadikan nomor dua atau tiga dalam sebuah keluarga bukanlah sesuatu yang mengenakkan. Akibat hal ini juga, banyak anak yang akhirnya terluka atas perbuatan yang dilakukan oleh orang tuanya. Tidak hanya di rumah, di dalam perusahaan pun hal ini sering ditemui sehingga muncullah sebutan "anak emas bos" bagi mereka yang selalu mendapat perlakuan khusus dari atasannya.

Bagi mereka yang di-anakemas-kan, tentulah senang dengan perilaku yang diberikan oleh para pemimpinnya, tetapi bagi mereka yang tidak, kekecewaan dan kebencian tumbuh menyatu menjadi satu. Sadar atau tidak, pandangan kita terhadap Allah pun seperti itu. Kita menganggap bahwa ketika seseorang mendapat berkat yang luar biasa melimpah dan kita belum mendapatkannya maka kita akan menuduh-Nya sebagai Allah yang pilih kasih.

Dalam Kemahabesarannya, Allah memiliki wewenang menganugerahkan kasih dan kuasa-Nya kepada siapa ia ingin memberikannya. Hal ini bukan berarti Dia menganggap seseorang tidak berharga dan yang lain begitu tinggi derajat di mata-Nya. Dia memiliki rahasia tersendiri untuk memberkati satu persatu umat-Nya dan kita tidak perlu menanyakannya. Percaya saja, Allah telah menyiapkan berkat yang terbaik dan Dia akan mencurahkan sesuai dengan waktu yang dirancang-Nya.

Mungkin hari ini ada diantara Anda yang sudah berpaling dari Allah karena suatu peristiwa yang Anda anggap tidak harus Anda alami. Dalam kasih Kristus, saya mengatakan kembalilah kepada-Nya. Allah tidak pernah pilih kasih dan kalau pun ada kejadian yang membuat Anda begitu sedih dan kecewa lihatlah ada maksud-Nya yang besar dan mulia dibalik semua itu.

Allah mengasihi anak-anakNya dan itu tidak akan pernah berubah sampai kapan pun dan oleh apa pun juga.

Gbu all....

Selasa, 07 Februari 2023

Never Too Late

Mazmur 121:5

"TUHANlah Penjagamu, TUHANlah naunganmu di sebelah tangan kananmu."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 39; Kisah Para Rasul 11; Keluaran 27-28

Supaya sebuah pohon atau tanaman bisa bertumbuh dan menghasilkan buah, benihnya harus terlebih dahulu ditanam di tanah dan mati. Supaya buah roh dapat muncul dalam hidup kita, pertama-tama kita harus ditanam dalam firman Allah mati bagi diri sendiri. Di hadapan pemurnian, kesulitan, disiplin, dan kesedihan, Firman Allah memberi makanan bagi hidup kita dan buah mulai bermunculan. Tetapi itu tidak terjadi dalam semalam. Dibutuhkan waktu dan kesabaran.

Yusuf tidak akan pernah dipakai oleh Allah jika ia tidak dijual oleh saudara-saudara yang membencinya, dan dituduh oleh istri Potifar, yang menjebloskannya ke dalam penjara. Bahkan, setelah ia memberi tahu juru minum Firaun bahwa ia akan kembali melayani raja dan memintanya untuk memberi tahu Firaun akan pemenjaraan dirinya yang tidak seharusnya dilakukan, Yusuf harus menanti dua tahun lagi untuk dibebaskan dari penjara.

Saat kita menantikan Tuhan, kadang-kadang Dia kelihatan lambat untuk datang menolong kita, tetapi Dia tidak pernah terlambat. Waktu-Nya selalu sempurna.

Pertolongan Allah dalam hidup Anda tidak akan pernah terlalu lambat atau pun juga terlalu cepat karena Dia akan melakukannya selalu tepat pada waktunya.

GBU ALL....

Senin, 06 Februari 2023

Kasih Yang Berkorban

Yohanes 15:13

"Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 38; Kisah Para Rasul 10; Keluaran 25-26

Kasih adalah sebuah kata yang sering kita dengar di dunia ini. Agama atau kepercayaan apa pun yang ada di dunia ini pasti mengetahui apa itu kasih. Tidak ada yang mau tidak dikasihi sesamanya. Setangguh apapun pria atau wanita, ia ingin merasakan kasih dari manusia lainnya.

Allah mengajarkan umat-Nya tentang hal ini melalui karya penebusan dosa manusia yang dilakukan oleh Yesus. Kasih itu tidak sekedar kata-kata mutiara atau perbuatan yang ujung-ujungnya meminta balasan. Kasih itu murni, bahkan itu juga berbicara pengorbanan. Dalam Yohanes 15, Yesus berkata kepada murid-murid, "inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya" (ayat 12,13).

Anda dan saya adalah sahabat-sahabat Tuhan Yesus, tetapi bukan berarti Dia mengatakan itu agar kita mau mati untuk-Nya. Bukan, bukan itu maksudnya. Yang Dia minta bagi kita yang mengaku sahabat-sahabatNya adalah ketaatan yang penuh kepada-Nya. Itu adalah cara kita memberikan nyawa baginya (Roma 12:1).

