Yeremia 17:5
Beginilah
firman Tuhan: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang
mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada
Tuhan!"
Sejak
dulu sampai sekarang salah satu misteri bagi manusia adalah
ketidakpastian akan masa depan. Dalam kegelisahannya manusia berusaha
mereka-reka kalau-kalau nasib masa depan mereka bisa ditentukan oleh
bintang-bintang di langit, atau hari, bulan, dan tahun saat mereka
lahir. Atau lewat bola kristal. Singkatnya manusia cenderung
mengandalkan dirinya sendiri.
Kepastian
apa bagi Musa selama 40 tahun di padang pasir? Setiap hari hanya
memandang hamparan pasir hampa, tanpa tahu kapan ini akan berakhir.
Kepastian apa bagi Daud ketika hidup sebagai seorang pelarian, yang
hidup sehari-hari pun tanpa jaminan, sampai-sampai harus minta roti ke
Bait Allah? Kepastian apa bagi Yusuf di penjara bawah tanah di bawah
segel Firaun, penguasa negara adikuasa? Secara logika mustahil baginya
untuk dapat melihat alam bebas lagi.
Para
pahlawan iman di atas telah membuktikan bahwa Tuhan sepenuhnya, di atas
segala kekuatan dan kelemahan kita, di atas segala mudah dan sukarnya
keadaan. Kepastian pada akhirnya ada dalam genggaman tangan Tuhan, dan
jalan ke sana adalah mengandalkan Tuhan sepenuhnya. Jalan ke sana adalah
sepotong iman percaya, bahwa tangan kita sungguh tidak sanggup
menggenggam masa depan, hanya tangan-Nya yang sanggup.
Kepastian masa depan Anda sungguh ada, ketika Anda mengandalkan Tuhan sepenuhnya.
Gbu all...
Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Roma 12:11
Selasa, 05 November 2019
Senin, 04 November 2019
The Purpose Driven Career Life
Mazmur 139:16
Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.
Satu kali dalam kelas sekolah Minggu, sang guru menyuruh anak-anak untuk membuat bentuk apa saja sekehendak mereka dengan bahan yang diberikan. Setelah selesai, sang guru berusaha menebak bentuk apa yang mereka buat.
"Joel, bikin tongkat ya?" tebak sang guru.
"Lho bukan, ini kan pedang!" protes sang anak.
Inilah masalahnya, hanya yang membuat tahu apa tujuan dari buatannya. Dan seperti halnya tiap-tiap bahan jadi bentuk yang berbeda-beda di tangan anak-anak, Allah telah menciptakan kita masing-masing dengan tujuan spesial dan unik. "Masing-masing kita ini ‘costum made'," kata Rick Warren.
Alkitab menuliskan dengan indah, "Engkau melihat aku sebelum aku dilahirkan dan telah menjadwalkan hari-hari hidupku sebelum aku mulai bernafas. Setiap hari-hariku sudah tercatat dalam bukuMu!" (terj. Bebas Mzm 138:16). Dia telah menetapkan sebuah destiny untuk masing-masing kita, dan tujuan hidup kita adalah untuk memenuhi destiny tersebut. Bagaimana kita tahu destiny apa yang harus kita penuhi? Allah akan menuntun kita! Mungkin tidak selalu dalam bentuk ramalan masa depan seperti "Tahun depan kamu akan jadi manajer", atau "Kamu akan jadi insinyur". Tapi, asal kita sungguh-sungguh menyerahkan hidup kita bagi tujuan-Nya, adakan mimpi-Nya, Allah akan menuntun kita untuk memenuhi destiny-Nya.
Tuhan menenun Anda dengan satu tujuan, menjadi pribadi yang berharga, unik, dan spesial.
Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.
Satu kali dalam kelas sekolah Minggu, sang guru menyuruh anak-anak untuk membuat bentuk apa saja sekehendak mereka dengan bahan yang diberikan. Setelah selesai, sang guru berusaha menebak bentuk apa yang mereka buat.
"Joel, bikin tongkat ya?" tebak sang guru.
"Lho bukan, ini kan pedang!" protes sang anak.
