Kamis, 13 Januari 2022

Peace Maker

Matius 5:9

Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 7; Matius 7; Kejadian 13-14

Konflik tentu sudah tidak asing lagi dalam dunia kerja. Keberadaan konflik ini memang akan sangat mengganggu terutama dalam bagian yang membutuhkan kerjasama di antara para karyawannya. Seringkali konflik timbul karena di tempat kita bekerja terdapat orang yang cenderung sebagai pembawa masalah. "Trouble Maker" ini tidak berarti orang tersebut yang membuat masalah dengan orang lain ataupun mencari gara-gara, tetapi lebih menjurus pada pribadi yang mendorong terjadinya kondisi konflik.

"Pengadu" inilah istilah yang lazim digunakan bagi mereka. Selain memiliki kecenderungan untuk menceritakan semua masalah pada setiap orang, dan apa yang dikatakannya itu seringkali mendatangkan konflik di antara orang-orang di sekitarnya. Mungkin apa yang diceritakan bukanlah dusta dan benar adanya, tetapi "Pengadu" ini memanfaatkan hal ini untuk menunjukkan keburukan atau kesalahan orang lain dan menempatkan dirinya di posisi yang lebih baik dan atau meninggalkan kesan baik tentang dirinya.

Tanpa sadar seringkali orang percaya yang katanya memiliki nilai-nilai yang lebih baik, terjerumus dalam perkara seperti ini. Kita sering menceritakan mengenai keburukan-keburukan orang lain, bahkan membocorkan rahasia dan kesalahan rekan kerja kita. Bukan berarti kita harus selalu tutup mulut, tetapi kita harus menguji alasan kita melakukan "pengaduan" ini. Untuk meninggikan diri? Untuk menjelekkan posisi orang lain? Atau memang untuk alasan yang benar dan sangat perlu untuk dilakukan. Profesional, bukankah kita dipanggil menjadi pembawa damai?

Kasih menutupi banyak pelanggaran.

Gbu all....

Rabu, 12 Januari 2022

Karunia Berpikir

Filipi 4:8

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 6; Matius 6; Kejadian 11-12

Dalam beberapa hal manusia tidak lebih unggul daripada binatang. Saya telah menyaksikan pria-pria yang luar biasa kuatnya, tapi belum pernah ada manusia yang "sekuat lembu jantan". Manusia mampu berlari 100 meter dalam waktu kurang dari 10 detik, tapi itu tidak ada artinya dibandingkan kecepatan lari seekor cheetah. Ada orang-orang yang sangat pandai untuk menentukan arah, meskipun begitu mereka tidak mampu menjelaskan bagaimana burung layang-layang yang bermigrasi selalu dapat kembali ke tempat yang sama setiap tahunnya.

Memang beberapa jenis binatang benar-benar pandai. Namun, tak satu pun dari mereka dapat berpikir seperti kita. Tak satu binatang pun dapat mengembangkan masyarakat yang menakjubkan, dengan segenap kemajuan di bidang medis dan teknologi.

Kemampuan unik manusia untuk berpikir memungkinkan mereka untuk berpikir tentang Allah dan kekekalan. Seorang penyair Amerika terkenal, Walt Whitman, merasa terganggu dengan hal itu. Ia mengaku sering kali merasa iri pada ternak yang merumput sepuasnya di padang rumput, sebab mereka tak pernah khawatir dan memikirkan hal-hal yang menyusahkan.

Sebagai orang kristiani, kita tahu bahwa kemampuan berpikir merupakan karunia Allah. Namun sayang, kita dapat menyalahgunakannya dengan cara mengisi pikiran kita dengan hal-hal yang cabul, kotor, dan buruk. Itu sebabnya Paulus meminta kita untuk merenungkan semua yang benar, mulia, adil, suci, manis, bijak, patut dipuji, dan sedap didengar (Filipi 4:8).

Tuhan, bantulah kami untuk mendisiplin pikiran - Herb Vander Lugt

Karakter yang saleh dibentuk oleh pikiran yang kudus.

Gbu all...

Selasa, 11 Januari 2022

Polusi Suara

Kolose 3:8

Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 5; Matius 5; Kejadian 9-10

Kata-kata tak senonoh dan ungkapan yang kasar kini semakin biasa diucapkan dalam acara-acara utama televisi. Banyak penulis dan produser tampaknya semakin sering melanggar batas ketentuan yang diizinkan masyarakat tentang penggunaan kata-kata yang tidak bermoral dan bersifat menyerang.

Perkataan yang tak senonoh dan kasar adalah jenis polusi suara yang paling buruk. Selain menghujat Allah, kata-kata kotor juga merendahkan manusia. Percakapan yang diakhiri dengan kutukan, sumpah serapah, dan ungkapan-ungkapan kotor serta kasar, mengaburkan keindahan ide-ide yang luhur. Kata-kata yang bersifat mengutuk dapat membangkitkan amarah dan merusak hubungan kita dengan sesama. Kata- kata tersebut dapat menimbulkan sakit hati yang berkepanjangan dalam diri orang-orang yang peka terhadap perlakuan kasar secara lisan.

Perkataan yang tidak baik membuat keadaan di sekitar menjadi tak bermoral dan tidak rohani, sehingga merusak pikiran dan cara hidup yang kudus. Suara yang memekakkan telinga dapat meredam suara Roh Allah. Itulah sebabnya firman Allah menyatakan dengan jelas jenis perkataan yang tidak boleh keluar dari bibir para pengikut Yesus (Kolose 3:8), dan sekaligus jenis perkataan yang seharusnya menjadi ciri khas kita (Kolose 4:6).

