Untuk masakan Jepang, kita tahu bahwa ikan salmon akan lebih enak utk dinikmati jika ikan tsb masih dalam keadaan hidup saat hendak diolah utk disajikan.
Jauh lebih nikmat dibandingkan dgn ikan salmon yg sdh diawetkan dgn es.
Itu sebabnya para nelayan selalu mmasukkan salmon tangkapannya ke suatu kolam buatan agar dlm perjalanan menuju daratan salmon2 tsb tetap hidup.
Meski demikian pada kenyataannya byk salmon yg mati di kolam buatan tsb.
Bagaimana cara mereka menyiasatinya?
Para nelayan itu memasukkan seekor hiu kecil dikolam tsb.
Ajaib !! Hiu kecil tsb "memaksa" salmon2 itu terus bergerak agar jgn sampai dimangsa.
Akibatnya jumlah salmon yg mati justru menjadi sangat sedikit !!
Diam membuat kita mati ! Bergerak membuat kita hidup !
Barangkali kurang lebih itulah pesan moral yg dpt kita tangkap dari gambaran diatas.
Apa yg membuat kita diam?
Saat tdk ada masalah dlm hidup dan saat kita berada dlm zona nyaman.
Situasi seperti ini kerap membuat kita terlena. Begitu terlenanya sehingga kita tdk sadar bahwa kita telah mati.
Ironis, bukan?
Apa yg membuat kita bergerak?
Masalah, Pergumulan dan Tekanan Hidup.
Saat masalah datang secara otomatis naluri kita membuat kita bergerak aktif dan berusaha mengatasi semua pergumulan hidup itu
Di saat-saat seperti itu biasanya kita akan ingat Tuhan dan berharap kpd Tuhan. Tdk hanya itu, kita menjadi kreatif, dan potensi diri kitapun menjadi berkembang luar biasa !!
Ingatlah bahwa kita akan bisa belajar banyak dlm hidup ini bukan pada saat keadaan nyaman, tapi justru pada saat kita menghadapi badai hidup.
Itu sebabnya syukurilah "hiu kecil" yg terus memaksa kita utk bergerak dan tetap survive !
Masalah hidup adalah baik, karena itulah yg membuat kita terus bergerak...
TUHAN YESUS MEMBERKATI
Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Roma 12:11
Jumat, 03 Juni 2011
Kamis, 02 Juni 2011
"RUMAH SORGAWI"
Wahyu 21:21 "Jalan-jalan kota itu dari emas murni bagaikan kaca bening."
Suatu hari seorang penambang menemukan emas dalam yang sangat banyak. Tanpa berpikir lama, emas-emas batangan tersebut dimasukan dalam sebuah tas. Setiap hari kemanapun dia pergi, tas tersebut selalu ditentengnya hingga dia meninggal dan sudah masuk ke surga. Saat penambang itu tiba di tempat barunya itu, seorang malaikat bertanya mengapa ia membawa aspal. "Ini bukan aspal," jelasnya, "Ini emas." Sang Malaikat menanggapi perkataan manusia itu dengan berkata, "Di bumi, benda itu memang disebut emas, tetapi disini, di surga, kami memakainya untuk mengeraskan jalan-jalan."
Kisah diatas memang hanya sebuah lelucon. Namun, cerita ini mengajak kita berpikir tentang apa yang kita anggap berharga, dan apa yang benar-benar berharga bagi Allah.
Dalam Wahyu 21, digambarkan bagaimana jalan-jalan di surga adalah "emas murni bagaikan kaca bening" (ayat 21). Di dunia, kita bisa menilai emas sebagai logam yang paling berharga dan menjadikannya sebagai harta milik kita yang paling berharga. Namun di surga, kita berjalan di atas emas. Sungguh kontras!
Benda apa yang Anda anggap berharga di bumi ini? Saham, rekening bank. Kekaguman dan kemasyuran diri sendiri; itu semua tidak dinilai tinggi di surga. Bila tiba waktunya untuk mengucapkan selamat tinggal di bumi, nilai apakah yang masih tertinggal pada barang-barang tersebut?
