Senin, 10 Juni 2019

Kisah : Michelle Price

Michelle Price adalah gadis kecil periang yang senang memanjat pohon, menunggang kuda, bermain ski, bercerita tentang banyak kisah, dan menyanyi. Dengan keluarga Kristen yang mengasihi dia, hidup Michelle seolah tak memiliki sedikit beban pun sampai ia berumur 8 tahun, ketika kaki kanannya mulai terasa sakit dan bengkak.

Setelah beberapa dokter melakukan pemeriksaan, mereka mengatakan kepada orang tua Michelle bahwa Michelle menderita salah satu jenis penyakit kanker tulang yang mematikan. Dokter itu berkata bahwa kesempatan untuk hidup kurang dari 4%, dan sebagian besar kakinya harus diamputasi.

Orang tua Michelle sangat ketakutan tentang bagaimana mereka harus menceritakan hal tersebut kepadanya. Ketika mereka akhirnya menceritakan kepada Michelle, maka reaksi pertama dari Michelle: "Oh Papa, saya tidak akan dapat berdansa lagi jika saya tidak memunyai kaki! Saya tidak mau menjadi seorang yang cacat!" Dia menangis terisak-isak untuk beberapa menit. Tetapi ketika ia melihat wajah ibunya dipenuhi air mata, ia berhenti menangis, mengambil napas panjang, dan berkata, "Saya akan baik-baik saja, Mami. Jangan menangis." Sambil menepuk-nepuk wajah ibunya, ia melanjutkan, "Saya memang takut ketika Papa menceritakan kepada saya, tetapi Yesus membuat hati saya tenang. Saya akan baik-baik saja. Percayalah, Mam."

Michelle, dengan perlahan, bertanya kepada ayahnya mengapa Tuhan mengizinkan hal ini terjadi. Dan ketika ayahnya menjawab tidak tahu, Michelle berpikir untuk beberapa saat sebelum ia berkata, "Mungkin saya tahu jawabnya, jika para dokter itu belum memiliki obat untuk mengobati penyakit saya, mungkin mereka dapat mempelajari kaki saya dan menemukannya. Sehingga mereka dapat membantu anak-anak lain yang sakit seperti saya."

Para dokter mengamputasi kaki Michelle sampai 4 -- 5 inci di atas lutut (± 13 cm). Michelle menangis ketika pertama kali ia melihat kakinya yang terbalut. Namun kemudian, ia menceritakan kepada ibunya betapa takutnya ia pada saat berada dalam ruang operasi ... sampai ia mengingat bahwa ia tidak sendiri. Yesus berada bersamanya.

Untuk beberapa waktu lamanya, Michelle merasakan rasa sakit yang menggigit. Urat syaraf di kakinya terus-menerus mengatakan kepada otaknya bahwa sesuatu yang salah terjadi sehingga menyebabkan rasa sakit itu. Namun, 3 hari setelah operasi dilakukan, ia mengagetkan dokternya dengan melukis wajah yang tersenyum pada pembalut di kakinya yang buntung. Dokter itu mengatakan kepada orang tua Michelle bahwa biasanya dibutuhkan waktu berminggu-minggu sebelum seseorang yang diamputasi dapat menerima keadaannya.

Setelah 5 hari berlalu semenjak operasi dilakukan, para dokter mulai memberikan kemoterapi kepada Michelle ... obat yang sangat kuat yang diciptakan untuk membunuh sel-sel kanker. Dan dikarenakan kanker pada Michelle sangat mematikan, maka mereka memberikan dosis 1000 kali lebih besar dari biasanya.

Dalam waktu singkat, obat itu membuat semua rambut Michelle rontok. Setiap pengobatan membuatnya merasa amat sakit. Ia muntah dan menggigil. Tetapi setiap kali seseorang datang menjenguknya dan bertanya bagaimana rasanya, ia menjawab, "Doing Ok!", sehingga ia tidak membuat orang lain merasa tidak enak.

Setelah 4 minggu berada di rumah sakit, ia diizinkan untuk pulang beberapa hari. Ketika ia berjalan-jalan dengan ayahnya, ia menyadari para tetangga merasa tidak nyaman berada di sisinya, karena kaki dan kepalanya yang gundul. Untuk membuat mereka merasa lebih baik, ia justru mengunjungi rumah para tetangga dan menceritakan kepada mereka tentang kanker. Bahkan, Michelle meminta mereka untuk tidak ragu-ragu bertanya.

