Rabu, 05 Juni 2019

Semangat Keberhasilan

Amsal 21:25
“Si pemalas dibunuh oleh keinginannya, karena tangannya enggan bekerja.”

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 149; Yohanes 9; 1 Raja-Raja 1-2

Jika Anda termasuk orang yang malas dan enggan menghadapi tantangan, selayaknya malu kepada kakek ini. Min Bahadur Sherchan (76), mencapai puncak Gunung Everest di ketinggian 8.850 meter di atas permukaan laut, sekaligus menjadi pria tertua yang mampu melakukannya. Tak tanggung-tanggung, Sherchan mengalahkan kakek asal Jepang yang sebelumnya memegang rekor, yaitu Katsusuke Yanagisawa, yang melakukan itu pada usia 71 tahun.

Untuk meraih keberhasilan, setiap orang harus memaksimalkan setiap kemampuan yang dimilikinya dengan etos kerja yang tinggi. Namun adalah suatu kesia-siaan bila kemampuan yang baik tak didukung etos kerja yang baik pula. Karena tuntutan semakin lama semakin tinggi, maka kita pun juga dituntut untuk meningkatkan kompetensi kita, dari melakukan hal-hal biasa, kini kita harus mampu melakukan hal-hal yang lebih dari itu. Ketika kita tetap ingin melakukan sesuatu dengan biasa-biasa saja, ada kemungkinkan untuk tertinggal dalam usaha dan pekerjaan kita.

Melakukan sesuatu dengan biasa saja tidak jauh berbeda dengan pemalas, yang seringkali mengharapkan sesuatu yang besar tanpa mau berusaha keras. Orang-orang seperti inilah yang akan dibunuh oleh keinginannya sendiri. Ingin punya penghasilan banyak, usahanya menjadi besar, dipromosikan dalam jabatan yang lebih tinggi, dan lain sebagainya tapi tidak mau melakukan hal yang seimbang dengan apa yang diharapkan. Ketika seseorang menginginkan hasil yang luar biasa, maka orang itu harus melakukan hal yang luar biasa pula.

Hari ini kita diingatkan kembali bahwa kita tidak boleh malas. Dengan kerja keras dan semangat pantang menyerah, maka keberhasilan itu pasti akan hadir dalam kehidupan kita di segala bidang.

Untuk mendapatkan hasil yang terbaik, Anda harus melakukannya dengan cara yang terbaik pula. 


Gbu all...

Selasa, 04 Juni 2019

Menemukan Kepuasan

Yesaya 55:2
“Kamu akan menikmati sajian yang paling lezat.”

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 148; Yohanes 8; 2 Samuel 23-24

Ketika iblis berusaha menjebak Yesus di awal pelayanan-Nya, ia memakai pencobaan yang sama dengan yang dipakainya hari ini. Salah satunya adalah dengan benda.

Yesus sudah berpuasa selama empat puluh hari, dan iblis berusaha mengambil keuntungan dari rasa lapar-Nya dengan mendesak-Nya untuk menggunakan kuasa adikodrati-Nya yaitu mengubah batu menjadi roti. Tetapi Yesus menjawab, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari firman Allah” (Matius 4:4). Bukan dari mulut setan, tapi dari mulut Allah!

Roti memang penting, tetapi tidak sepenting yang disarankan iblis. Kesenangan dan rekreasi memang penting, tetapi tidak boleh menduduki tempat pertama. Uang memang penting, tetapi uang harus melayani kita; bukan kita yang melayani uang.

Yesaya berkata, “Dengarkanlah Aku...dan kamu akan menikmati sajian yang paling penting” (Yesaya 55:2). Ya, menikmati sajian yang paling lezat - kelimpahan yang Allah berikan kepada Anda, baik jasmani maupun rohani. Khususnya bersuka dalam kelimpahan sukacita yang berasal dari hadirat-Nya. Iblis akan selalu menawarkan pengganti kepada Anda. Oleh karenanya, tetaplah arahkan hati dan pikiran Anda kepada Allah. Ketika Iblis mulai menggoda Anda, tolaklah segera !

Hanya di dalam Tuhan Yesus, Anda dapat merasakan kepuasan yang sejati.

Sumber: Hope for Each Day; Billy Graham; Penerbit Metanoia
 
GBU ALL.....

Senin, 03 Juni 2019

Bersahabat Karena Status

Yakobus 4:10
Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 147; Yohanes 7; 2 Samuel 21-22

Di sebuah perusahaan advertising, ada seorang gadis bernama Mira. Dia bertugas mendistribusikan surat untuk para staf di perusahaan itu. Pekerjaannya terlihat sangat sederhana. Apa lagi jika dibandingkan dengan copywriter, art design, marketing yang dianggap penting karena memberi kontribusi lebih nyata pada perusahaan. Mungkin karena itu, keberadaannya sering diabaikan. Tak banyak yang tahu namanya. Mereka hanya mengenalnya sebagai si gadis pembawa dokumen. Hingga suatu kali, Mira tidak masuk selama beberapa hari. Tak urung, kantor jadi kacau karena surat tidak dapat terdistribusikan dengan baik. Dalam keadaan seperti itu, barulah orang merasakan betapa pentingnya kehadiran seorang Mira.