Ingat, kekayaan sejati hanya ada di surga. Harta benda duniawi yang Anda miliki saat ini sifatnya hanyalah sementara.
"Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal." (2 Korintus 4:18).
"Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yg kekal, yg tidak dibuat oleh tangan manusia.". (2 Korintus 5:1).
TUHAN YESUS MEMBERKATI
Suatu hari seorang penambang menemukan emas dalam yang sangat banyak. Tanpa berpikir lama, emas-emas batangan tersebut dimasukan dalam sebuah tas. Setiap hari kemanapun dia pergi, tas tersebut selalu ditentengnya hingga dia meninggal dan sudah masuk ke surga. Saat penambang itu tiba di tempat barunya itu, seorang malaikat bertanya mengapa ia membawa aspal. "Ini bukan aspal," jelasnya, "Ini emas." Sang Malaikat menanggapi perkataan manusia itu dengan berkata, "Di bumi, benda itu memang disebut emas, tetapi disini, di surga, kami memakainya untuk mengeraskan jalan-jalan."
Kisah diatas memang hanya sebuah lelucon. Namun, cerita ini mengajak kita berpikir tentang apa yang kita anggap berharga, dan apa yang benar-benar berharga bagi Allah.
Dalam Wahyu 21, digambarkan bagaimana jalan-jalan di surga adalah "emas murni bagaikan kaca bening" (ayat 21). Di dunia, kita bisa menilai emas sebagai logam yang paling berharga dan menjadikannya sebagai harta milik kita yang paling berharga. Namun di surga, kita berjalan di atas emas. Sungguh kontras!
Benda apa yang Anda anggap berharga di bumi ini? Saham, rekening bank. Kekaguman dan kemasyuran diri sendiri; itu semua tidak dinilai tinggi di surga. Bila tiba waktunya untuk mengucapkan selamat tinggal di bumi, nilai apakah yang masih tertinggal pada barang-barang tersebut?
Ingat, kekayaan sejati hanya ada di surga. Harta benda duniawi yang Anda miliki saat ini sifatnya hanyalah sementara.
"Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal." (2 Korintus 4:18).
"Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yg kekal, yg tidak dibuat oleh tangan manusia.". (2 Korintus 5:1).
TUHAN YESUS MEMBERKATI
Rabu, 01 Juni 2011
"Pohon Yang Tumbang Oleh Makian"
- "Pohon Yang Tumbang Oleh Makian""Orang bijak menyimpan pengetahuan, tetapi mulut orang bodoh adalah kebinasaan yang mengancam." (Amsal 10:14).
Konon Di suatu kepulauan yang berada di daerah Pasifik, ada cara unik yang dilakukan oleh penduduk setempat jika tidak bisa memotong sebuah pohon dengan kapak. Jika pohon terlalu besar untuk dipotong dengan kapak, para penduduk setempat akan memaki-maki pohon tersebut.
Seseorang yang memiliki kekuatan khusus akan memaki pohon itu dari pagi hingga senja, selama tiga puluh hari. Maka akhirnya pohon itu akan mati dan roboh dengan sendirinya. Menurut para penduduk, hal ini selalu berhasil. Secara teori mereka membunuh roh pohon tersebut.
Dari cerita di atas kita melihat bagaimana efek perkataan pada sebuah pohon? Jika pohon saja bisa mati karena dikutuki, demikian juga manusia. Banyak orang berteriak dan memaki pasangan hidupnya atau anaknya. Tidak sedikit orang yang kehilangan kesabaran ketika di jalan dan memaki pengendara lain.
Tapi semua itu adalah pilihan, seperti Tuhan katakan bahwa dari mulut kita bisa keluar berkat dan kutuk. Untuk itu pilihlah mengatakan berkat, karena perkataan Anda berkuasa. Jangan sampai kita membunuh roh orang-orang yang kita kasihi, atau malah orang yang tidak kita kenal dengan perkataan-perkataan yang buruk.
