Senin, 05 September 2011

"Menuai Cinta."

"Menuai Cinta."
Sebuah cerita dari Tiongkok.

Di sebuah daerah tinggal seorang saudagar kaya raya. Dia mempunyai seorang hamba yang sangat lugu - begitu lugu, hingga orang-orang menyebutnya si bodoh.

Suatu kali sang tuan menyuruh si bodoh pergi ke sebuah perkampungan miskin untuk menagih hutang para penduduk di sana.

"Hutang mereka sudah jatuh tempo," kata sang tuan.

"Baik, Tuan," sahut si bodoh. "Tetapi nanti uangnya mau diapakan?"

"Belikan sesuatu yang aku belum punyai," jawab sang tuan.

Maka pergilah si bodoh ke perkampungan yang dimaksud. Cukup kerepotan juga si bodoh menjalankan tugasnya; mengumpulkan receh demi receh uang hutang dari para penduduk kampung.

Para penduduk itu memang sangat miskin, dan pula ketika itu tengah terjadi kemarau panjang. Akhirnya si bodoh berhasil jua menyelesaikan tugasnya. Dalam perjalanan pulang ia teringat pesan tuannya, "Belikan sesuatu yang belum aku miliki."

"Apa, ya?" tanya si bodoh dalam hati.

"Tuanku sangat kaya, apa lagi yang belum dia punyai?"

Setelah berpikir agak lama, si bodoh pun menemukan jawabannya. Dia kembali ke perkampungan miskin tadi. Lalu dia bagikan lagi uang yang sudah dikumpulkannya tadi kepada para penduduk.

"Tuanku, memberikan uang ini kepada kalian," katanya.

Para penduduk sangat gembira. Mereka memuji kemurahan hati sang tuan.

Ketika si bodoh pulang dan melaporkan apa yang telah dilakukannya, sang tuan geleng-geleng kepala.

"Benar-benar bodoh," omelnya.

Waktu berlalu. Terjadilah hal yang tidak disangka-sangka; pergantian pemimpin karena pemberontakan membuat usaha sang tuan tidak semulus dulu. Belum lagi bencana banjir yang menghabiskan semua harta bendanya. Pendek kata sang tuan jatuh bangkrut dan melarat. Dia terlunta meninggalkan rumahnya. Hanya si bodoh yang ikut serta.

Ketika tiba di sebuah kampung, entah mengapa para penduduknya menyambut mereka dengan riang dan hangat; mereka menyediakan tumpangan dan makanan buat sang tuan.

"Siapakah para penduduk kampung itu, dan mengapa mereka sampai mau berbaik hati menolongku?" tanya sang tuan.

"Dulu tuan pernah menyuruh saya menagih hutang kepada para penduduk miskin kampung ini," jawab si bodoh.

"Tuan berpesan agar uang yang terkumpul saya belikan sesuatu yang belum tuan punyai. Ketika itu saya berpikir, tuan sudah memiliki segala sesuatu. Satu-satunya hal yang belum tuanku punyai adalah cinta di hati mereka. Maka saya membagikan uang itu kepada mereka atas nama tuan.

Sekarang tuan menuai cinta mereka."

(^__^)...........GBU all

Minggu, 04 September 2011

Ulang Tahun Ke-1.000

Ulang Tahun Ke-1.000

Baca: Amos 4:7-13

Bersiap untuk bertemu dengan Allahmu. —Amos 4:12

Bacaan Untuk Setahun:

■ Yesaya 9–10
■ Efesus 3

Dalam bukunya Long for This World (Merindukan Dunia Ini), Jonathan Weiner menulis tentang kemajuan ilmu pengetahuan yang berjanji untuk memperpanjang selama mungkin waktu hidup kita. Tokoh utama dari buku ini adalah ilmuwan Inggris Aubrey de Grey, yang meramalkan bahwa suatu saat ilmu pengetahuan akan memberi kita jangka waktu hidup selama 1.000 tahun. Aubrey menegaskan bahwa ilmu biologi molekuler akhirnya telah berhasil menghasilkan obat pencegah penuaan.

