- KEKUATIRAN MELEYAPKAN SUKACITAFilipi 4:6 “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur”.
Walter B. Knight mencertitakan seorang wanita yang terkurung oleh api di puncak gedung yang sedang terbakar. Api dan asap mengurungnya, sehingga ia tidak dapat melarikan diri ke bawah. Ketika tim pemadam kebakaran tiba, salah seorang diantara mereka menaiki tangga menuju ke jendela, tempat wanita itu terkurung api menawarkan diri untuk menyelamatkannya. Akan tetapi, ketika wanita itu menegok kebawa dan melihat jarak yang begitu jauh ke tanah, ia menjadi panik dan kembali kekamarnya semula. Orang yang mencoba menyelamatkan wanita tersebut memohon agar wanita itu mempercayainya demi keselamatan dirinya sendiri, namun permohonannya tidak diperhatikan. “Saya telah melakukan segala sesuatu utk menyelamatkannya, tetapi wanita tidak mengijinkan saya. Dia tidak mempercayai saya”, kata anggota pemadam kebakaran setelah terpaksa turun karena wanita itu tidak mau ditolong. Akhirnya, wanita tersebut mati terbakar karena kekuatirannya.
Meskipun kita bisa menyalakan sikap wanita tersebut. Namun kisah tersebut merupakan gambaran kehidupan kita, yang kadangkala bersikap kuatir secara berlebihan. Acapkali kita tanpa sadar telah melakukan hal-hal yang todak rasional sebagai dampak dari kekuatiran tersebut. Semua orang pasti pernah kuatir, namun kita tdk boleh hidup dalam kekuatiran. Bila kekuatiran lebih mendominasi, maka kita akan kehilangan sukacita dalam menjalani hidup ini, hidup seakan berat, dan tanpa pengharapan. Kekuatiran tidak menyelesaikan masalah. Mari kita belajar memandang hidup ini dengan optimis, karena kita memiliki Yesus.
GBU
Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Roma 12:11
Senin, 10 Oktober 2011
KEKUATIRAN MELEYAPKAN SUKACITA
Minggu, 09 Oktober 2011
Dikala Hatimu Gelisah
- Dikala Hatimu GelisahSIAPA saja bisa mengalami kegelisahan! Apakah saat ini hatimu sedang gelisah? Kata ’gelisah’ dalam Kamus Indonesia artinya suatu gejala yang dialami manusia ketika menghadapi masalah. Ciri-cirinya adalah perasaan tidak tenang, tidak tentram, tidak konsentrasi, suasana hati lelah karna emosi yang sulit dikendalikan. Tahukah Anda apa penyebab kegelisahan? Sesungguhnya kalau kita tahu apa sebabnya, pasti kegelisahan kita saat itu sirna. Namun kebanyakan kita tidak tahu, itu sebabnya hati kita selalu terserang kegelisahan. Kegelisahan disebabkan oleh kekecewaan terhadap sesuatu, dengan kata lain disebabkan ketidak penerimaan kita.
Rasa kekecewaan tidak selalu hal negatif. Allah sering menggelisahkan kita, tetapi tujuan-Nya selalu baik. Dia kadang memakai perasaan kecewa atau persoalan fisik dan spiritual kita untuk membawa kita pada pemahaman baru. Sebagai contoh, ketika kita sudah merencanakan sesuatu, katakan saja namanya program ’si-jitu’, tetapi realitanya program tersebut tidak terealisasi, maka hati kita mulai capek mikirin ’si-jitu’, kekecewaan menjadi subur karna segalanya telah kita upayakan terhadap ’si-jitu’. Makan tidak enak, tidur tidak nyenyak, emosi meletup-letup... tetapi hati-hatilah supaya amarahmu tidak menjadi harimaumu! Kita harus sadar bahwa hidup kita telah diatur oleh Tuhan. Tuhan berdaulat atas setiap keberadaan kita. Jangan menuntut pada yang bukan porsi kita, tetapi bersyukurlah karna ’adanya maksud Tuhan yang jauh lebih baik dibalik semua perencanaan kita’.