Mari kita ucapkan kata-kata yang membangun, yang menghidupkan dan memberkati orang lain, karena ketika kita menabur berkat, kita pun akan menuai berkat.
Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.
"We make a living by what we get. But, we make a life by what we give."
Kita menjalani kehidupan dgn apa yg kita dapatkan. Tetapi, kita membuat hidup dr apa yg kita berikan
TUHAN YESUS MEMBERKATI
"RUMAH SORGAWI"
Suatu hari seorang penambang menemukan emas dalam yang sangat banyak. Tanpa berpikir lama, emas-emas batangan tersebut dimasukan dalam sebuah tas. Setiap hari kemanapun dia pergi, tas tersebut selalu ditentengnya hingga dia meninggal dan sudah masuk ke surga. Saat penambang itu tiba di tempat barunya itu, seorang malaikat bertanya mengapa ia membawa aspal. "Ini bukan aspal," jelasnya, "Ini emas." Sang Malaikat menanggapi perkataan manusia itu dengan berkata, "Di bumi, benda itu memang disebut emas, tetapi disini, di surga, kami memakainya untuk mengeraskan jalan-jalan."
Kisah diatas memang hanya sebuah lelucon. Namun, cerita ini mengajak kita berpikir tentang apa yang kita anggap berharga, dan apa yang benar-benar berharga bagi Allah.
Dalam Wahyu 21, digambarkan bagaimana jalan-jalan di surga adalah "emas murni bagaikan kaca bening" (ayat 21). Di dunia, kita bisa menilai emas sebagai logam yang paling berharga dan menjadikannya sebagai harta milik kita yang paling berharga. Namun di surga, kita berjalan di atas emas. Sungguh kontras!
Benda apa yang Anda anggap berharga di bumi ini? Saham, rekening bank. Kekaguman dan kemasyuran diri sendiri; itu semua tidak dinilai tinggi di surga. Bila tiba waktunya untuk mengucapkan selamat tinggal di bumi, nilai apakah yang masih tertinggal pada barang-barang tersebut?
Ingat, kekayaan sejati hanya ada di surga. Harta benda duniawi yang Anda miliki saat ini sifatnya hanyalah sementara.
"Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal." (2 Korintus 4:18).
"Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yg kekal, yg tidak dibuat oleh tangan manusia.". (2 Korintus 5:1).
TUHAN YESUS MEMBERKATI
Kisah diatas memang hanya sebuah lelucon. Namun, cerita ini mengajak kita berpikir tentang apa yang kita anggap berharga, dan apa yang benar-benar berharga bagi Allah.
Dalam Wahyu 21, digambarkan bagaimana jalan-jalan di surga adalah "emas murni bagaikan kaca bening" (ayat 21). Di dunia, kita bisa menilai emas sebagai logam yang paling berharga dan menjadikannya sebagai harta milik kita yang paling berharga. Namun di surga, kita berjalan di atas emas. Sungguh kontras!
Benda apa yang Anda anggap berharga di bumi ini? Saham, rekening bank. Kekaguman dan kemasyuran diri sendiri; itu semua tidak dinilai tinggi di surga. Bila tiba waktunya untuk mengucapkan selamat tinggal di bumi, nilai apakah yang masih tertinggal pada barang-barang tersebut?
Ingat, kekayaan sejati hanya ada di surga. Harta benda duniawi yang Anda miliki saat ini sifatnya hanyalah sementara.
"Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal." (2 Korintus 4:18).
"Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yg kekal, yg tidak dibuat oleh tangan manusia.". (2 Korintus 5:1).
TUHAN YESUS MEMBERKATI
Selasa, 31 Mei 2011
RENCANA TUHAN INDAH
Ananias adalah seorang pengikut Yesus, salah seorang yang saleh menurut hukum Taurat. Arti nama Anannias : Yahwe adalah rahmani. Ia dikenal sangat baik di antara semua orang Yahudi (Kis. 22:12). Ia taat melakukan perintah Allah.