Namun, apa pengaruhnya obat itu jika setelah menjalani hidup selama 1.000 tahun, akhirnya kita akan mati juga? Ramalan De Grey hanya menunda seseorang menghadapi pertanyaan penting tentang apa yang terjadi setelah kita mati. Ramalannya tidak menjawab pertanyaan tersebut.

Kitab Suci menyatakan kepada kita bahwa kematian bukanlah akhir dari keberadaan kita. Sebaliknya, kita diyakinkan bahwa setiap orang akan berdiri di hadapan Kristus untuk dihakimi—orang percaya menurut pekerjaannya dan orang yang tidak percaya atas penolakan mereka terhadap Dia (Yoh. 5:25-29; Why. 20:11-15). Kita semua adalah manusia berdosa yang membutuhkan pengampunan. Dan hanya kematian Kristus di kayu salib yang memberikan pengampunan untuk semua orang yang percaya (Rm. 3:23; 6:23). Alkitab mengatakan, “Manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi” (Ibr. 9:27).

Pertemuan tatap muka kita dengan Allah kelak meletakkan segala sesuatu pada sudut pandang yang benar. Jadi, baik kita hidup 70 tahun atau 1.000 tahun, masalah kekekalan tetaplah sama: “Bersiaplah untuk menemui Allahmu!” (Am. 4:12).

Yang lebih penting dari waktu hidup yang panjang
Adalah di mana engkau akan menghabiskan kekekalan;
Jika kau menaruh imanmu dalam Kristus,
Kau akan melihat kemuliaan surgawi. —Sper

Hanya mereka yang telah beriman kepada Kristus yang siap bertemu dengan Sang Pencipta.

Sabtu, 03 September 2011

“TIDAK AKAN ADA PENUNDAAN LAGI”

 “TIDAK AKAN ADA PENUNDAAN LAGI”
Ayat Pokok: Roma 12:11 – bagian 11
Oleh: Pdt. A.H. Mandey


Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.  

Kerajinan harus tetap dijaga agar tidak kendor = tidak malas.  Malas berakibat kemiskinan – Amsal 6:10-11.  Jangan seperti jemaat Efesus yang meski masih tetap giat berjerih lelah dalam pelayanan, namun telah kehilangan kasih yang mula-mula.  Akibatnya jika tidak bertobat?  Kaki dian akan diambil daripadanya – Wahyu 2:2-5!  Tanpa kaki dian, lenyaplah terang.  Apa jadinya jika orang percaya telah kehilangan terang Tuhan?
Seorang yang kehilangan semangat dan menjadi suam, Tuhan akan memuntahkan dia dari mulutNya! – Wahyu 3:15-16.  Demikianlah teguran keras Tuhan bagi jemaat yang dikasihiNya.  Kiranya, kerajinan kita takkan pernah kendor, dan roh Tuhan tetap menyala-nyala dalam kita.  Amin.
Pagi ini saya masih ingin mengupas dan menambahkan satu hal lagi dari ayat pokok kita, yaitu tentang “layanilah Tuhan.”

Anggota Dari Satu Tubuh
Mulai ayat 3 Roma 12 bicara tentang saudara dan saya yang adalah anggota dari satu tubuh!  Sebagaimana setiap anggota tubuh manusia mempunyai fungsi masing-masing, demikian pula setiap saudara dan saya memiliki fungsi yang berbeda-beda, tetapi tetap anggota satu tubuh, yaitu tubuh Kristus.  Haleluya!
Dan dari setiap anggota dengan fungsi masing-masing, Tuhan menuntut kita untuk bersama-sama melayani Dia.

“Layanilah Tuhan” = “Layanilah Waktu”
Dalam bahasa aslinya ada dua kata yang dipakai untuk “layanilah Tuhan” = “to serve the Lord.”  Pertama, “kurio” = “Tuhan”.  Kedua, “kairos” = “waktu”.
Seluruh Alkitab ditulis berdasarkan ilhaman Roh Allah – 2 Timotius 3:16.  Agar bisa menuliskan semua yang disampaikan Tuhan, orang-orang yang mendapat ilhaman Roh, menuliskannya dalam singkatan-singkatan.  Kata “kurio” dan “kairos” sama-sama disingkat menjadi ‘KRS’.  Jadi, ketika diterjemahkan, ada yang menerjemahkannya dengan ‘kurio’ -> “layanilah Tuhan”.  Ada pula yang menerjemahkan KRS dengan ‘kairos’ -> “layanilah waktu”.
Segala sesuatu, termasuk “waktu” diciptakan oleh Allah.  Dia yang menentukan waktu.  Tetapi Dia sendiri tidak dibatasi oleh waktu.  Hanya Tuhan yang kekal; segala ciptaanNya tak ada yang kekal.  Lalu, apakah kedua terjemahan tersebut (“kurio” dan “kairos”) bertentangan?  Samasekali tidak!


