Selasa, 05 Juni 2018

Buah Yang Indah

Yohanes 15:4
“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.”

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 130; 2 Korintus 3; 1 Samuel 26-27

“Buah” apakah yang Tuhan ingin lihat dalam kehidupan kita? Dia tidak akan tertarik pada “kegiatan-kegiatan gereja”, tetapi hanya pada buah rohani yang dihasilkan kalau kita tinggal dalam persekutuan dengan Kristus. Terlalu banyak orang Kristen yang berusaha “menghasilkan buah” dengan upaya-upaya mereka sendiri, dan bukan dengan tinggal dalam Kristus serta membiarkan kehidupan Kristus yang menghasilkan buah di dalam dirinya.

Pohon buah tidak menimbulkan suara-suara yang gaduh pada waktu ia memproduksi buahnya. Pohon itu hanya membiarkan kehidupan yang ada di dalam dirnya mengalir dengan cara yang sealami mungkin, dan buah itu adalah hasilnya. “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak bisa berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:5).

Perbedaan antara buah rohani dan “kegiatan keagamaan” manusia adalah bahwa buah itu membawa kemuliaan bagi Yesus Kristus. Kalau kita melakukan apa pun dengan kekuatan sendiri, kita mempunyai kecenderungan untuk menyombongkan pekerjaan itu. Buah rohani yang sejati sangat indah dan mengagumkan, sehingga tak seorang pun bisa mengaku atau memperoleh pujian untuk itu; kemuliaan harus ditujukan bagi Allah sendiri.

Segala sesuatu yang kita kerjakan dalam Yesus Kristus, lakukanlah semuanya itu demi nama-Nya dimuliakan dan ditinggikan di atas bumi ini.

Sumber: Sepanjang Tahun Bersama Warren W. Wiersbe; Warren W.Wiersbe; Penerbit Gospel Press 

Gbu all...

Senin, 04 Juni 2018

Menikmati Hidup

Pengkhotbah 3:13
Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.

Bacaan Alkitab setahun : Mazmur 129; 2 Korintus 2; 1 Samuel 24-25

Bila kita tidak dapat memiliki apa yang kita sukai, belajarlah untuk menyukai apa yang kita miliki. Salah satu kunci kebahagiaan adalah bila kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Ketimbang menginginkan milik orang lain, kita mengucap syukur dengan apa yang kita miliki. Ketimbang marah melihat orang lain diberkati, kita menghitung berkat yang telah kita terima dari Tuhan.

Kitab Pengkhotbah berkata bahwa kemampuan untuk menikmati apa yang kita miliki adalah karunia Tuhan. Bila kita hidup di dalam Tuhan, maka Dia akan memberikan hikmat kepada kita sehingga kita dapat melihat kehidupan ini seperti Tuhan melihatnya. Nilai-nilai Tuhan akan menjadi nilai hidup kita. Tuhan akan memberikan kepuasan dalam hidup kita, sebab Dia mau memberikan diri-Nya sendiri. Dia disalib, mati dan bangkit untuk kita.

Kehidupan yang jauh dari Tuhan adalah kehidupan yang sia-sia. Sia-sialah kita memiliki harta benda yang berkelimpahan bilamana kita tidak dapat menikmatinya. Sia-sialah kita diberi makanan yang enak, bilamana kita tidak dapat menikmatinya!

Menikmati dan mensyukuri hidup yang dianugerahkan Tuhan bagi Anda adalah kunci kebahagiaan sejati.


Gbu all...

Minggu, 03 Juni 2018

Penaklukan Diri

Kolose 3:5-6
Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah [atas orang-orang durhaka].

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 127; 1 Korintus 16; 1 Samuel 20-21

"Ibu, saya ingin ke luar kota untuk mencari uang dan akan pulang dengan uang yang banyak agar kehidupan kita jauh lebih baik," kata Norman Vincent Peale kepada ibunya. Namun, sang ibu yang bijaksana menjawab, "Norman, aku tidak membesarkanmu untuk itu. Aku tidak ingin engkau menjadikan uang sebagai tujuan utama hidupmu." Norman pun menanggapi jawaban sang ibu dan ingin menjadi gubernur Ohio.

"Norman, ambisi itu memang baik kalau Tuhan mengendalikannya dan kita mau dikendalikan-Nya," jawab sang ibu yang tidak mendukung ambisi anaknya. Wanita itu menginginkan agar Norman menjadi seorang Kristen yang bersih, jujur, terhormat dan lurus dengan cinta di dalam hati, melayani Tuhan dan anak-anak Tuhan. Akhirnya Norman menjadi seorang hamba Tuhan yang taat kepada Tuhan dan melayani Tuhan dengan setia.