Saat itu Ananias memperoleh penglihatan dari Tuhan. Di dalam penglihatan itu ia ditugaskan untuk menemui Saulus di rumah Yudas, di sebuah jalan yang bernama Jalan Lurus. Diberitahukan juga bahwa Saulus saat itu tengah berdoa di rumah tumpangannya.
Saulus pun diberikan Tuhan penglihatan. Dalam penglihatan itu Saulus dipersiapkan untuk menunggu kedatangan Ananias. Pertanyaan yang muncul kemudian, bagaimana reaksi dan jawaban Ananias atas penugasan Tuhan ini? Ternyata Ananias tidak begitu saja pergi kepada Saulus. Ia tahu betul siapa yang akan didatanginya seorang musuh yang sangat berbahaya.
Mendengar tentang Saulus, Ananias menjadi sangat takut. Demikian pula seluruh jemaat. Ananias pun ragu-ragu sehingga ia mengemukakan berbagai alasan. Menolong seseorang yang kita takuti dan benci, memang sangat berat. Ini adalah fakta!
Tetapi bagaimana ia dapat menolak sebab Tuhan-lah yang telah menyuruhnya. Bagi Tuhan, "masa depan" Saulus yang utama dan bukan "masa lalunya". Ananias harus sadar bahwa dirinya dipakai dan dipilih oleh Tuhan menjadi alat ditangan-Nya. Tuhan sendiri menghapus semua keraguan Ananias (ay. 16). Tuhanlah yang menuntun kita dalam melakukan penilaian dan pengambilan keputusan-Nya. Bersyukurlah kepada-Nya, bila ia berkenan memakai kita sebagai alat di tangan-Nya untuk melaksanakan rencana-Nya yang indah itu.
Bacaan diambil dari Kitab Kisah Rasul 9 : 10-14
Salam sejahtera didalam Tuhan kita "Yesus Kristus"
Saat itu Ananias memperoleh penglihatan dari Tuhan. Di dalam penglihatan itu ia ditugaskan untuk menemui Saulus di rumah Yudas, di sebuah jalan yang bernama Jalan Lurus. Diberitahukan juga bahwa Saulus saat itu tengah berdoa di rumah tumpangannya.
Saulus pun diberikan Tuhan penglihatan. Dalam penglihatan itu Saulus dipersiapkan untuk menunggu kedatangan Ananias. Pertanyaan yang muncul kemudian, bagaimana reaksi dan jawaban Ananias atas penugasan Tuhan ini? Ternyata Ananias tidak begitu saja pergi kepada Saulus. Ia tahu betul siapa yang akan didatanginya seorang musuh yang sangat berbahaya.
Mendengar tentang Saulus, Ananias menjadi sangat takut. Demikian pula seluruh jemaat. Ananias pun ragu-ragu sehingga ia mengemukakan berbagai alasan. Menolong seseorang yang kita takuti dan benci, memang sangat berat. Ini adalah fakta!
Tetapi bagaimana ia dapat menolak sebab Tuhan-lah yang telah menyuruhnya. Bagi Tuhan, "masa depan" Saulus yang utama dan bukan "masa lalunya". Ananias harus sadar bahwa dirinya dipakai dan dipilih oleh Tuhan menjadi alat ditangan-Nya. Tuhan sendiri menghapus semua keraguan Ananias (ay. 16). Tuhanlah yang menuntun kita dalam melakukan penilaian dan pengambilan keputusan-Nya. Bersyukurlah kepada-Nya, bila ia berkenan memakai kita sebagai alat di tangan-Nya untuk melaksanakan rencana-Nya yang indah itu.
Bacaan diambil dari Kitab Kisah Rasul 9 : 10-14
Salam sejahtera didalam Tuhan kita "Yesus Kristus"
Langganan:
Postingan (Atom)