Michelle menjalani kemoterapi selama 18 bulan dan menunjukkan sikap tegar yang amat besar pada saat melalui semua ketidaknyamanan itu. Ketika ia merasa lebih baik, ia mengunjungi anak-anak lain di rumah sakit yang juga menderita kanker dan berusaha membuat mereka gembira. Dan setelah pemeriksaan menunjukkan bahwa kankernya telah sembuh, hati Michelle dipenuhi rasa ucapan syukur.

Dengan berjalannya waktu, ia belajar bermain ski dengan satu kaki dan menjalankan "skate board" serta bermain "soccer" dengan menggunakan kruk (penyangga kaki). Setelah ia berhasil mendapatkan medali pada sebuah kontes ski nasional bagi orang-orang cacat, Wayne Newton memberikan penghargaan olahraga bagi orang-orang cacat pada TV nasional karena keberaniannya.

Ketika Newton melihat bagaimana ia menghabiskan waktunya berusaha membuat orang lain bahagia, ia menjadi sangat kagum kepada Michelle dan memberikan kejutan hadiah istimewa pada hari ulang tahunnya ..., seekor kuda!

Pada suatu hari, Michelle berkata kepada ibunya bahwa kadang-kadang ia merasa sedih karena diperlakukan berbeda pada waktu berolahraga, dan ia juga sering merenung apakah ada anak laki-laki yang akan menyukainya karena ia hanya memiliki satu kaki. Kemudian ia menambahkan, "Saya merasa bersalah jika merasa susah. Tuhan akan berpikir saya tidak cukup berterima kasih atas apa yang telah Dia lakukan kepada saya. Saya berpikir, saya melihat kepada kesusahan lebih banyak dan tidak cukup melihat kepada kebaikan."

Ketika Michelle beranjak dewasa, ia menjadi seorang pemain ski cacat termuda di seluruh dunia, seorang model, pembicara, dan seorang penunggang kuda nomor satu bagi orang-orang cacat. Ia melanjutkan kuliah dan kemudian bekerja di sebuah pusat pelayanan orang-orang yang tidak memiliki tangan atau kaki. Tahun 1993, ia menerima penghargaan atas keberaniannya oleh American Cancer Society.

Saat ini Michelle adalah seorang istri dan ibu muda. Ia bermimpi untuk dapat memiliki sebuah perkemahan bagi anak-anak cacat sehingga mereka dapat memiliki sikap positif terhadap keberadaan mereka.

Sumber asli: Courageous Christians by Joyce Vollmer Brown
 
Gbu all...

Minggu, 09 Juni 2019

SEUMUR HIDUP TAPI SEMENTARA

Kita tak akan menjumpai penderitaan disurga melainkan sukacita yang kekal

(silahkan baca Alkitab) I - Korintus 15:42-43

Ketika Paul Schneider berusia dua tahun, seorang Dokter Specialist berkata bahwa Ia tidak akan dapat berjalan atau berbicara dengan jelas, akibat kelainan otak saat lahir.

(Orangtuanya menyerahkan kedalam tanganNYA)

Paul membuktikan bahwa ahli itu salah. Ia tidak hanya belajar berjalan, tetapi juga berhasil meraih gelar Sarjana dan berbicara didepan umum lebih dari 300 kali.

Didalam hatinya yang paling dalam terdapat Kasih Kristus , pribadi yang menyelamatkannya dari dosa-dosanya dan diberi keberanian untuk tabah menghadapi segala kesulitan yang menghadang. Dan pengharapan didalam Kristuslah yang mengilhami kalimat yang sering ia gunakan untuk melukiskan kelumpuan otaknya: “SEUMUR HIDUP TETAPI SEMENTARA”.-

Pandangan Paul Schneider ini didasarkan pada I Korintus 15. Karena Yesus mengalahkan dosa dan maut , serta bangkit dari kematian, Dia menjanjikan suatu “tubuh rohani” yang baru bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Tubuh itu akan bebas dari segala kecemaran karena keberadaan kita saat ini. Tubuh itu merupakan tubuh yang telah diubahkan, dan memiliki kemampuan melampaui segala sesuatu yang kita ketahui (Filipi 3:21)

Pada tahun 1995 Paul Schneider dipanggil oleh Kristus.

