Selasa, 10 Maret 2015

Krisis Pede

II Korintus 11:30
"Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 74; Roma 2; Bilangan 31-32

Banyak orang berpikir bahwa krisis percaya diri hanya mendera mereka yang berusia remaja dan tidak bagi mereka yang sudah berusia diatas 25 tahun. Benarkah seperti itu? Jelas, pendapat itu salah besar. Kepercayaan diri bukanlah bergantung kepada usia seseorang, tetapi bagaimana ia melihat dirinya sendiri dan lingkungan keluarga yang membentuknya.

Akibat dari ketidakpercayaan diri begitu banyak potensi, bakat, atau kemampuan yang tersia-siakan karena tidak disadari oleh pemiliknya. Ini sebetulnya persoalan klasik. Bisa ditemui di segala zaman dari generasi ke generasi.

Musa adalah salah satu tokoh besar di Alkitab yang begitu jelas mengalami krisis percaya diri. Sewaktu Allah berfirman dan memberinya tugas untuk membawa bangsa Israel keluar dari Mesir, Musa berusaha mengelak dengan alasan-alasan yang sebenarnya masuk akal. Ia berkata kepada Allah bahwa ia bukanlah seorang yang pandai berbicara sehingga ia merasa kurang pantas memimpin bangsa Israel. Namun, Allah tetap tidak bergeming. Setelah berbicara panjang lebar, akhirnya Musa pun taat pada panggilan-Nya. Musa mengambil keputusan ‘menutup matanya' pada kekurangan di dalam dirinya, ia mempercayai Allah dan mengizinkan Allah bekerja atas hidupnya.

Sebagai manusia, kita pasti banyak kekurangan. Namun, Allah pasti menaruhkan talenta, bakat, atau kemampuan kepada masing-masing orang. Dia mempunyai satu maksud dan rencana atas setiap kelebihan yang kita miliki. Allah ingin kita mempergunakan dan memaksimalkan talenta, bakat, atau kemampuan itu untuk menggenapi rencana mulia-Nya atas hidup kita dan dunia ini.

Allah tidak ingin kita fokus pada kekurangan-kekurangan atau kelemahan kita yang pada akhirnya hanya akan membuat kita minder, merasa tidak berguna, tidak berharga dan putus asa. Ini bukanlah ciri dari anak-anak Tuhan yang dewasa. Dan tentunya Allah tidak bisa mengerjakan karya-Nya jika kita pesimis dan rendah diri. Sekarang saatnya Anda memohon kemurahan-Nya, lalu kerahkanlah seluruh kemampuan yang Anda miliki untuk Tuhan.

Sekecil apapun yang kita miliki akan menjadi besar jika diserahkan kepada Allah.


Gbu all...

Senin, 09 Maret 2015

Jangan Tergesa-gesa

Yesaya 30:15
"dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu"

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 71; Markus 15; Bilangan 25-26

Semua kegelisahan merusak kebaikan. Ketenangan mendatangkan kebaikan dan pada saat yang sama menghancurkan kejahatan. Namun, yang terjadi seringkali justru sebaliknya. Kita suka tergesa-gesa bertindak untuk menghancurkan hal-hal jahat yang terjadi di sekitar kita, padahal itu semua keliru.

Sebagai orang-orang percaya, kita seharusnya mempercayai siapakah Allah yang kita sembah. Dia bukanlah patung baal yang diam atau manusia yang terbatas kekuatannya. Dia adalah Raja di atas segala raja; Pencipta Alam Semesta; Tuhan Yang Maha Kuasa. Bahkan Dia adalah Pribadi yang sangat senang berbicara kepada umat-Nya.

Jadi, saat masalah dan rintangan datang menghadang janganlah berbuat apapun dahulu. Bertindaklah jika Allah telah memerintahkan-Nya. Tenanglah senantiasa bersama-Nya karena itu merupakan wujud dari rasa percaya. Kepercayaan yang seutuhnya dapat menenangkan jiwa Anda.

Jangan pernah takut pada kondisi atau kesulitan apapun. Hal ini akan membantu Anda untuk menumbuhkan ketenangan. Ketika dunia harus belajar bertindak cepat untuk mencapai sesuatu, maka Anda harus belajar tenang untuk mencapai sesuatu. Semua pekerjaan besar yang dilakukan untuk Allah harus diawali dengan membentuk ketenangan di dalam jiwa.

Jangan menjadi gusar bila masalah datang karena tangan Allah sedang bekerja dan memberi Anda jalan keluar.


Gbu all...

Minggu, 08 Maret 2015

Memamahbiak Firman

Yohanes 17:17
Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 70; Markus 14; Bilangan 23-24

Memamahbiak Firman Tuhan adalah salah satu kunci sukses kehidupan dan pelayanan kita (lihat Yoh. 1:8, Maz. 1). Merenungkan Firman juga merupakan langkah praktis untuk memperbarui pikiran. Konsep sesungguhnya di balik kata ‘meditasi' (perenungan) adalah seekor lembu yang sedang memamahbiak. Sama seperti lembu mengunyah makanannya berulang-ulang, kita seharusnya juga mengingat-ingat selalu Firman yang telah kita hapalkan.