Inilah masalahnya, hanya yang membuat tahu apa tujuan dari buatannya. Dan seperti halnya tiap-tiap bahan jadi bentuk yang berbeda-beda di tangan anak-anak, Allah telah menciptakan kita masing-masing dengan tujuan spesial dan unik. "Masing-masing kita ini ‘costum made'," kata Rick Warren.
Alkitab menuliskan dengan indah, "Engkau melihat aku sebelum aku dilahirkan dan telah menjadwalkan hari-hari hidupku sebelum aku mulai bernafas. Setiap hari-hariku sudah tercatat dalam bukuMu!" (terj. Bebas Mzm 138:16). Dia telah menetapkan sebuah destiny untuk masing-masing kita, dan tujuan hidup kita adalah untuk memenuhi destiny tersebut. Bagaimana kita tahu destiny apa yang harus kita penuhi? Allah akan menuntun kita! Mungkin tidak selalu dalam bentuk ramalan masa depan seperti "Tahun depan kamu akan jadi manajer", atau "Kamu akan jadi insinyur". Tapi, asal kita sungguh-sungguh menyerahkan hidup kita bagi tujuan-Nya, adakan mimpi-Nya, Allah akan menuntun kita untuk memenuhi destiny-Nya.
Tuhan menenun Anda dengan satu tujuan, menjadi pribadi yang berharga, unik, dan spesial.
Gbu all...
Minggu, 03 November 2019
Berhenti Sejenak
Kejadian 2:2 (NIV)
Pada hari ketujuh Allah telah menyelesaikan pekerjaannya; dan pada hari ketujuh Ia berhenti dari segala pekerjaan-Nya.
Dalam renungan hari ini, Allah memberikan teladan bahwa Ia menjadikan hari ketujuh hari di mana Ia berhenti dari segala pekerjaannya. Dan Ia juga mengingatkan kita untuk tidak melalaikan hari sabat untuk kita dapat beristirahat.
Bagi kaum profesi, seringkali pekerjaan kita menuntut kita untuk dapat terus beraktivitas dalam jam kerja yang sangat padat dan panjang. Namun jika kita tidak berhati-hati, kita dapat terjerumus dalam pola hidup yang merusak. Tuhan mendesain kita untuk bertumbuh dan berkembang. Namun Ia juga telah menetapkan bahwa kita memerlukan pemulihan dan masa untuk beristirahat.
Ambillah contoh praktis, mata. Jika kita bekerja di depan komputer dengan jangka waktu lama dan berkonsentrasi penuh pada apa yang sedang kita kerjakan, maka lambat laun otot-otot mata kita akan makin lemah dan dalam jangka panjang akan menimbulkan gangguan mata permanent yang sulit dipulihkan. Apa yang seringkali kita lupakan adalah mata perlu untuk berkedip secara berkala. Demikian juga roh dan jiwa kita.
Ambillah waktu jeda di sela-sela kesibukan kita untuk menaikkan doa atau pujian singkat ke hadapan Allah. Ambillah waktu untuk menyapa atau bergurau dengan rekan kerja kita. Ambillah waktu untuk menggeliat dan menguap. Ambil waktu untuk mengalihkan mata dari komputer. Dengan demikian kita telah memelihara kesehatan dan kekuatan hidup kita baik jasmani dan rohani.
Di sela-sela kesibukan Anda, cobalah mengijinkan diri Anda untuk beristirahat sejenak.
Pada hari ketujuh Allah telah menyelesaikan pekerjaannya; dan pada hari ketujuh Ia berhenti dari segala pekerjaan-Nya.
Dalam renungan hari ini, Allah memberikan teladan bahwa Ia menjadikan hari ketujuh hari di mana Ia berhenti dari segala pekerjaannya. Dan Ia juga mengingatkan kita untuk tidak melalaikan hari sabat untuk kita dapat beristirahat.
Bagi kaum profesi, seringkali pekerjaan kita menuntut kita untuk dapat terus beraktivitas dalam jam kerja yang sangat padat dan panjang. Namun jika kita tidak berhati-hati, kita dapat terjerumus dalam pola hidup yang merusak. Tuhan mendesain kita untuk bertumbuh dan berkembang. Namun Ia juga telah menetapkan bahwa kita memerlukan pemulihan dan masa untuk beristirahat.
