Senin, 05 Maret 2012

Berkat yang lebih

Berkat yang lebih PDF Print E-mail
Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita,
Efesus 3:20


permen.jpgPada malam Natal, seorang anak kecil dan ibunya pergi ke sebuah pusat pertokoan yang dipadati oleh pengunjung yang hendak berbelanja. Di pintu keluar pusat pertokoan tersebut disediakan sebuah bola kaca bening besar yang berisi berbagai macam permen yang enak. Seorang berpakaian “manusia salju” dengan ramah memberi salam setiap pengunjung yang akan pulang, dan dengan senyum hangatnya ia mendekati setiap anak mempersilahkan untuk mengambil segenggam permen langsung dari dalam bola kaca itu.

Ketika anak kecil tadi akan keluar bersama ibunya, “manusia salju” dengan sopan menawarkan anak itu untuk mengambil permen. Tetapi anak itu hanya diam. Ibunya merasa heran karena ia tahu betul anaknya sangat menyukai permen, lalu membujuk si anak untuk mengambilnya. Tapi anak kecil itu tetap diam.

Karena beberapa anak lain sudah berlarian hendak keluar dari pusat pertokoan itu, maka “manusia salju” yang baik hati itu segera meraup segenggam penuh permen dan langsung memasukkannya ke dalam kantong belanja ibu dan anak kecil tadi. Anak itu senang sekali!

Dalam perjalanan pulang ibunya bertanya mengapa ia tidak mau mengambil sendiri permen yang disediakan. Dengan polos si anak menunjukkan tangannya, “Mama, tanganku sangat kecil, sedangkan Oom tadi memiliki tangan yang begitu besar. Kalau aku sendiri yang mengambilnya tentu permen yang kudapat hanya sedikit. Tapi tadi Oom itu mengambilkannya untukku, dan itu sangat banyak! Itulah yang kutunggu-tunggu…”

Cara berpikir anak kecil yang lugu ini memberikan sebuah pelajaran penting bagi kita bahwa betapa berlimpahnya berkat-berkat Tuhan yang telah dicurahkanNya bagi kita. Jauh melebihi dari apa yang dapat kita peroleh dengan upaya kita sendiri. Ia memberi segala yang kita perlukan menurut kekayaan dan kemuliaanNya, bahkan Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal supaya kita memiliki hidup yang kekal. Haleluyah! (DA)

Doa : Bapa, aku bersyukur karena Engkau terlebih tahu apa yang kubutuhkan. Bahkan apa yang tidak bisa kuperoleh dengan upayaku sendiri, yaitu keselamatan yang telah kuterima dariMu. Amin.

Minggu, 04 Maret 2012

A VERY SIMPLE PRAYER

A VERY SIMPLE PRAYER PDF Print E-mail
Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. (1 Tesalonika 5:16-18)

doa1.jpgSeorang siswi Sekolah Alkitab Batu Angkatan LV dengan inisial, Persahabatan Ruth Ln7 bercerita dalam bulletin mingguan Pantulan Pelita: suatu malam saat menara doa, kami terdiri dari 5 orang mengawali doa dengan pujian dan penyembahan yang pasti dengan rasa hormat dan rasa syukur dan .. rasa ngantuk? Pemimpin doa, entah kenapa di tengah-tengah doanya ia berkata dengan lantang: “Tuhan, kami tak perlu menyampaikan pada-Mu; karena kami percaya engkau tahu semuanya, dalam nama Tuhan Yesus, Haleluya, Amin!”  Benar-benar, doa yang sangat sederhana lagipula singkat padat; toh Tuhan tahu semuanya..?! 
A very simple prayer berlanjut, ketika seorang adik kelas giliran sembahyang, ia berdoa demikian: kami juga berdoa buat orang tua kami, ya Tuhan; jauh dekat Tuhan pelihara mereka …  “Emang angkot, jauh dekat 2.500 rp.," celutuk rekannya tiba-tiba.  Jika Tuhan tahu semuanya, dan jauh dekat DIA memelihara kita; apakah kita memang masih perlu berdoa, memuji dan menyembah, serta mengucap syukur dan terimakasih kepada-Nya?
Ketika meneliti kata ‘visi’ dalam Kamus Besar, saya tertarik menyimak salah satu arti dari kata itu sebagai kemampuan untuk melihat pada inti persoalan; atau pandangan; juga wawasan.  Lalu .., apa kaitannya dengan kehidupan doa kita?  Dari ayat emas kita di atas, hal pertama dan utama dalam doa yang disertai pujian penyembahan, adalah pandangan/wawasan bahwa DOA melindungi kita dari merasa diri benar. 
Mengucap Syukur bukan UNTUK segala hal, tetapi DALAM segala hal. In everything give thanks! Apa bedanya ..?  Yang satu, konotasinya bisa bermakna seperti ‘3S’ (sembahyang sangat sederhana) murid-murid saya tadi; yang tahunya dan maunya semuanya beres .. tanpa memahami kenyataan di lapangan yang kerapkali berbanding terbalik dengan apa yang kita harap dan inginkan dalam doa kita!  Merasa diri benar  -seperti istri Ayub-  yang tak mampu melihat inti permasalahan yang sebenarnya, ketika tidak mampu pula menerima yang buruk yang Allah izinkan menjadi bagian dari penderitaan hidup (Ayub 2:9,l0).
Tetapi mengucap syukur dalam segala hal, ternyata dari integritas (ketekunan dalam kesalehan) Ayub yang dalam penderitaan fisik dan mental yang amat sangat, senantiasa bersukacita, berdoa tanpa berkeputusan dan mengucap syukur tanpa batas.(NVDK)
Doa: Terimakasih Tuhan, Engkau mengajariku mengucap syukur dalam segala hal agar aku tahu segalanya tetap dalam kendali-Mu. Amin.

