====================
"Orang asing janganlah kamu tekan, karena kamu sendiri telah mengenal keadaan jiwa orang asing, sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir."
Salah
satu pekerjaan saya adalah mengajar di sebuah kursus desain. Ada yang
jangka waktu belajarnya 6 bulan, ada yang hanya sebulan, dan ada pula
yang intensif dalam seminggu. Dalam waktu sesingkat itu, saya pun harus
membuat siswa siswi dapat beradaptasi dengan cepat. Kenapa demikian?
Karena saya akan lebih mudah mentransfer ilmu jika mereka sudah
benar-benar "in" dan merasa nyaman. Umumnya kursus, tingkatan
usia pun beragam, mulai dari remaja sampai orang yang sudah tua. Latar
belakang pendidikan mereka juga beragam, ada yang dari SMU, ada yang
sedang atau baru lulus kuliah, ada yang sudah bekerja dengan berbagai
profesi. Sebut saja dokter, pegawai kantoran sampai penyanyi dangdut.
Latar belakang yang berbeda-beda ini tentunya memerlukan pendekatan yang
berbeda pula. Semua itu harus cepat saya lakukan, karena masa belajar
mereka sangat singkat. Selama beberapa tahun berada dalam kondisi
seperti itu, saya terbiasa untuk melakukan proses adaptasi dalam waktu
sangat singkat. Karenanya untuk masa matrikulasi atau penyesuaian dasar
untuk mengikuti pendidikan pun seringkali ditugaskan pada saya, meskipun
pada kelas yang bukan bidang saya. Intinya, bagaimana saya bisa membuat
mereka tidak lagi merasa asing dengan lingkungan pendidikan mereka yang
baru, dan bagaimana memotivasi mereka agar mereka dapat mengikuti
pelajaran dengan lebih bersemangat. Ada yang mudah karena orangnya
nyantai atau humoris, ada pula yang susah karena orangnya tertutup,
merasa rendah diri, segan dan lain-lain. Salah satu metode awal yang
saya lakukan adalah menghafal nama mereka satu persatu, dan umumnya
mereka akan lebih cepat akrab dan merasa nyaman jika mereka mengetahui
bahwa pengajar mereka mengenal nama mereka. Pola pendekatan lain
tergantung apa yang saya baca dari pribadi masing-masing, dan semuanya
harus cepat saya lakukan agar tidak ada waktu terbuang.Dalam dunia pekerjaan, pendidikan dan lingkungan tempat tinggal kita akan selalu berhadapan dengan pendatang baru. Banyak di antara pendatang baru mendapatkan bentuk diskriminasi sampai intimidasi. Salah seorang teman saya pernah hanya bertahan seminggu di sebuah perusahaan karena menurutnya dia tidak dipedulikan teman-teman sekerjanya. Tidak pernah membalas sapa, membuang muka, dan memprotes apapun yang ia kerjakan. Bentuk-bentuk perlakuan seperti ini akan terus terjadi di berbagai tempat pada pendatang baru. Kita sebagai anak-anak Tuhan jangan sampai ikut-ikutan seperti itu. Ketika orang masih merasa asing pada sebuah lingkungan, kita seharusnya mengulurkan tangan menyambut dan membuat mereka merasa nyaman. Musa dalam beberapa kesempatan mengingatkan kita akan hal tersebut, seperti yang bisa kita baca dalam Keluaran 23:9 mengenai peraturan hak manusia, dalam Keluaran 22:21 mengenai peraturan menghadapi orang yang tidak mampu, juga dalam Imamat 19:33-34. Musa mengingatkan umat Israel pada waktu itu untuk tidak menindas, justru harus mengasihi orang asing karena mereka pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi orang asing di Mesir. Dalam Imamat 19:33-34 tertulis "Apabila seorang asing tinggal padamu di negerimu, janganlah kamu menindas dia.Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu." Ini sebuah peraturan yang mengharuskan kita untuk mengasihi dan memperlakukan orang asing sama seperti yang kita buat terhadap diri sendiri.