Berabad-abad yang lalu pemazmur mempersembahkan sebuah doa yang akan membuat kita lebih bijaksana: "Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku" (Mazmur 141:3). Doa semacam itu sangat kita butuhkan pada masa-masa sekarang ini - Dennis De Haan.

Perkataan yang tidak senonoh memalukan si pengucap serta merendahkan si pendengar.

Gbu all...

Senin, 10 Januari 2022

Mengisi Kehampaan

Mazmur 62:11

Janganlah percaya kepada pemerasan, janganlah menaruh harap yang sia-sia kepada perampasan; apabila harta makin bertambah, janganlah hatimu melekat kepadanya.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 3; Matius 3; Kejadian 5-6

"Tak ada sesuatu pun yang dapat diambil dari rumah ini," kata seorang pencuri yang merasa membuang waktu di suatu tempat yang dimasukinya. Laporan berita menyatakan bahwa pencuri itu menyusup ke sebuah rumah dan mengancam penghuninya dengan pisau sambil mencari-cari uang. Ia menggeledah rumah itu, tetapi ia hanya menemukan uang 3 dolar di suatu tempat, 5 dolar di dompet, dan perhiasan murahan.

Pencuri itu menyimpulkan bahwa pemilik rumah itu ternyata tidak lebih dari dirinya, lalu ia mengembalikan uang 8 dolar yang tadi akan diambilnya. "Saya pikir ia merasa jijik," kata korban yang berusia 32 tahun itu. "Ia tidak percaya bahwa hanya itu uang yang saya miliki." Mungkin kita akan tersenyum geli mendengar kisah pencuri yang malang itu. Namun ternyata kita sering mengalami hal serupa, ketika kita mencoba mengambil sesuatu yang tak pernah diberikan Allah kepada kita. Menuruti dorongan untuk iri hati, berzinah, mencuri (Mazmur 62:11), atau hanya sekadar bersikap keras kepala, akan lebih banyak mendatangkan masalah ketimbang keuntungan.

Daud, sang pemazmur, banyak belajar dari pengalamannya yang berat mengenai hal ini. Ketika ia berzinah dengan istri Uria, ia mendapatkan lebih banyak masalah dari-pada kesenangan yang didambakannya (2 Samuel 11-12). Bapa, tolong kami untuk melihat bahwa tak ada gunanya mengambil sesuatu yang tidak Engkau berikan kepada kami. Tolong kami untuk tidak menyia-nyiakan hidup kami dengan mengejar hal-hal yang membuat kami jauh dari Engkau dan menjadikan hidup ini hampa.

Dosa selalu mendatangkan masalah.

Gbu all...

Minggu, 09 Januari 2022

Bertumbuh Menjadi Serupa Dengan Kristus

2 Korintus 4:17

Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 3; Wahyu 89; Ester 9-10

Lukas menuliskan bahwa, “…Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” (Lukas 2:52). Pengetahuan kita tentang kehidupan Yesus sebagai manusia sangat sedikit sekali, namun kita bisa simpulkan dari pernyataan Lukas bahwa Yesus bertumbuh secara emosional, mental dan fisik dengan dengan sangat baik.

Sama seperti kita, Yesus harus bertumbuh sebagai manusia. Dia yang tanpa dosa itu belajar berjalan seperti bayi-bayi lainnya, di didik oleh orangtuanya dan juga menjalani pekerjaan yang dilakukan Yusuf ayah-Nya sebagai tukang kayu.

Banyak orang yang saat ini menderita – bukan karena mereka berdosa atau menolak Allah – tetapi karena Allah sedang memproses hidup mereka. Dalam 2 Korintus pasal 1, Paulus tidak memoles bagaimana dirinya mengalami penderitaan. Bahkan di satu titik, ia mungkin saja mengalami kematian. Namun Tuhan tetap menjaganya, dan Paulus menuliskan masa-masa sulit yang ia lalui dengan menaruh harapan kepada Yesus Kristus.

Tuhan tidak dapat membentuk hidup kita jika diri kita tidak mau berserah dan menjadi transparan di hadapan-Nya. Kita mungkin tidak bisa membayangkan Yesus mengalami kesulitan ketika ia menjalani masa anak-anak, masa remaja atau saat ia bertumbuh menjadi pria dewasa, namun percayalah jika Dia tidak belajar untuk berserah sejak Ia muda, maka Yesus pasti mengalami kesulitan ketika harus menghadapi penderitaan menuju kayu salib.

Hari ini, mari berhenti melihat pada masalah dan penderitaan kita. Mari kita arahkan pandangan kita pada Yesus yang telah menanggung semua penderitaan kita. Ijinkan Dia menjamah hidup Anda, dan memberikan kekuatan pada Anda melalui masa-masa sulit Anda. Percayalah bahwa semua yang Allah ijinkan terjadi dalam hidup Anda, tujuannya untuk membawa Anda menjadi pribadi yang lebih baik. Semua itu tidak hanya membuat Anda menjadi semakin serupa dengan Kristus namun juga memuliakan nama Yesus Kristus dan menjadi kesaksian bagi dunia ini.

Penderitaan bukanlah sebuah hukuman, terkadang itu adalah anugrah yang tersembunyi yang membawa Anda pada mukjizat Allah.

Gbu all...