Akhirnya ia bebas dari kelumpuan otak. Semua orang Kristen memiliki janji untuk menerima tubuh yang baru pada saat kebangkitan. Kita mungkin memiliki keterbatasan fisik, mental, emosi, atau ketiga tiganya seumur hidup, tetapi semuanya itu hanyalah sementara.- (DJD)

Bila kita mengikutiNya, mau hidup dalam FirmanNya, setiap permohonan kita akan dikabulkan walaupun tidak sesuai kehendak kita tapi kebutuhan kita, dengan kata lain kita tidak dapat yang kita inginkan tetapi yang kita butuhkan pasti terpenuhi walaupun itu semua harus melalui suatu proses. (mungkin kita lupa bahwa DIA menciptakan manusia manusia di Bumi ini melalui suatu proses dan waktu untuk itu kesabaran diperlukan dalam kehidupan kita)

Seorang wanita cantik tidak dapat berjalan karena sejak lahir kakinya lumpuh dan mengecil, DIA menjamahnya sehingga dapat berjalan seperti normal tapi kakinya tetap kecil. Pasti semua orang dapat melihat kemuliaanNYA melalui kakinya dan mungkin sekalian menjaukan wanita tadi dari dosa dunia yang baru.

Orang dapat melihat kemuliaanNYA pada diri pribadi Paul Schneider, padahal banyak manusia yang lahir dengan Otak dan Fisik yang Prima sebagai berkat yang DIA berikan tapi sayang karena terlalu jauh dari tanganNya sehingga setelah dewasa otaknya Rusak dan Fisiknya hancur sebelum lanjut usia.

Marilah kita bertobat, memohon pengasihanNYa agar supaya walaupun otak dan fisik kita rusak,tapi jiwa kita masih diselamatkanNya.

Waktu untuk hidup sangat singkat dibandingkan dengan waktu untuk orang yang telah mati. Mari kita selamatkan jiwa kita masing masing karena kehidupan sesudah dalam kematian sangat panjang waktunya dan agar supaya bahagia kelak, mulai sekarang carilah tempat duduk di sisiNYA. Amin
 
Gbu all...

Sabtu, 08 Juni 2019

Akses yang Sama

Ibrani 4:16
“Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya”

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 2; Yohanes 12; 1 Tawarikh 16-17

Suatu kali seorang pendeta yang sedang ikut dalam sebuah penerbangan bertanya kepada pilot kapal yang tak lain merupakan sahabatnya sejak kecil, “pesawat kamu kan ini berukuran kecil, apakah kamu pernah mempunyai masalah ketika mengudarakan dan mendaratkan pesawat kecil kamu di bandara yang didominasi pesawat berukuran besar?” Dengan santai, pilot ini menjawab, “Pesawat saya mungkin kecil, tetapi saya mempunyai hak, kesempatan, dan akses yang sama di bandara itu dengan orang lain bahkan sama dengan pesawat jumbo jet!”

Begitu halnya dengan doa, seperti orang percaya yang menghampiri takhta kasih karunia. Tidak peduli siapa kita, atau betapa kecilnya kita dibandingkan orang lain, atau betapa kecilnya kita dibandingkan orang lain, atau betapa rendahnya lingkungan kehidupan kita, kita tidak mengantre di belakang orang lain. Tak ada yang mendapat perlakuan utama.

Di dunia yang menawarkan perlakuan istimewa kepada orang kaya, orang terkenal, dan orang yang berpengaruh, sungguh kita disemangati karena mengetahui bahwa setiap anak Allah mempunyai jalan masuk yang sama menuju Bapa di surga. Pemazmur berkata, “TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan” (Mazmur 145:18).

Dengan jaminan ini, kita semua dapat “dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia” dalam doa, karena mengetahui bahwa Allah yang penuh kasih tak akan pernah membuang kita.

Doa adalah suatu jalur terbuka menuju surga.

Sumber: Kingdom Magazine Februari 2010
 
Gbu all....