Sebagaimana dua hukum terutama yang diajarkan Yesus, kita harus mengasihi orang lain seperti kita mengasihi diri kita sendiri, termasuk pada orang asing. Hindari pemikiran kaum mayoritas vs kaum minoritas, hindari bentuk-bentuk diskriminasi, hindari pemikiran bahwa kita berkuasa lebih atas mereka hanya karena mereka masih asing dalam lingkungan kita. Sebagaimana Yesus mengasihi kita, seperti itu pula kita harus mengasihi orang lain. "Dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah." (Efesus 5:2). Tuhan ingin anak-anakNya tampil beda,tidak serupa dengan dunia ini, dan hidup dengan kemampuan mengetahui apa yang baik dan berkenan di hadapan Allah. (Roma 12:2). Ketika ada orang asing atau pendatang baru yang masuk ke dalam kehidupan kita, sapalah mereka, ucapkan selamat datang dan bantu mereka untuk bisa merasa nyaman.
Hindari bentuk penindasan dan bagikan kasih kepada orang lain, seperti kita dipenuhi kasih Kristus
GBU ALL...
Bagi penggemar band kristen tentu sudah tidak asing lagi dengan band GMB (Giving My Best).
Mereka sudah memberkati begitu banyak orang dalam perjalanan mereka.
Beberapa bulan yang lalu penggemar mereka dikejutkan dengan mundurnya
Sidney Mohede sang vokalis. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata
posisinya digantikan Bams, vokalis band Samsons. Munculnya
suara pro dan kontra tidak terelakkan. Sebagian orang menganggap
reputasi Bams selama ini tidaklah cukup untuk menduduki posisi dalam
sebuah band sekelas GMB. Mereka melihat Bams sebagai sosok selebritis
yang kehidupannya tidak mencerminkan seorang anak Tuhan yang baik. Sulit
dibantah memang, karena saya pernah beberapa kali melihat gaya hidup
dan wawancara Bams di infotainment yang membuat saya pun sempat ragu.
Bagaimana
defenisi musuh bagi anda? Bagi sebagian besar orang, musuh berarti
seseorang yang dibenci, mungkin karena menyebabkan kerugian, sakit hati,
kekecewaan dan lain-lain. dan karenanya mereka ini tidak pada tempatnya
diampuni, apalagi dikasihi. Dalam sebuah acara siraman rohani saudara
kita yang berlainan keyakinan di radio, seorang guru agama menjelaskan
perbedaan antara lawan dan musuh. Lawan adalah kompetitor yang
dibutuhkan, seseorang yang berbeda pendapat dengan anda dan sebagainya.
Sedang musuh adalah seseorang yang harus diperangi, dihancurkan,
dimusnahkan. Mungkin pola pikir duniawi pun demikian, karena seorang
musuh telah menyebabkan kerugian atau kekecewaan yang tidak sedikit.
Mengasihi orang yang memang kita kasihi, membalas kebaikan dengan
kebaikan tidaklah sulit. Tapi ajakan mengasihi musuh, ini sebuah ajakan
yang bisa kita anggap aneh dan umumnya sangat sulit untuk dilakukan.
Jika
anda ditanyakan sebuah pertanyaan yang sama sebanyak tiga kali
berturut-turut apa yang anda rasakan? Ada yang mungkin kesal, ada yang
sedih karena merasa apa yang ia jawab tidak cukup meyakinkan untuk dapat
dipercaya dan sebagainya. Umumnya sebuah pertanyaan yang diulang-ulang
bermaksud untuk meyakinkan si penanya terhadap jawaban yang ia terima.
Saya membayangkan seandainya saya ditanya oleh istri saya tiga kali
berturut-turut, saya mungkin menduga bahwa ada yang ia curigai dari
saya. Sebuah kejadian yang mirip terjadi beberapa saat sebelum Yesus
naik ke surga. Yesus menanyakan apakah Petrus mengasihiNya sebanyak tiga
kali, dan tiga kali pula Petrus menjawab, Engkau tahu, aku mengasihi
Engkau. Respon Yesus selanjutnya pada semua jawaban Petrus adalah,
"gembalakanlah domba-dombaKu". Apakah Yesus meragukan Petrus mengasihi
diriNya? tidak. Pertanyaan yang diulang-ulang itu bukanlah untuk
diriNya, melainkan untuk Petrus. Yesus tidak menanyakan apakah Petrus
mengasihi domba-dombaNya, tapi apakah Petrus mengasihi Yesus. Dia
melakukannya untuk menggarisbawahi bahwa kasih kepada Kristus yang
sungguh-sungguh lah yang memampukan Petrus untuk terus melayani dan
menyelamatkan banyak jiwa, yang sesungguhnya bukan pekerjaan yang mudah.