“Layanilah Waktu”
Efesus 5:14-19, “... pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat...”  Terjemahan bahasa Inggris, “... Redeeming the time [= menebus = membeli kembali waktu], because the days are evil...”
Saudara dan saya ditebus bukan dengan emas atau perak, melainkan dengan darah Kristus.  “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat” – 1 Petrus 1:18-19.  Melalui kematian Yesus, saudara dan saya yang semula ada dalam cengkeraman Iblis, ditebus dan dibeli kembali menjadi milikNya.  Sama seperti orang yang menebus kembali barang yang telah digadaikan.
Tuhan menetapkan waktu.  Tuhan juga memberi kita waktu untuk dipakai dengan bijak dan penuh tanggung jawab.  Jangan kerajinan menjadi kendor; jangan malas!  Atau kemiskinan dan kekurangan datang tanpa kita sadari!  Jemaat Laodikia merasa diri kaya dan tak kekurangan apa-apa, namun di mata Tuhan mereka melarat, malang, miskin, buta dan telanjang – Wahyu 3:17.
Pakai waktu yang Tuhan berikan untuk melayani Dia!  ”Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada” [Bahasa Inggris: ”Walk in wisdom toward them that are without, redeeming the time” - Kolose 4:5.

“Tidak Akan Ada Penundaan Lagi”
”Dan malaikat yang kulihat berdiri di atas laut dan di atas bumi, mengangkat tangan kanannya ke langit, dan ia bersumpah demi Dia yang hidup sampai selama-lamanya, yang telah menciptakan langit dan segala isinya, dan bumi dan segala isinya, dan laut dan segala isinya, katanya: “Tidak akan ada penundaan lagi!” – Wahyu 10:5-7.
"...  Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya.  Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!  Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!” – Lukas 13:6-9.
Tuhan mengharapkan buah (pertobatan, dan lain-lain) dari pohon ara (= bangsa Israel) yang ditanam di kebun anggurNya.  Karena tak menemukan buah, Ia pun menyuruh pengurus kebun untuk menebang pohon itu!  Tetapi pengurus kebun minta waktu  (= mengulur waktu) setahun lagi.
Tuhan adalah Allah yang Maha Baik dan Pengasih.  Ia tak menghendaki seorangpun binasa.  Ia masih memberikan waktu kepada saudara dan saya.  Tapi tak seorangpun tahu berapa lama lagi waktu yang Ia berikan kepada masing-masing kita.  Satu saat, Ia tak lagi memberikan tambahan waktu.  Siapkah saudara?
Hidup kita ada dalam tangan Tuhan.  Apa yang telah kita kerjakan sepanjang waktu yang Tuhan berikan?  Sudahkah kita melayani Tuhan?  Sudahkah kita mengeluarkan buah-buah yang Ia harapkan?  Mari, ‘redeem time’ [=tebus/beli waktu].  Kembalikan waktu yang selama ini kita sia-siakan untuk melayani Tuhan dengan sungguh, dengan rajin.  Dan pada waktunya, kita akan mendengar Tuhan berkata, “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.” Tuhan Yesus memberkati saudara!

Jumat, 02 September 2011

Kristus Hidup Dalam Kita

Kristus Hidup Dalam Kita
Baca: Galatia 2:15-21

Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran. —2 Timotius 4:7-8

Bacaan Untuk Setahun:

Mazmur 129–131 ■ 1 Korintus 11:1-16

Perlombaan The Ironman Triathlon mencakup kompetisi renang sejauh 3,8 km, balap sepeda berjarak 180 km, dan lari sejauh 42 km. Bukan perkara yang mudah bagi siapa pun untuk menyelesaikan perlombaan ini. Namun, Dick Hoyt berpartisipasi dalam perlombaan tersebut dan berhasil menyelesaikannya bersama putranya yang cacat jasmani, Rick. Ketika Dick berenang, ia juga menarik Rick yang berada dalam sebuah perahu kecil. Ketika Dick bersepeda, Rick ada di tempat duduk di sisi sepeda. Ketika Dick berlari, ia mendorong maju Rick yang duduk di kursi rodanya. Rick bergantung pada ayahnya untuk dapat menyelesaikan perlombaan itu. Ia tidak dapat melakukannya tanpa sang ayah.