Ambillah contoh praktis, mata. Jika kita bekerja di depan komputer dengan jangka waktu lama dan berkonsentrasi penuh pada apa yang sedang kita kerjakan, maka lambat laun otot-otot mata kita akan makin lemah dan dalam jangka panjang akan menimbulkan gangguan mata permanent yang sulit dipulihkan. Apa yang seringkali kita lupakan adalah mata perlu untuk berkedip secara berkala. Demikian juga roh dan jiwa kita.
Ambillah waktu jeda di sela-sela kesibukan kita untuk menaikkan doa atau pujian singkat ke hadapan Allah. Ambillah waktu untuk menyapa atau bergurau dengan rekan kerja kita. Ambillah waktu untuk menggeliat dan menguap. Ambil waktu untuk mengalihkan mata dari komputer. Dengan demikian kita telah memelihara kesehatan dan kekuatan hidup kita baik jasmani dan rohani.
Di sela-sela kesibukan Anda, cobalah mengijinkan diri Anda untuk beristirahat sejenak.
Gbu all...
Sabtu, 02 November 2019
Menjaga Hati
Amsal 4:23
Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancarlah kehidupan.
Perjalanan hidup kita dipenuhi dengan pergumulan hati. Dari hati kita itulah keputusan-keputusan diambil. Sesungguhnya mengikuti Tuhan tidak berhenti pada momen pertama di mana kita mengambil keputusan untuk menyerahkan hidup kita pada-Nya. Entah dulu keputusan itu diambil dengan linangan air mata, dengan emosi bergolak, atau dengan kepala dingin dan tenang - sama saja - semua harus menghadapi kenyataan. Bahwa perjalanan kita semua kemudian akan dipenuhi dengan tantangan sepanjang jalan untuk menjaga hati.
Salah seorang nabi yang penuh dengan pergumulan hati adalah Yeremia. Isi bukunya benar-benar ‘melelahkan'. Lelah Yeremia, menelan segala amarah Tuhan untuk disampaikan kepada bangsa Israel yang telah meninggalkan-Nya. Sampai-sampai Yeremia menulis, "Betapa liciknya hati, lebih licik dari segala sesuatu..." untuk menggambarkan kekejian hati manusia yang melawan Allah dengan sengaja.
Menjaga hati, itulah tantangan kita senantiasa, sepanjang jalan dalam segala keadaan. Entah kita merasa sudah dewasa, merasa sedang kuat atau apapun. Apakah hati kita dapat merasakan pergumulan hati Allah seperti Yeremia merasakan hati-Nya? Atau sudah mengeras seperti bangsa Israel yang tanpa malu berzinah rohani dengan tidak memperdulikan sakit hati Allah? Biarlah hati kita senantiasa melekat pada hati Allah, mendengar dan merasakan apa yang Ia gumulkan.
Menjaga hati merupakan tantangan Anda setiap waktu. Berjaga jagalah senantiasa!
Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancarlah kehidupan.
Perjalanan hidup kita dipenuhi dengan pergumulan hati. Dari hati kita itulah keputusan-keputusan diambil. Sesungguhnya mengikuti Tuhan tidak berhenti pada momen pertama di mana kita mengambil keputusan untuk menyerahkan hidup kita pada-Nya. Entah dulu keputusan itu diambil dengan linangan air mata, dengan emosi bergolak, atau dengan kepala dingin dan tenang - sama saja - semua harus menghadapi kenyataan. Bahwa perjalanan kita semua kemudian akan dipenuhi dengan tantangan sepanjang jalan untuk menjaga hati.
Salah seorang nabi yang penuh dengan pergumulan hati adalah Yeremia. Isi bukunya benar-benar ‘melelahkan'. Lelah Yeremia, menelan segala amarah Tuhan untuk disampaikan kepada bangsa Israel yang telah meninggalkan-Nya. Sampai-sampai Yeremia menulis, "Betapa liciknya hati, lebih licik dari segala sesuatu..." untuk menggambarkan kekejian hati manusia yang melawan Allah dengan sengaja.