Demikian juga kita tidak perlu menunggu mati bagi sahabat kita, baru diri kita bisa menyebut diri sebagai sahabat mereka. Pengorbanan-pengorbanan selama Anda hidup saat ini juga dapat memperlihatkan seberapa dalam ikatan persahabatan diantara Anda dan sahabat Anda. Mengorbankan rencana dan jadwal yang padat, serta memberi perhatian disaat dia membutuhkan adalah sebuah cara sederhana untuk menunjukkan kasih Anda sebagai seorang sahabat.

Apa yang sudah Anda lakukan kepada orang-orang yang Anda akui sebagai sahabat? Sudahkah Anda melakukan pengorbanan-pengorbanan yang sepertinya sepele itu kepada mereka? Biarlah kita menjadi sahabat yang memiliki kasih seperti yang diinginkan oleh Allah.

Semakin dekat Anda kepada Allah semakin besar hati Anda untuk sesama.

Gbu all...

Minggu, 05 Februari 2023

Saat Hati Bicara

Rut 2:11

Boas menjawab: "Telah dikabarkan orang kepadaku dengan lengkap segala sesuatu yang engkau lakukan kepada mertuamu sesudah suamimu mati, dan bagaimana engkau meninggalkan ibu bapamu dan tanah kelahiranmu serta pergi kepada suatu bangsa yang dahulu tidak engkau kenal.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 65; Markus 9; Bilangan 13-14

Perempuan penenun yang telah berusia lanjut itu dengan cekatan mengurai juntai benang yang harus diatur sementara tangan yang lain dan kedua kakinya menggerak-gerakkan pedal alat tenun. Apa yang dilakukannya bisa jadi hanya merupakan sisa-sisa warisan masa lalu.

Kain tenun yang dihasilkannya banyak diminati. "Mereka datang kemari, bahkan kadang mereka memesan kain yang belum jadi," katanya. Mengapa kain tenunnya begitu menarik? Mungkin unik dan eksotis bagi para pemakainya. Di samping itu, jika dilihat dari caranya menenun, jelas bahwa perempuan ini termasuk orang yang sangat tekun. Jika ada kesalahan, ia tak segan menghentikan tenunannya agar dapat membetulkannya.

Apa yang dilakukan perempuan tersebut merupakan gambaran bahwa segala sesuatu yang dikerjakan dengan sepenuh hati akan melahirkan karya yang mempesona. Jauh sebelumnya seorang komponis jenius, yakni Beethoven telah membuktikannya. Missa Solemnis, "Sesuatu yang bersumber dari hati akan mendapat tempat di hati pula."

Sebagai umat-Nya, kita pun dipanggil untuk berkarya dengan sungguh-sungguh. Karya yang lahir dari sebuah kerinduan dan tekad serta keprihatinan kita. Sudahkah kita memenuhi panggilan untuk bekerja dengan niat hati seperti itu?

Perjalanan seberapa pun jauhnya selalu diawali dengan langkah pertama.

Gbu all...

Masih Adakah Harapan?

Pengkhotbah 9:4

Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 36; Kisah Para Rasul 8; Keluaran 21-22

Menjalani hidup akhir-akhir ini memang butuh perjuangan ekstra. Tantangannya yang semakin berat memaksa kita berpikir keras serta memutar otak untuk menyiasatinya. Tidak sedikit yang sudah berguguran di tengah jalan dengan memilih ‘berani mati' daripada dengan kepala tegak berani menantang hidup ini.

Sekilas jika membaca tulisan Salomo dalam Pengkhotbah, segala sesuatu dalam hidup tidak ada gunanya. Jika tidak berhati-hati pernyataannya bisa disalah mengerti. Ia seakan sampai pada kesimpulan bahwa hidup itu sia-sia. Segala sesuatu yang ada di bawah matahari tidak ada gunanya. Nasib semua orang sama: berakhir di liang kubur. Sampai di sini orang bisa putus asa.

Tetapi ayat 4 dari pembacaan nats di atas menawarkan sebuah harapan. Orang yang hidup mempunyai harapan. Harapan seperti apakah yang ditawarkan? Jika menilik frasa ‘makanlah rotimu' dan ‘minumlah anggurmu' (Pengkhotbah 9:7), ternyata Tuhan mengaruniakan hidup yang bisa dinikmati. Hasil usaha yang kita kerjakan adalah karunia-Nya untuk dinikmati.

Meski demikian ada batas yang digariskan Allah agar hal menikmati hidup ini tidak meluncur ke jurang hedonisme (hidup untuk bersenang-senang). Itu sebabnya Tuhan membatasinya dengan sebuah tanggung jawab: mengerjakan segala yang dijumpai tangan kita dengan penuh tanggung jawab. Sekeras dan sesulit apapun hidup, harapan senantiasa muncul seperti fajar merekah.

Manusia tanpa pengharapan sama dengan orang yang hidup dalam kematian.

Gbu all...