Kita memang harus sibuk untuk mengatur dan menjalankan setiap yang Tuhan percayakan kepada kita, tetapi jangan mendahului setiap rencana-Nya. Tujuan kegelisahan yang ada pada setiap hati kita hanya untuk menarik perhatian kita agar tetap fokus kepada Tuhan. Tidakkah kita selalu mengingat; ”bahwa Allah melakukan jauh lebih daripada apa yang kita pikirkan atau rencanakan?” Karna itu, marilah kita melakukan apa yang menjadi bagian kita, maka Allah akan melakukan apa yang menjadi bagian-nya.Nya Masihkah hatimu gelisah??.
Sabtu, 08 Oktober 2011
Forgive and Forget
- Forgive and ForgetIni sebuah kisah tentang dua orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Ditengah perjalanan, mereka bertengkar, dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir : HARI INI, SAHABAT TERBAIK KU MENAMPAR PIPIKU. Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan oleh sahabatnya. Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu HARI INI, SAHABAT TERBAIK KU MENYELAMATKAN NYAWAKU.
Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya, "Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu ?" Temannya sambil tersenyum menjawab, "Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya diatas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus memahatnya diatas batu hati kita, agar tidak bisa hilang tertiup angin."
Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masalah lalu. Belajarlah menulis diatas pasir.
"Since we all need forgiveness, we should always be forgiving."
Jumat, 07 Oktober 2011
PILAR-PILAR KEBAHAGIAAN
- PILAR-PILAR KEBAHAGIAANKolose 3:14 Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.
Ketika memutuskan utk menikah, orang pasti mengharapkan sebuah rumah tangga yang bahagia. Bahagia dapat di definisikan sebagai keadaan atau perasaan senang dan tentram, bebas dari segala yang menyusahkan. Kita mengharapkan suami istri yang penuh pengertian, anak-anak yang sehat dan taat, keuangan yang baik, dll.
Namun, kebahagiaan tidak datang dengan sendirinya. Kebahagiaan perlu di bangun dan di upayakan. Berikut ini ada 6 pilar kebahagiaan yang perlu kita kembangkan sebagai suami-istri dalam rumah tangga :
PERTAMA : SALING MENERIMA (Rm 15:7). Saling menerima adalah kunci utama untuk mengatasi perbedaan. Pasangan kita memiliki karakter, kebiasaan, pemahaman, dan mungkin saja budaya yang berbeda, jika ia berasal dari suku atau bangsa yang lain. kita jangan berusaha mengubah pasangan kita, tetapi mulailah mengubah sikap kita jika memang perlu untuk di rubah demi kebaikkan bersama. Ketika pasangan melihat perubahan kita, besar kemungkinan ia juga akan mulai berubah dengan kesadaran sendiri.
KEDUA : SALING MENGHARGAI (1 Petrus 2:17 ; 3:7). Saling menghargai berhubungan dengan rasa hormat kita kepada pasangan kita. Hargailah pasangan sebagai patner, jangan menganggap dan memperlakukan dia sebagai seorang yang lebih rendah. Termasuk juga di dalamnya menghargai pendapat dan ide-idenya, sekalipun pendapatnya tidak sebaik yang anda harapkan.
KETIGA : SALING MENGUTAMAKAN (Filipi 2:3). Kita akan mengutamakan pasangan, jika kita menganggap dia lebih penting dari pada diri kita sendiri. Mengutamakan diri sendiri akan menimbulkan kesalah pahaman, yang membuat damai sejatera hilang. Utamakanlah pasangan anda, perasaannya, keinginannya, hobinya, dll. Sungguh indah jika suami istri saling menutamakan. Ada pelayanan timbal balik antara keduanya.
KEEMPAT : SALING MEMUJI (Amsal 25:27). Amsal mengatakan bahwa kata-kata pujian yang kita berikan hendaklah jarang. Artinya, memberikan pujian adalah hal yang wajar, tapi janganlah meberikan pujian yang berlabihan dan mengada-ada. Pujian yang wajar merupakan motivasi yang baik bagi pasangan. Jika selama ini kita terbiasa mengkritik pasangan kita, sekarang gantilah kritikkan itu menjadi pujian yang akan membuat pasangan kita sukacita.