Ya, tanpa disadari, kita seringkali kurang memperhatikan rekan kerja yang bagiannya lebih rendah. Mungkin, karena kita menganggap bergaul dengan mereka tidak banyak membawa keuntungan. Manusia sering kali menghargai seseorang karena statusnya. Padahal status itu hanyalah buatan manusia dan tidak kekal. Sedangkan di hadapan Tuhan status kita adalah sama, yaitu anak-anak-Nya yang berhak menerima keselamtan karena cinta dan belas kasihan Allah.

Jadi, rasanya tidak layak jika kita tidak menghargai orang lain hanya karena statusnya lebih rendah dari kita. Tuhan senang dengan orang yang rendah hati. Marilah kita mengasihi dan memperhatikan sesama kita, tanpa memandang statusnya.

Memandang orang lain hanya sebatas kulit luar adalah kebodohan yang sangat memalukan.


Gbu all...

Minggu, 02 Juni 2019

Telur dan Balon

I Samuel 16:7
“Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel:”Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”"

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 146; Yohanes 6; 2 Samuel 19-20

Telur dan balon adalah dua hal yang tidak asing dalam kehidupan manusia. Dari muda sampai tua, pria atau pun wanita pasti mengenal keduanya. Namun, siapa yang mengetahui bahwa telor dan balon bisa digunakan sebagai bahan refleksi kehidupan kita sehari-hari?

Tahukah Anda bahwa telur dan balon walaupun memiliki bentuk yang sama, tetapi ada perbedaan tajam antara keduanya? Balon kelihatannya indah dan menarik, coraknya meriah dan berwarna-warni,lincah dan riang bergerak kesana-kemari. Namun, itu hanya penampilan dari luar saja, sedangkan di dalamnya kosong. Hanya angin. Berbeda dengan telur, dari luar memang tidak semenarik dan secantik balon, tetapi di dalamnya terkandung potensi kehidupan.

Perbandingan diatas mengingatkan kita bahwa ternyata penampilan yang di dalam lebih penting daripada yang diluar. Dan kebenarannya, Tuhan memang lebih tertarik pada kualitas hati dan karakter kita, daripada memperhatikan bagi luar kita. Namun, ini bukan berarti bahwa kita tidak perlu berpenampilan menarik atau asal-asalan. Apalagi bila pekerjaan kita berhubungan dengan orang banyak. Ada banyak mata yang melihat kita. Bila kita seorang sales lalu mengenakan pakaian yang tidak disetrika, tidak harum, bisa Anda bayangkan bagaimana respon pembeli? Apakah konsumen akan respek dan tertarik untuk membeli produk atau jasa Anda? Saya rasa tidak.

Oleh karena itu, hendaklah penampilan di dalam hati kita berpadanan dengan yang di luar. Bila karakter dan sikap kita baik, bukankah akan lebih baik lagi dan sempurna, jika kita juga memiliki penampilan luar yang baik? Saya percaya apabila yang luar dan dalam sudah excellent, kita akan disukai tidak hanya oleh Allah tetapi juga manusia.

Kecantikan hati yang didukung dengan penampilan fisik yang menarik merupakan perpaduan yang sempurna dalam kehidupan Anda.

Sumber: Renungan Bulanan Profesional Desember 2009 


Gbu all...

Sabtu, 01 Juni 2019

Menata Berkat

Amsal 16:16
“Memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga dari pada mendapat perak.”

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 145; Yohanes 5; 2 Samuel 17-18

Haiti dan Republik Dominika merupakan dua negera bertetangga di sebuah pulau tropis. Meski bersebelahan, keadaan alamnya sangatlah bertolak belakang. Di Republik Domonika, hamparan hutan hijau menjanjikan alam eksotik yang menarik banyak turis dari seluruh penjuru dunia. Pemerintah Republik Dominika pun memperoleh banyak devisa sehingga kesejahteraan rakyatnya terjamin. Namun, tidak demikian di Haiti. Maraknya penebangan hutan secara liar selama bertahun-tahun telah menggersangkan alam Haiti. Hutan-hutan gundul, bencana alam selalu terjadi, dan kemiskinan merajalela.

Tuhan memberkati kita, anak-anak-Nya, dengan berlimpah. Segala segi kehidupan kita tak luput dari curahan berkat-berkat-Nya. Dengan kata lain, Tuhan tidak menginginkan kita hidup berkekurangan. Namun kenyataannya banyak orang yang seharusnya hidup dalam limpahan berkat Tuhan ternyata masih berkesusahan. Mengapa? Karena mereka diberkati tetapi tidak tahu bagaimana harus menggunakan berkat-berkat itu dengan bijaksana.

Tuhan Yesus menggambarkan ironi ini dengan perumpamaan tentang anak yang hilang. Tokoh si anak bungsu adalah gambarang orang-orang yang tidak dapat mengelola apa yang diterimanya dengan baik. Hal ini semakin dipertegas dengan apa yang terjadi dengannya setelah meninggalkan rumah bapanya. Dengan cepat ia menjadi miskin, kelaparan, dan tak berpengharapan. Akibatnya, keadaanya sekarang tidak berbeda dengan orang yang tidak pernah mengalami hidup berkelimpahan berkat.

Jika hari ini Anda berdoa kepada Tuhan, janganlah hanya meminta berkat kepada-Nya. Mintalah juga hikmat untuk mengelola berkat-berkat tersebut. Bukan hanya keuangan, tetapi pekerjaan dan rumah tangga pun harus kita kelola dengan bijaksana.

Orang yang tahu mengelola berkat sedang menjauhkan dirinya dari jerat kesusahan.

Sumber: Renungan Siang Agustus 2009
 
Gbu all....