Minggu, 08 Januari 2012

DOA DAN PENGHARAPAN YANG MEMBAWA KEMENANGAN

DOA DAN PENGHARAPAN YANG MEMBAWA KEMENANGAN
Seorang ibu mengalami sakit kanker telah puluhan tahun lamanya. Pada tahun 1989 ia menjalani operasi pengangkatan payudara di sebelah kanannya. Saat itu dokter telah memfonis bahwa umurnya hanya tinggal 6 bulan lagi. Ibu itu dinasihati untuk "bersenang-senang" saja. Namun ibu itu mengatakan bahwa hidup atau mati ditangan Tuhan. Saya tetap berharap dan pasrah pada-Nya.

Ditahun 2005 ia menjalani operasi yang kedua untuk mengangkat payudara di sebelah kirinya. Menurut diagnosa dokter hal ini menandakan bahwa kankernya sudah merambat ke seluruh tubuh.

Dengan profesionalitasnya sang dokter mengatakan hal yang sama seperti yang disampaikan oleh dokter yang lain pada tahun 1989, bahwa umur ibu tinggal 6 bulan lagi. Belajar dari pengalaman tahun 1989 sang ibu mengatakan : "tujuh belas tahun yang lalu saya pernah mendengar ucapan yang sama dengan ucapan dokter sekarang, tapi ternyata sampai saat ini saya masih hidup. Saya hanya percaya pada Yesus saja; Ia Sang empunya hidup!". Terbukti ibu itu bertahan sampai bulan Agustus ditahun 2009. Doa, usaha ketaatan dan pengharapan pada Tuhan membuat ibu itu bertahan menghadapi penyakit kanker ganas. Walau Ibu itu akhirnya meninggal namun dalam perjalanan hidup sebeblum ia meninggal ia tetap beraktifitas seperti biasa. Seakan sakit tak pernah dialaminya. Bahkan, ia malah serius dalam melayani pekerjaan Tuhan bersama dengan rekan-rekan kerjanya.

Vonis mati yang dihadapkan pada ibu ini justru memperteguh pengharapannya kepada Tuhan. Hal ini sama seperti yang dialami oleh jemaat Kristen saat Yohanes mendapatkan penglihatan. Mereka teraniaya oleh kaisar Roma karena tidak mau taat dan menyembah Kaisar. Kematian menanti mereka! Namun mereka tetap berharap dan setia pada Tuhan. Pengharapanlah yang membuat mereka menang!

Bacaan diambil dari kitab Wahyu 8 : 1-3

Sabtu, 07 Januari 2012

MINTALAH MAKA AKAN DIBERIKAN KEPADAMU

MINTALAH MAKA AKAN DIBERIKAN KEPADAMU
Apakah yang akan kita lakukan jika kita sangat membutuhkan sesuatu, tetapi tidak mempunyainya? Misalnya, kita sangat lapar tetapi tidak punya makanan untuk dimakan. Atau tidak punya uang untuk mengobati penyakit yang sedang kita derita. Pasti kita akan berusaha untuk meminta dari orang lain. Atau mencarinya dari rumah ke rumah sambil mengetok pintu. Tampaknya hal seperti ini biasa dilakukan oleh para pendengar Yesus. Kemiskinan dan penderitaan membuat mereka menggantungkan hidup kepada orang lain dengan cara meminta-minta. Masalah yang muncul adalah orang tidak selalu memberi ketika kita meminta kepadanya. Jawaban yang diucapkan 'tidak ada!'; bahkan ada yang menjawab dengan berbagai 'umpatan'. Kalau ada yang memberi, terkadang pemberian tersebut dengan pamrih, atau dengan syarat.

Bacaan Alkitab ini menjelaskan dual hal. Pertama, bagi kita yang berlebihan dalam hidup, Yesus mengajarkan bahwa kita harus memberi kepada orang yang datang meminta; atau membuat orang mendapatkan apa yang mereka cari dari kita; dan membuka pintu jika orang yang mengetok. Kita harus melakukannya dengan rela dan tulus sebab jika orang yang tidak punya sesuatu datang meminta kepada kita, itu bisa berarti bahwa Tuhan yang memerintahkannya. Kedua, bagi kita yang miskin dan sering diperlakukan tidak adil oleh orang lain karena harus menggantungkan hidup dengan selalu meminta kepada mereka, Yesus mengajarkan agar kita mulai menggantungkan hidup kepada Tuhan. Kita harus meminta dari Tuhan; harus mencari di dalam dan bersama Tuhan, dan wajib mengetok pintu hati Tuhan. Sebab Tuhan tidak pernah tidak memberi apa yang kita minta kepada-Nya. Tuhan akan membuat kita mendapatkan apa yang kita cari, Tuhan juga selalu membuka pintu hati-Nya untuk kita. Sebab Tuhan tidak pernah merendahkan harkat kita manusia, tetapi selalu meninggikannya asal kita bergantung kepada-Nya.

Bacaan diambil dari kitab Matius 7 : 7-11

Jumat, 06 Januari 2012

BUAH KEMURAHAN ALLAH

BUAH KEMURAHAN ALLAH
Banyak kegiatan yang asyik untuk dilakukan, membicarakan dan mengkritik orang mungkin termasuk didalamnya. Itu sebabnya siaran infotainment dan dialog di televisi mengkritisi para politikus cukup diminati. Untuk membicarakan orang, seseorang harus jeli mencari keburukan orang lain.

Yesus mengingatkan bahwa buah dari menerapkan kemurahan Allah adalah mampu mengampuni daripada menghakimi dan menghukum. Upaya mengangkat diri sendiri dengan cara menunjuk kelemahan orang lain juga sangat bertentangan dengan kemurahan Allah. Kemurahan Allah mengajarkan kita melihat orang lain dengan mata bersih dan tulus sehingga sanggup menemukan segi positif mereka.