KELIMA : SALING MENGAMPUNI (Efesus 4 : 32 ; Kolose 3 : 13). Dalam hidup berumah tangga, akan ada kesalah pahaman atau pelangggaran yang di lakukkan oleh pasangan kita. Sebagai seorang yang sudah di ampuni oleh Tuhan, suami-istri juga hendaknya bersedia memberikan pengampunan, ketika sikap atau tindakkan pasangan kita menyakiti hati kita.
KEENAM : SALING MEMBANGUN (1 Tesalonika 5 : 11 ; Roma 14 : 19). Bantulah pasangan anda untuk berubah menjadi lebih baik. Jangan biarkan dia dalam kesalahannya, tegur dengan kasih dan doakan dia, agar kalian berdua semakin baik dan maju dalam Tuhan.
KEBAHAGIAAN TIDAK DATANG SECARA INSTAN, ADA USAHA DAN PENGORBANAN UNTUK MEMBANGGUNNYA.
Kamis, 06 Oktober 2011
Mujizat itu tidak pernah BERAKHIR
- Mujizat itu tidak pernah BERAKHIR“Maka takjublah semua orang itu karena kebesaran Allah.” Lukas 9:43a
Sekarang ini adalah era modernisasi. Semua serba modern. Ilmu
pengetahuan dan teknologi semakin canggih. Bermunculan pula pakar dan ilmuwan di bidangnya masing-masing dengan kemampuan luar biasa yang tak perlu disangsikan lagi. Akhirnya banyak orang yang menjadi sangat bergantung pada kepintaran dan kecanggihan teknologi yang ada. Rasa-rasanya mujizat Tuhan mulai diabaikan, orang lebih percaya kepada pengetahuan dan cara berpikir para pakar atau ilmuwan yang mengandalkan logika. Tetapi sesungguhnya mujizat Tuhan tak pernah berakhir dan tetap ada bagi orang percaya.
Pada suatu hari Yesus bertemu seorang bapak yang anaknya kerasukan setan sehingga menjadi bisu dan sangat tersiksa. Bapak itu ingin anaknya sembuh, namun ia ragu-ragu apakah Yesus dapat menyembuhkannya karena katanya, “...aku telah meminta kepada murid-muridMu supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat.” (ayat 40). Lalu ia berkata kepada Yesus, “ ‘Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami’. Jawab Yesus: ‘Katamu: Jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang percaya!’ “ (Markus 9:22b-23).
Pada kesempatan lain Yesus membuat suatu pernyataan luar biasa, “Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah.” (Lukas 18:27). Apabila Tuhan mengerjakan sesuatu yang tak bisa dilakukan manusia, itulah yang dinamakan mujizat. Perbuatan Tuhan merupakan mujizat bagi kita, tapi bagi Tuhan hal itu bukanlah mujizat sebab Dia dapat mengerjakan segala perkara dan apa saja. Bahkan dari yang tidak ada Tuhan sanggup mengadakan. Bumi diciptakan dari yang tidak ada, hanya oleh firmanNya saja. Jadi, tidak ada sesuatu pun yang sukar bagi Tuhan. Bila manusia dapat terbang, itu merupakan mujizat; tetapi bagi seekor burung, terbang itu bukanlah mujizat, tapi merupakan hal yang biasa dilakukannya. Demikian juga perbuatan-perbuatan besar Tuhan, bagiNya bukanlah apa-apa, namun bagi manusia merupakan suatu keajaiban.
Selama Tuhan masih ada, mujizat masih selalu berlaku. Bila ada manusia yang berkata bahwa zaman mujizat sudah berlalu, pastilah manusia itu sudah ‘tak waras’, karena bila mujizat tak ada, berarti Tuhan juga tidak ada.
Mujizat selalu tersedia bagi orang yang percaya kepadanya!
GBU
Langganan:
Postingan (Atom)