Jumat, 07 Juni 2019

Kesempatan Menjalani Hidup

I Tesalonika 5:18
“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 1; Yohanes 11; 1 Tawarikh 13-15

Dunia ini dipenuhi oleh orang-orang yang selalu mengeluh setiap harinya. Ada saja hal-hal yang membuat mulut mereka mengucapkan kata-kata yang sia-sia setiap harinya. Pekerjaan yang berat, keluarga yang terlalu banyak menuntut, sahabat-sahabat yang kurang solider, anak-anak yang sulit diajar merupakan beberapa contoh dari banyak problema yang dihadapi manusia.

Orang-orang yang mengaku dirinya kristen pun tak terlepas dari sikap suka mengeluh. Kata-kata yang tertulis di dalam Alkitab seringkali dipakai ketika berdoa untuk melegalkan tindakan bersungut-sungut yang kita lakukan. Namun, kabar baiknya hati Tuhan tidak pernah tersentuh dengan perkataan-perkataan kita seperti itu. Hati-Nya justru tergerak ketika melihat anak-anak-Nya hidup dengan ucapan syukur.

Tuhan bukanlah tidak mengetahui keadaan kita seperti apa sekarang ini atau masalah besar apa yang sedang kita hadapi. Dia tahu semuanya. Bahkan Dia tahu seberapa besar kekuatan kita ketika rintangan datang menghadang.

Tuhan memang Mahabesar dan Mahadahsyat, tetapi Dia tidak mau umat-Nya menjadi umat yang bermental tempe yang sebentar-bentar mengeluh, sebentar-sebentar bersedih dan akhirnya lupa untuk mengucap syukur. Dia ingin kita menjadi orang-orang yang kuat di dalam-Nya yang tidak gampang bersungut-sungut ketika ada masalah dan selalu menghargai setiap pemberian dari-Nya dengan hati yang tulus dan ucapan terima kasih.

Kehidupan ini suatu saat akan berakhir. Ketika itu tiba maka tidak ada lagi waktu untuk menyesali diri dan berangan-angan untuk kembali ke masa lalu. Selagi masa ada kesempatan, mari kita menjalani hidup dengan ucapan syukur kepada Tuhan dan mengerjakan apa yang menjadi bagian kita di dunia ini dengan sebaik mungkin.

Orang yang mengucap syukur adalah orang yang dapat menikmati setiap pemberian Tuhan dalam hidupnya. 


Gbu all...

Kamis, 06 Juni 2019

Jalan yang Bergelombang

Filipi 1:29
“Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga menderita untuk Dia.”

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 150; Yohanes 10; 1 Tawarikh 11-12

Ketika orang-orang mengatakan kepada saya bahwa hidup itu susah, saya selalu menjawab demikian, “Tentu saja.” Saya rasa jawaban tersebut lebih memuaskan daripada jawaban lain yang dapat saya utarakan. Penulis Charles Williams berkata, “Dunia ini memang menyengsarakan dalam segala hal. Akan tetapi sungguh tak tertahankan apabila seseorang mengatakan bahwa kita diciptakan untuk menyukai hal tersebut.”

Jalan yang ditunjukkan kepada kita, kerap kali, tampaknya menjauhkan kita dari apa yang dianggap baik, sehingga kita percaya bahwa kita salah jalan dan tersesat. Hal itu terjadi karena banyak di antara kita telah diajar untuk memercayai bahwa jika kita berada di jalur yang benar, maka kebaikan Allah itu sama artinya dengan hidup yang tanpa masalah.

Namun, itu merupakan angan-angan yang sangat berbeda dengan pandangan alkitab. Kasih Allah sering memimpin kita melalui jalan yang menjauhkan kita dari kenyamanan duniawi. Paulus berkata, “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” (Filipi 1:29). Apabila kita telah sampai di ujung lembah kekelaman, kita akan mengerti bahwa setiap keadaan diizinkan terjadi demi kebaikan kita.

“Tidak ada jalan yang seaman dan sepasti jalan yang telah kita lewati,” kata seorang pengajar Alkitab, F.B Meyer. “Jika saja kita dapat melihat jalan tersebut sebagaimana Allah selalu melihatnya, maka kita pun pasti akan memilih jalan yang dipilih Allah bagi kita.”

Tidak ada pencobaan yang dapat membuat kita putus asa jika kita memahami alasan Allah mengizinkannya terjadi.
Gbu all...