Menjaga hati, itulah tantangan kita senantiasa, sepanjang jalan dalam segala keadaan. Entah kita merasa sudah dewasa, merasa sedang kuat atau apapun. Apakah hati kita dapat merasakan pergumulan hati Allah seperti Yeremia merasakan hati-Nya? Atau sudah mengeras seperti bangsa Israel yang tanpa malu berzinah rohani dengan tidak memperdulikan sakit hati Allah? Biarlah hati kita senantiasa melekat pada hati Allah, mendengar dan merasakan apa yang Ia gumulkan.
Menjaga hati merupakan tantangan Anda setiap waktu. Berjaga jagalah senantiasa!
Gbu all...
Jumat, 01 November 2019
No Compromise
Galatia 5:13
Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.
Bulan Juni lalu, di keluarga besar saya sedang heboh-hebohnya pemeriksaan kesehatan. Awalnya karena salah satu anggota keluarga ternyata divonis hampir terkena jantung koroner sehingga seluruh keluarga dimaklumkan untuk periksa darah. Dan hasilnya sungguh mengagumkan, hampir semua orang memiliki penyakit sama yaitu kolesterol tinggi dan asam urat.
Sejak hari itu, dimulailah hari-hari diet. Banyak sekali makanan yang diharamkan di rumah, dibuat jadwal berolahraga dengan bantuan treadmill dan terapi air putih. Masalahnya saya dan suami sering sekali melanggar diet itu karena kami lebih sering makan di luar ketimbang di rumah karena harus pergi ke kantor, sehingga diet kamipun berantakan. Jika kami memakan makanan haram, sering sekali kami berkata ‘sekali-kali tidak apa-apalah'. Dan ketika merenung justru lebih sering kami makan makanan haram ketimbang makanan sehat.
Menjalani kehidupan sehat dan berdiet boleh saja berantakan. Tapi, tidak boleh demikian dengan kehidupan rohani. Tidak boleh ada kompromi dalam kehidupan rohani kita karena Tuhan sama sekali tidak menyukai dosa. Kita semua tahu bahwa tidak mudah menjaga roh kita supaya tetap menyala-nyala. Tapi kita harus berjuang dengan keras menjaga hidup tetap kudus dan tidak bercacat cela di hadapan-Nya. Syukurlah kita punya Roh Kudus yang akan selalu mendampingi dan menolong kita.
Manakah yang lebih sering Anda lakukan, setia kepada-Nya atau berkompromi dengan dosa?
Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.
Bulan Juni lalu, di keluarga besar saya sedang heboh-hebohnya pemeriksaan kesehatan. Awalnya karena salah satu anggota keluarga ternyata divonis hampir terkena jantung koroner sehingga seluruh keluarga dimaklumkan untuk periksa darah. Dan hasilnya sungguh mengagumkan, hampir semua orang memiliki penyakit sama yaitu kolesterol tinggi dan asam urat.
Sejak hari itu, dimulailah hari-hari diet. Banyak sekali makanan yang diharamkan di rumah, dibuat jadwal berolahraga dengan bantuan treadmill dan terapi air putih. Masalahnya saya dan suami sering sekali melanggar diet itu karena kami lebih sering makan di luar ketimbang di rumah karena harus pergi ke kantor, sehingga diet kamipun berantakan. Jika kami memakan makanan haram, sering sekali kami berkata ‘sekali-kali tidak apa-apalah'. Dan ketika merenung justru lebih sering kami makan makanan haram ketimbang makanan sehat.
Menjalani kehidupan sehat dan berdiet boleh saja berantakan. Tapi, tidak boleh demikian dengan kehidupan rohani. Tidak boleh ada kompromi dalam kehidupan rohani kita karena Tuhan sama sekali tidak menyukai dosa. Kita semua tahu bahwa tidak mudah menjaga roh kita supaya tetap menyala-nyala. Tapi kita harus berjuang dengan keras menjaga hidup tetap kudus dan tidak bercacat cela di hadapan-Nya. Syukurlah kita punya Roh Kudus yang akan selalu mendampingi dan menolong kita.
Manakah yang lebih sering Anda lakukan, setia kepada-Nya atau berkompromi dengan dosa?
Gbu all...
Langganan:
Postingan (Atom)