Kecuali Yesus, tidak ada orang yang hanya memiliki kebaikan. Sebaliknya tidak ada orang yang hanya memiliki keburukan. Itu berarti selalu ada sisi baik dalam diri manusia. Sisi baik itulah yang seharusnya dilihat dan dibicarakan untuk menjadi contoh. Sebagaimana kita ingin dinilai positif, demikian hendaknya kita melihat kebaikan orang lain. Untuk itu dibutuhkan kerendahan dan ketulusan hati. Bukan berarti sikap kritis tidak dibutuhkan. Yesus mengingatkan bahwa kemurahan Allah mengajar orang bersikap kritis terhadap diri sendiri. Dengan menyadari betapa besar kelemahannya, seorang akan malu untuk menghakimi.

Bacaan diambil dari kitab Lukas 6 : 37-42

Kamis, 05 Januari 2012

BANGUNLAH, ANGKAT TILAMMU DAN BERJALAN

BANGUNLAH, ANGKAT TILAMMU DAN BERJALAN
Penyakit dan penderitaan sering melemahkan kita; bukan hanya fisik tetapi terlebih keyakinan iman kita. Makin lama kita sakit dan menderita, makin lemah iman kita. Apalagi orientasi untuk sembuh adalah pada sesuatu yang hanya berlangsung sewaktu-waktu; bukan pada keyakinan iman kepada Kristus.

Air kolam Betesda telah lama dipercaya oleh orang-orang Yahudi dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Sebab dipahami bahwa ketika air itu bergoncang, itu tandanya malaikat Tuhan sedang turun. Siapa yang lebih dulu masuk kolam saat itu, ia akan sembuh. Tidak aneh jika di semua serambi dekat kolam tersebut banyak orang yang menderita berbagai penyakit sengaja diletakkan di situ. Yesus yang hadir saat itu di Yerusalem dalam rangka perayaan juga ikut mengunjungi kolam tersebut. Ia melihat seorang yang sudah sangat lama menderita,

yakni tiga puluh delapan tahun. Yesus tahu bahwa orang tersebut tidak bisa bergerak, hanya terbaring lemah, sehingga tidak mungkin akan masuk ke kolam Betesda. Melihat keadaan dan sikapnya yang pasrah, Tuhan Yesus pun menawarkan kesembuhan. Tuhan Yesus ingin memberi pemahaman baru bahwa ia pasti sembuh dengan hanya melakukan perintah-Nya. Maka Yesus pun memerintahkan dia untuk bangun, mengangkat tilamnya dan berjalan. Bila dengan yakin dia melakukan perintah Tuhan, dia pun sembuh. Kesembuhan yang dialami membuat dia bersaksi tentang Tuhan Yesus kepada orang-orang Yahudi yang melarangnya mengangkat tilam pada hari Sabat.

Jangan biarkan penyakit dan penderitaan melemahkan iman kita. Jangan juga menaruh harapan untuk sembuh pada sesuatu yang bersifat sementara. Beriman sungguh kepada Tuhan Yesus, dan lakukan firman-Nya maka apa pun sakit kita, pasti sembuh.

Yohanes 5 : 1-11

Rabu, 04 Januari 2012

BELAJARLAH UNTUK MENGERTI KEHENDAK ALLAH

BELAJARLAH UNTUK MENGERTI KEHENDAK ALLAH
Hidup tentram, nyaman dan damai serta di berkati Allah adalah dambaan setiap insan. Berbagai cara ditempuh oleh setiap insan untuk meraihnya. Tetapi tidak jarang kita gagal menemukan kebahagiaan, bila diperhadapkan dengan kebahagiaan menurut pandangan Tuhan. Tidak heran kita sering membohongi diri, pura-pura bahagia, tetapi sesungguhnya ketakutan dan kekecewaan lebih banyak kita jumpai.

Secara logis perbuatan kita tidak mampu membalas seluruh Anugerah dan Kasih Karunia Allah. Sehingga sangat tidak benar ketika orang muda itu berkata "apa yang harus aku perbuat?". Dalam benaknya bahwa dengan perbuatan ia akan mendapat hidup kekal. Karena apa yang Yesus perintahkan untuk dilakukan menurut kebiasaan keagamaannya telah ia lakukan. Ia pun menantang Yesus dengan mengatakan "Semua telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang" (ay.20).


Akhirnya satu hal yang Yesus ajukan diluar perkiraannya, yaitu juallah segala milikmu dan berikanlah kepada orang-orang miskin, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku (ay.21). Tantangan ini sungguh berat bagi dirinya, sehingga ia pergi dengan kecewa dan meninggalkan Yesus (ay.22).

Kita selalu takut memberikan yang paling berharga dalam hidup ini untuk sesama. Padahal yang Tuhan minta bukanlah nyawa kita, tetapi sesuatu yang masih dapat kita raih kembali, karena kita seringkali gagal menangkap maksud dan berkat-berkat Tuhan pada masa yang akan datang. Sehingga kita terjebak menjadi manusia munafik. Berbuat sedikit tapi menuntut hak lebih besar kepada Allah. Tanpa kita bisa menyerahkan apa yang akan menjadi milik kita kelak ke dalam keputusan Allah. Kita sadar Allah tidak buta dan tuli; Allah tidak bodoh dan lelah untuk melihat anak-anakNya yang menyerahkan hidupnya secara total kepada Dia. Karena hanya Dia yang akan menambahkan apa yang menjadi harapan kita.

Matius 19 : 16-22