Sabtu, 03 Maret 2012

"Jadilah Pelita."

"Jadilah Pelita."
Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita. Orang buta itu terbahak berkata: "Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok." Dengan lembut sahabatnya menjawab, "Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu." Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta. Dalam kagetnya, ia mengomel, "Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!" Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.

Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta. Kali ini si buta bertambah marah, "Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!" Pejalan itu menukas, "Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!" Si buta tertegun.... Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, "Oh, maaf, sayalah yang 'buta', saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta."

Si buta tersipu menjawab, "Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya." Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing.

Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta kita. Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, "Maaf, apakah pelita saya padam?" Penabraknya menjawab, "Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama." Senyap sejenak... secara berbarengan mereka bertanya, "Apakah Anda orang buta?" Secara serempak pun mereka menjawab, "Iya...," sembari meledak dalam tawa. Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.

Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta. Timbul pikiran dalam benak orang ini, "Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka."

Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!).

Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan "pulang", ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.

Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk "membuta" walaupun mereka bisa melihat. Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu. Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana. Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan.

Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita. Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi.

Jumat, 02 Maret 2012

"Tuhan, mengapa aku masih ada masalah."

"Tuhan, mengapa aku masih ada masalah."
Tuhan, mengapa aku masih dalam masalah ini?

Ketika penundaan terjadi dalam hidup kita, kita mulai bersikap seakan-akan Tuhan tidak pernah melakukan apapun buat kita…

Tuhan pastinya pernah menolong engkau di masa lalu bukan? Engkau bisa mengandalkan-Nya untuk melakukan hal yang sama hari ini, besok, dan hari-hari sesudahnya… Ketika engkau mulai berkata “Tuhan tidak akan menolong dalam masalahku kali ini!” Engkau mulai melupakan waktu-waktu lainnya ketika Dia menolongmu. Beberapa diantaranya engkau sendiri bahkan tidak mengetahui, tapi Dia melakukannya…

Ketika Tuhan ingin membawamu ke suatu tempat, biasanya Dia membawamu melalui jalan yang panjang, bukannya jalan pintas…

Beberapa mungkin bertanya, mengapa Tuhan membawa orang Israel melalui jalan yang panjang, yang menyebabkan penundaan terjadi untuk mereka mencapai tanah yang dijanjikan?

Penundaan dirancang oleh Tuhan dengan alasan. Tuhan menggunakan penundaan untuk mempersiapkan kita. Bangsa Israel adalah budak di mesir, mereka bukan prajurit dan mereka tidak siap untuk berperang. Tuhan tahu kalau mereka langsung maju dalam peperangan, mereka tidak akan bisa menghadapinya.

Semua impian memiliki kesulitanya masing-masing. Tuhan menggunakan penundaan untuk mempersiapkan kita menghadapi waktu-waktu sulit yang akan kita hadapi selama perjalanan. Penundaan-penundaan ini dirancang untuk menguatkan kita dan membuat kita tangguh.

Tuhan menggunakan penundaan untuk menguji kita (Ulangan 8:2). Tuhan menggunakan penundaan untuk menguji bagaimana kita akan bereaksi di bawah tekanan, kesetiaan dan kepatuhan kita kepada-Nya. Tuhan menggunakan penundaan untuk melatih kita, karena kadang lebih lama mengeluarkan Mesir dari kita daripada mengeluarkan kita dari Mesir. Ketika saudara dan saya diselamatkan, kita masih mempunyai kebiasaan dan pola pikir yang dari dunia ini. Tuhan menggunakan penundaan untuk menghancurkan kebiasaan dan pola pikir itu, dan melatihmu dengan cara Tuhan sendiri berpikir dan bertindak.

“Sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.” (Yakobus 1:3,4)

Ketika engkau merasa sendirian di padang belantara: you are not !!!

Tuhan tetap menjaga terang-Nya bersinar atasmu. Pergumulan kita memiliki tujuannya, mempunyai nilai kehidupan. Rasa sakit bisa memunculkan yang terbaik dari seseorang. Tekanan bisa menghasilkan sesuatu yang indah. Penderitaan bisa mencapai sesuatu yang besar…

Engkau tidak sedang menghadapi masalahmu dengan tidak ada alasannya. Dalam masalah itu Tuhan sedang bekerja melakukan sesuatu dalam hidupmu – besamamu dan untukmu. Tuhan akan membuat jalan dimana kelihatannya tidak ada jalan lagi, kita hanya perlu menunggu.

“Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh.” (Habakuk 2:3)

Hal-hal yang sedang engkau nantikan dari Tuhan… jangan takut friends, satu hal yang Tuhan tidak bisa lakukan terhadap Janji-Nya adalah mengingkari…

Kamis, 01 Maret 2012

"Akhirnya harus bersyukur."

"Akhirnya harus bersyukur."
Yang namanya manusia tidak pernah ada puasnya. Dikasih hujan minta panas, dikasih panas minta hujan. Semua keadaan jadi kambing hitam atau jadi objek yang selalu disalahkan. Tidak Cuma itu, waktu kita mulai membandingkan diri dengan orang lain, ujung-ujungnya yang ada hanya persungutan.

Diam-diam atau terang-terangan kita mulai protes sama Tuhan. Pernahkah kita coba melihat, bahwa ada sebagian manusia dibumi yang sama, yang tidak lebih beruntung dan tidak seberuntung kita?

“Tuhan, Hari yang buruk” batin Lisa, langit yang tampak menggelap karena hampir malam, yang saat itu ada di dalam bis.

tiba-tiba jadi semarak dengan warna-warni lampu di tengah kota yang satu-persatu mulai menyala menyambut datangnya malam. Masih didalam bis kota, dan jaga masih termenung, pandangan Lisa menerawang jauh. Sesekali mulutnya mengeluarkan keluh kesah. “Ahhhhhh…!”

Bis yang Lisa tumpangi terpaksa harus berhenti sesaat, karena ada kereta yang lewat. Mata Lisa tertuju dengan kehidupan di sepanjang rel kereta. Orang-orang yang tinggal di gubuk disepanjang pinggir rel, tampak duduk dan bercengkrama dengan santainya sambil menikmati nasi bungkus ramai-ramai, yang isinya tidak sebanding dengan mulut yang harus makan saat itu. Mereka terus makan, sambil sesekali memebereskan rambutnya yang tertiup angin. Mereka tidak peduli, walau puluhan mungkin juga ratusan mata melihat. Tak jauh dari tempat itu beberapa anak yang tampak tak terurus berkejar-kejaran tanpa alas kaki, sampai anak-anak lainnya berhamburan keluar begitu tahu lampu merah menyala. Lampu merah adalah panggilan bagi mereka untuk bekerja, dan bis kota adalah tempat mereka mengais rejeki. Sempat Lisa memandang tiga orang bocah berpakaian kumal dan agak compang-camping lengkap dengan gitar kecil. Sedang serius menghitung sejumlah uang receh dekat gubuk yang punya cahaya lampu cukup terang.

Bis kembali melaju meninggalkan rel. “pemandangan tadi bukan kebetulan” bisik Lisa. Hari ini Tuhan mengijinkan ia melihat kondisi orang lain, supaya ia mengerti, bahwa masih banyak yang lebih menderita, dan susah payah untuk bisa bahagia di tengah kehidupan dunia yang keras. “selama ini aku berpikir, akulah orang yang paling malang di dunia ini. Aku salah Tuhan Engkau sendiri yang mencelikkan mataku. Ampuni aku yang sudah besungut-sungut, dan ajarlah aku untuk selalu bersyukur” doa Lisa.

Lisa kini mengerti, hidup memang tidak mudah. Untuk itu, ia harus berjuang. Tapi Lisa tau ia tidak berjuang sendiri. Ada Tuhan yang menyertai dia.. “Thanks God” ujar Lisa mantab
Y