Seorang
jaksa yang terlibat kasus korupsi baru-baru ini menangis di persidangan
ketika tengah membacakan pledoi di hadapan majelis hakim Pengadilan
Tindak Pidana Korupsi. Dia dituntut hukuman 15 tahun, tuntutan yang
membuatnya syok hingga tidak bisa makan dan tidur. Dia pun menangis
membayangkan bagaimana nasib istri dan anak-anaknya jika ia harus
dipenjara selama 15 tahun. Baginya hukuman 15 tahun itu sama saja dengan
hukuman mati bagi anak-anak, istri, orang tua dan mertuanya. "Bagaimana nasib kedua anak saya yang masih balita, dan yang akan lahir.."
katanya. Istri sang jaksa memang tengah hamil tua. Anehnya, walaupun
jelas-jelas terbukti korupsi, ia masih menganggap hukumannya tidak adil.
Lho, apakah ketika melakukan korupsi dia tidak memikirkan bahwa hal
tersebut tidaklah adil bagi masyarakat umum? Mendapatkan uang dengan
cara kotor kini membawa konsekuensi serius tidak saja bagi dirinya
sendiri, tapi bagi keluarganya. Vonis sudah dijatuhkan bagi dirinya,
yang ternyata lebih berat dari tuntutan diatas. Dia akhirnya mendapat
vonis 20 tahun penjara. Saya membayangkan keluarganya akan sulit hidup
normal sebagai keluarga koruptor. Bentuk hukuman dari penilaian
masyarakat dalam gerak gerik mereka sehari-hari akan sangat menyakitkan.
Ketika mungkin tadinya ia membayangkan bahwa uang yang ia peroleh dapat
membuat dia tertawa terbahak-bahak kini berubah menjadi syok, ratapan
kesedihan yang tak kunjung usai.
A
baru saja naik jabatan. Dia pun mendapatkan banyak hadiah. B, teman A,
juga memberi hadiah. Karena kesibukannya,A lupa mengirimkan kartu ucapan
terima kasih kepada B, atau sekedar telepon. B terus menunggu tanggapan
dari A, tapi tanggapan itu tidak pernah datang, meskipun mereka
berulang kali bertemu setelahnya. Seiring waktu berjalan, ternyata B
merasa tersinggung karena pemberiannya seolah-olah tidak mendapat
tanggapan dan merasa tidak dihargai. B merasa disisihkan, karena hadiah
pemberiannya tidak mendapat balasan sesuai yang ia harapkan.
Dalam salah satu episode Kick Andy!
yang saya tonton, Nugie mendapat kejutan dengan hadirnya sang ibu tanpa
ia ketahui. Dia bergegas menyongsong sang ibu yang kelihatan agak sulit
berjalan, tangannya lalu menopang dan membimbing ibunya ke bawah.
Kemudian terdengar suara Nugie yang bertanya, "tadi kan kita teleponan, kok nggak cerita sih mau kesini..?"
sambil diselingi tawa gembira. Kemudian si ibu diwawancarai singkat,
apakah ia bangga punya anak seperti Nugie, dan si ibu menjawab, "sangat bangga..".
Nugie kemudian memeluk dan mencium ibunya. Ibu Nugie layak bangga,
sangat layak. Di saat begitu banyak selebritis yang terjatuh akibat
obat-obatan dan dosa lain, anaknya tidak ikut terjebak dan malah tampil
sebagai sosok pecinta lingkungan hidup. Di saat banyak selebritis yang
terlalu sibuk bekerja hingga melupakan orang tuanya, anaknya tetap dekat
padanya. Saya berpikir, ada berapa banyak orang tua saat ini yang
merasa kesepian karena anak-anak mereka semua terlalu sibuk bekerja dan
tidak punya waktu mengunjungi mereka, meluangkan waktu untuk
bersama-sama dengan mereka. Orang tua membesarkan anak-anak mereka, dan
berjuang habis-habisan agar anak mereka bisa berhasil membangun karir,
tapi kemudian karena karir pula mereka tidak lagi punya waktu luang.
Coba tanyakan kepada para orang tua yang kesepian, apakah yang mereka
butuh, kemewahan harta benda dari sang anak, atau waktu-waktu indah
bersama anak-anaknya. Mungkin, dan saya yakin, orang tua akan sangat
rindu memeluk anaknya seperti dulu ketika mereka kecil.