Kita melihat adanya persamaan antara kisah mereka dengan kehidupan kita sebagai seorang Kristen. Sama seperti Rick bergantung kepada ayahnya, kita bergantung pada Kristus untuk menyelesaikan pertandingan iman kita.

Ketika berusaha menjalani hidup yang menyenangkan Allah, kita menyadari bahwa meski kita memiliki maksud dan niat yang baik, sering kita tersandung dan terjatuh. Dengan kekuatan kita sendiri, hal itu tidaklah mungkin tercapai. Betapa kita membutuhkan pertolongan Tuhan! Dan pertolongan memang telah disediakan-Nya. Paulus menyatakannya dengan kata-kata yang penuh arti, “Tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah” (Gal. 2:20).

Kita tidak dapat menyelesaikan pertandingan iman dengan kekuatan kita sendiri. Kita hanya dapat melakukannya dengan jalan bergantung sepenuhnya kepada Yesus yang hidup dalam diri kita. —AL

Hatiku dipenuhi dengan kerinduan,
Untuk menjadi serupa dengan-Nya,
Aku takjub saat merenungkan,
Bahwa Kristus hidup dalamku.

Iman menghubungkan kelemahan kita dengan kekuatan Allah.

Kamis, 01 September 2011

Dia Menyebut Saya Sahabat

Dia Menyebut Saya Sahabat
Baca: Yohanes 15:9-17

Karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku . . . supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap. —Yohanes 15:15-16
Bacaan Untuk Setahun:

Ayub 30–31 ■ Kisah Para Rasul 13:26-52

Ada yang mendefinisikan persahabatan itu berarti “mengenal isi hati dan berbagi perasaan antara satu sama lain”. Kita berbagi perasaan dengan orang-orang yang kita percaya, dan percaya kepada mereka yang mempedulikan kita. Kita mempercayakan rahasia kepada para sahabat kita karena kita punya keyakinan bahwa mereka akan menggunakan informasi ini untuk menolong kita, bukan untuk mencelakakan kita. Sebaliknya, mereka juga mempercayai kita dengan alasan yang sama.

Kita sering menyebut Yesus sebagai sahabat kita karena kita tahu bahwa Dia menginginkan yang terbaik bagi kita. Kita mempercayakan rahasia kita kepada-Nya karena kita mempercayai-Nya. Namun, pernahkah Anda menyadari bahwa Yesus juga mempercayai umat-Nya?

Yesus mulai memanggil murid-murid-Nya dengan sebutan sahabat dan bukan hamba, karena Dia telah mempercayakan kepada mereka apa yang telah Dia dengar dari Bapa-Nya (Yoh. 15:15). Yesus percaya para murid-Nya akan menggunakan informasi itu untuk kebaikan kerajaan Bapa-Nya.

Walaupun kita tahu bahwa Yesus adalah sahabat kita, dapatkah kita berkata bahwa kita adalah sahabat-Nya? Apakah kita mendengarkan-Nya? Atau apakah kita hanya menginginkan Dia yang mendengarkan kita? Apakah kita ingin mengetahui apa yang ada di dalam hati-Nya? Ataukah kita hanya menginginkan Dia yang mengetahui isi hati kita? Untuk menjadi sahabat Yesus, kita perlu mendengar apa yang diinginkan-Nya untuk kita ketahui, lalu menggunakan informasi itu untuk membawa orang lain supaya juga menjalin persahabatan dengan-Nya.

Sungguh indah! Kita punya Sahabat di surga,
Yang memandu langkah kita yang bimbang dan lelah,
Yang menyertai dengan mata kasih-Nya
Setiap anak yang telah ditebus-Nya.

Persahabatan dengan Kristus menuntut kesetiaan kita.