Suatu hari, sebuah keluarga yang tinggal di tepi gurun keheranan melihat biji-biji bertunas di pasir gurun yang berkadar garam tinggi di belakang rumah mereka. Mereka sendiri sudah sering mencoba menanam tumbuhan, tapi tanpa hasil. Rahasia itu terpecahkan ketika mereka menemukan setiap hari sang ibu membuang air cucian keluar melalui pintu belakang. Setelah berbulan-bulan, garam yang menghambat pertumbuhan itu pun terkikis.

Saat kita memenuhi pikiran dengan Firman Allah, Firman itu akan mencuci bersih pikiran-pikiran yang bertentangan dengan Alkitab dan menyusun kembali ide-ide lain yang berpusat pada prinsip Allah. Dengan merenungkan Firman Tuhan, kita juga akan mulai melihat prinsip-prinsip penerapannya untuk kehidupan dan pelayanan kita. Bila Anda telah menjalankan kebiasaan ini, Anda perlu terus mengembangkannya. Bila belum, mengapa tidak memulainya hari ini juga?

Seperti makanan yang dicerna dengan baik akan terserap dengan baik oleh tubuh, begitu pun Firman Tuhan.


Gbu all...

Sabtu, 07 Maret 2015

Kekuatan Untuk Menghadapi Masalah

Filipi 4:13
"Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 69; Markus 13; Bilangan 21-22

Seorang teman bercerita kepada saya tentang seorang yang belum pernah yang datang kepadanya ketika sedang menghadapi masalah. Karena tahu bahwa teman saya Kristen, orang itu bertanya, "Jika saya dilahirkan kembali, apakah semua masalahnya akan hilang?"

"Tidak," kata teman saya, "tetapi Anda akan mempunyai kekuatan untuk menghadapinya."

Allah akan memberi kita hikmat dan keberanian. Dia akan mengelilingi kita dengan saudara-saudari dalam Kristus untuk membantu memikul beban kita, dan bahkan akan melengkapi kita dengan wawasan dan pertolongan praktis.

Jika Allah melenyapkan semua masalah kita dengan sekali pukul, maka kita tidak akan mempunyai kecakapan untuk bertahan, tidak siap menghadapi serangan yang tak terelakkan dari musuh jiwa kita. Tetapi di tengah-tengah masalah kehidupan, Allah menyediakan semua yang kita butuhkan supaya kita berhasil melewatinya.

Saat keadaan tidak baik-baik saja disitulah tangan Allah yang kuat terasa begitu nyata.


Gbu all...

Jumat, 06 Maret 2015

Taat = Sukses

Lukas19 : 17
"Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam perkara kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 68; Markus 12; Bilangan 19-20

Di sebuah sekolah taman kanak-kanak dilakukan penelitian yang menarik. Penelitian ini memakai siswa satu kelas sebagai sampelnya. Seorang guru di kelas itu berkata, "Anak-anak, ibu menaruh kue dan permen ini di atas meja. Ibu ada keperluan di kantor. Nanti kalau ibu kembali, ibu akan bagikan semua kue dan permen ini pada kalian."

Tanpa sepengetahuan anak-anak, para peneliti memasang monitor CCTV yang dipakai untuk melihat apa saja yang dilakukan anak itu. Begitu sang guru keluar, beberapa anak segera mengambil kue dan permen. Sebagian anak awalnya ragu, tetapi melihat sikap teman yang lain mereka pun ikutan mengambil. Hanya sedikit anak yang taat dan tetap duduk di bangkunya. Dengan cermat para peneliti mencatat perilaku setiap anak.

Tiga puluh kemudian, mereka mengadakan penelitian ulang terhadap anak-anak tersebut. Ternyata, anak-anak yang dulu taat sekarang jadi orang yang berhasil dan sukses. Sedangkan yang tidak taat menjadi orang yang gagal, baik dalam rumah tangga maupun karir yang mereka bangun.

Seringkali kita hanya mau taat jika itu menyangkut hal-hal besar. Untuk perkara yang kecil kita sering menganggap sepele sehingga menggampangkan dan berlaku seenaknya. Kita sudah menjungkirbalikkan hukum yang sebenarnya. Itulah mengapa Tuhan Yesus berkata, "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar." (ayat 10). Firman-Nya mengajarkan kita, setialah lebih dulu untuk hal-hal kecil, hal-hal yang kelihatannya sederhana, sebelum kita bisa dipercayakan untuk hal yang lebih besar.

Jadi, apapun yang Tuhan percayakan pada kita hari-hari ini, setialah mengerjakannya. Sehingga Tuhan pun bisa memakai kita sebagai ‘alat' di tangan-Nya, dan menjadi berkat bagi dunia ini.

Ketaatan tidak datang dengan sendiri dalam kehidupan manusia, perlu latihan agar ia tertanam dalam hidup kita.


Gbu all...