Allah menghendaki kita untuk membunuh ambisi hidup kita yang jauh dari kehendak Tuhan. Mempunyai uang itu tidak salah, tetapi menjadi salah ketika kita menjadikan uang sebagai tujuan hidup kita. Bekerja keras tidak berdosa, tetapi kalau karena bekerja keras kita meninggalkan Tuhan, sia-sialah kerja keras kita. Rasul Paulus memberi nasehat "Matikan dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi!"

Uang adalah hamba yang baik tetapi sekaligus bisa menjadi tuan yang jahat. Sikap hati Anda terhadap uanglah yang akan menentukan hasil akhirnya.

Gbu all...

Sabtu, 02 Juni 2018

Konfrontasi

Amsal 15:31-32
Orang yang mengarahkan telinga kepada teguran yang membawa kepada kehidupan akan tinggal di tengah-tengah orang bijak. Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan teguran, memperoleh akal budi.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 126; 1 Korintus 15; 1 Samuel 18-19

Dalam berhubungan dengan sesama, kita sering kali tidak dapat luput dari konfrontasi. Konfrontasi atau menegur memang sulit dilakukan, sebab mengandung bahaya "kehilangan" hubungan tersebut. Oleh sebab itu, banyak orang lebih suka menghindari konfrontasi daripada melakukannya.

Bagaimana kita dapat memberikan teguran sehingga membangun dan menumbuhkan orang yang kita tegur? Kita perlu belajar untuk menyatakan perasan hati kita, bukan kemarahan kita. Teguran yang disampaikan dengan memaki-maki, menyerang dan menjatuhkan biasanya tidak akan efektif bagi kedua belah pihak. Orang yang dimaki-maki atau diserang tidak mungkin mau mendengar, apalagi berubah oleh teguran itu. Akibatnya besar kemungkinan hubungan itu menjadi terputus.

Kita perlu mendengar dari pihak orang yang kita tegur - mengapa ia melakukan tindakan yang tidak kita sukai itu. Tunjukkan bahwa kita adalah teman yang bersedia menolong. Bila orang yang kita tegur memiliki kesan bahwa kita adalah "musuh", ia tidak akan bersedia membuka dirinya.

Sebelum kita menegur seseorang, selidikilah apa tujuan kita. Apakah kita menegur untuk sekedar melampiaskan perasaan dan kemarahan kita? Atau, apakah kita menegur karena kita ingin agar orang yang kita tegur itu bertumbuh? Motivasi kita akan menentukan keefektifan teguran kita!

Menegur bukanlah hal yang gampang untuk dikerjakan tapi harus dilakukan untuk membangun orang lain dan juga diri kita sendiri.


Gbu all..

Jumat, 01 Juni 2018

Kasih Karunia Allah

2 Korintus 8:7-9
Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, -- dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami -- demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini. Aku mengatakan hal itu bukan sebagai perintah, melainkan, dengan menunjukkan usaha orang-orang lain untuk membantu, aku mau menguji keikhlasan kasih kamu. Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 125; 1 Korintus 14; 1 Samuel 16-17

Ada satu cerita tentang seorang pengemis yang bertemu dengan seorang pengacara. Ternyata pengemis itu adalah bekas teman sekolahnya. Pengacara tersebut langsung menulis cek sebesar 100 dolar dan berkata, "Ambillah cek ini, dan pakailah untuk hidupmu."

Pengemis itu terharu menerima cek dari temannya dan ia segera pergi ke bank untuk menguangkan cek itu. Tetapi, ia berhenti di depan pintu bank ketika melihat orang-orang yang bekerja dan keluar masuk bank dengan berpakaian rapi dan bersih. Lalu, ia melihat bajunya yang begitu dekil dan berpikir, "Mereka tidak akan bersedia menguangkan cek ini. Mereka pasti berpikir aku telah mencuri." Lalu, ia pergi tanpa menguangkan cek tersebut.

Pada hari berikutnya, kedua orang tersebut bertemu lagi. Pengacara itu bertanya, "Apa yang kamu lakukan dengan cek yang kuberikan kepadamu? Apakah kau pakai untuk berjudi? Minum minuman keras?" "Tidak.", kata pengemis itu. Pengemis itu lalu menceritakan mengapa ia tidak menguangkan cek itu. Lalu, pengacara itu berkata, "Yang membuat cek itu berlaku bukanlah pakaianmu atau tindakanmu, melainkan tanda tanganku."

Hidup kita sebagai orang Kristen sering kali juga seperti pengemis itu. Tuhan Yesus telah menandatangani cek keselamatan dan memberikannya kepada kita semua, tetapi kita takut dan cemas untuk menggunakan cek tersebut. Akibatnya, kita terus hidup seperti pengemis di atas. Darah Yesuslah yang telah memeteraikan keselamatan kita, bukan tindakan atau penampilan kita. Tugas kita yaitu menerima, menikmati dan hidup dalam kasih karunia yang telah Tuhan berikan.

Hiduplah sebagai anak, bukan sebagai budak karena pada dasarnya kita adalah budak yang telah diangkat menjadi anak.

Gbu all...